<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512</id><updated>2011-12-21T08:08:44.052-08:00</updated><category term='tradisi menulis'/><category term='tradisi islam'/><category term='tradisi sastra'/><category term='tradisi berpikir'/><title type='text'>www.malikmughni.co.cc</title><subtitle type='html'>Teduhkan Hati, Cerahkan Fikir!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>75</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6455615565781787321</id><published>2011-02-07T21:09:00.001-08:00</published><updated>2011-02-07T21:09:56.059-08:00</updated><title type='text'>Vigilante Tanggungjawab Siapa?</title><content type='html'>Tragedi kemanusiaan -yang direkayasa- atasnama agama kembali terjadi di negeri ini. Kali ini 6 warga Jemaat Ahmadiyah –Faksi Qadiyani- Indonesia di Cikeusik (JAI). Ironisnya, tragdei itu berlangsung, di saat para tokoh agama nasional mengadakan pekan kerukunan umat beragama di Jakarta. Kejadian yang konon terjadi karena provokasi itu, seharusnya menampar eksistensi para tokoh agama, juga mempermalukan Forum Kerukunan Umat Beragama, yang kini telah dibentuk di setiap daerah di negeri ini. &lt;br /&gt;Menurut data Setara Institute, penyerangan terhadap JAI selama tiga tahun terkahir (sejak tahun 2009) telah mencapai 84 kasus. Hal itu belum ditambahkan dengan berbagai kekerasan atasnama agama yang dilakukan Vigilante atau kelompok yang bergerak dengan cara sendiri  di luar hukum terhadap berbagai komunitas lain di negeri ini.&lt;br /&gt;Secara historis, Vigilante (sebuah istilah yang dipopulerkan Setara Institute dalam menyebut kelompok radikal yang gemar melakukan kekerasan tanpa mengindahkan kaidah hukum yang berlaku)  menjadi problem yang terus menghantui kehidupan beragama sejak dikawinkannya kepentingan politik dengan ambisi fanatik kaum agamawan (baca; Theokrasi).&lt;br /&gt;Sejarah perpolitikan di berbagai Negara di dunia ini, tak pernah sepi dari cerita tentang gigihnya kaum vigilante dalam memaksakan keyakinannya, dan mereduksi nilai-nilai agama, sebagai pembenar bagi ambisi politik kelompok agama dalam menyeragamkan keyakinan. Dalam sejarah islam tercatat kerasnya pertarungan ideologis kaum Khawarij, Mu’tazilah, Syi’ah, dan Sunni, serta berbagai kelompok sempalan di dalamnya yang kerap menahbiskan diri sebagai  golongan terbenar. Hal sama juga terjadi dalam sejarah agama Kristen, Hindu, Budha, maupun Yahudi. Semua itu bermula dari fanatisme dan ambisi politik untuk menjadi kelompok yang berkuasa.&lt;br /&gt;Di Indonesia, yang mayoritas warganya menganut agama Islam, banyak tersiar kabar tentang tindak kekerasan yang dilakukan Vigilante muslim. Riset dari beberapa lembaga kajian sosial dan keagamaan menunjukkan adanya peningkatan jumlah kekerasan yang dipicu oleh isu agama. Setara Institute melansir jumlah kekerasan mengusung agama pada tahun 2010 telah terjadi sebanyak 286 kali di negeri ini. Pelanggaran kebebeasan beragama itu cenderung meningkat disbanding tahun 2009 yang menurut Setara Institute terjadi 17 kasus. Sementara pada tahun 2008, The Wahid Institute melansir 59 kasus kekerasan yang dilakukan organisasi masyarakat tertentu, dengan dalih agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Tokoh Agama Terhadap Vigilante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di indonesia, tingginya jumlah kasus kekerasan atas nama agama di negeri ini, banyak dipersalahkan kepada pemerintah yang dianggap tak tegas dalam menindak prilaku premanisme kelompok dan anaskhisme kaum vigilante. Namun benarkah hal ini sepenuhnya hanya menjadi tanggung jawab pemerintah? Sebab selama ini, seperti diketahui di lapangan, beberapa tokoh agama (bahkan yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama) juga kerap melakukan provokasi, dan cenderung membiarkan ummatnya melakukan kekerasan terhadap kelompok agama lain.&lt;br /&gt;Berikut ini akan saya urai beberapa pengalaman pribadi saya seputar kemajemukan kelompok beragama di negeri ini.&lt;br /&gt;1). Menjelang tahun baru 2011 lalu, seorang khatib jumat di sebuah masjid di daerah Karawang mengurai tentang tasyabbuh atau meniru-niru kaum lain sebagai dalil untuk melarang perayaan tahun baru, dan ucapan selamat natal bagi jamaahnya. Lebih lanjut, ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa merujuk pada hadist dan Al-Qur’an dalam menjalankan roda kehidupan. Dengan menyitir hadist bid’ah, ia juga menyindir perayaan hari besar islam yang marak di Indonesia, yang menurutnya juga menyimpang dari ajaran Nabi.&lt;br /&gt;2). Di lain waktu, di sebuah majelis ta’lim di Karawang, seorang ustadz begitu menggebu menerangkan dalil-dalil tentang perayaan maulid, dan tradisi tahlil di Indonesia. Ia juga meminta jamaahnya berhati-hati terhadap kelompok lain dalam Islam, yang kerap mengajak pada tindakan radikal dan terorisme. Fenomena usang yang terjadi sejak akhir abad ke-19 itu ternyata masih marak terjadi di daerah. Klaim kebenaran sepihak, dan menganggap pihak lain yang tak sepaham sebagai musuh yang harus diwaspadai, masih mengakar di benak para pendakwah lokal.&lt;br /&gt;3). Hal sama juga terjadi di Serang, Banten. Dalam sebuah pengajian umum yang digelar di area makam kasultanan Banten, seorang tokoh agama nasional yang kini dipenjara karena tuduhan terorisme, dengan lantang menyuarakan permusuhan terhadap aparat pemerintah. Ia bahkan menuding tokoh islam lain sebagai kafir, antek yahudi, dan menilai para aparat pemerintah baik di kepolisian, militer, maupun di sector sipil, sebagai kaum murtadin.&lt;br /&gt;Pandangan tersebut kemudian diamini oleh tokoh agama local Serang. Dalam sebuah wawancara dengan ketua Kenadziran Makam Kasultanan Banten[1], penulis sempat mendapat tudingan sebagai pemecah belah umat, karena ia menilai media sebagai biang kerok dari ditangkapnya tokoh panutan sang ketua kenadziran (lihat www.bantenrayapost.co.cc, tanggal 27 Mei 2010).&lt;br /&gt;4). Di lain waktu, masih di Serang, seorang ketua organisasi masyarakat (ormas) Islam meminta bantuan penulis untuk mewacanakan gerakan anti pendirian gereja di Serang Timur. Ia pun menggerakkan kadernya di kampus untuk melakukan aksi penutupan sebuah gedung olahraga, yang disinyalir kerap dijadikan tempat kebaktian umat kristiani. Sang ketua ormas berdalih, aksi yang ia gerakkan adalah untuk meminimalisir konflik dan kekerasan yang akan dilakukan masyarakat.&lt;br /&gt;5). Aksi penentangan pendirian gereja juga pernah dilakukan mahasiswa di Kota Cilegon, Banten.  Dengan dukungan anggota DPRD setempat, aksi tersbut berhasil menutup sebuah studio musik yang disinyalir kerap dijadikan tempat latihan kebaktian pelajar setempat.&lt;br /&gt;Di lain pihak, seorang anggota DPRD Banten beragama Kristen sempat mengeluhkan maraknya aksi-aksi tersebut, sebagai tindakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Ia yang dikenal kritis kemudian menggalang gerakan tersendiri di kalangan mahasiswa Banten untuk mengkritisi pemerintah. Ia juga rajin menyambangi kantung-kantung kemiskinan di Banten untuk memberi bantuan sosial. Celakanya, sikap kritis dan dermanya dianggap sebagai upaya missionaris oleh anggota DPRD Banten lainnya yang berstatus muslim.&lt;br /&gt;6). Beberapa media Islam juga tak pernah bosan mengungkap pentingnya kewaspadaan umat islam terhadap bahaya kristenisasi, dan tak pernah berhenti menebar wacana anti pluralisme, sekularisme, dan liberalisme yang kerap mereka akronimkan menjadi sepilis. Sikap-sikap semacam itulah yang telah menyuburkan permusuhan di kalangan anak bangsa, dan melahirkan tindakan-tindakan kekerasan yang melanggar hukum. Dalil-dalil keagamaan kerap dijadikan pembenar bagi tindakan anarkhisme ummat.&lt;br /&gt;7). Seorang jemaat Gerakan Ahmadiyah Indonesia –Faksi Lahore- (GAI) di situs pertemanan FB sempat berbagi pengalaman kesehariannya di GAI, dalam berhubungan dengan umat beragama lain, uatamanya dengan umat islam di daerah Jogjakarta. Menurutnya, problem yang terjadi dalam berbagai kasus yang menimpa JAI, banyak terjadi pasca Reformasi. Setelah munculnya berbagai kelompok radikal yang menamakan diri sebagaqi pembela Islam. Perselisihan paham  antara jamaah Ahmadiyah dengan kelompok Islam lain, menurutnya sudah terjadi, dan agak mencuat dengan munculnya fatwa MUI I tahun 70-80an. Tapi hal itu tidak sampai berujung pada tindak kekerasan. Masih dalam tataran dialogis. Sampai era Refomasi, sejak munculnya banyak model ormas semacam Front Pembela Islam, proses itu membrutal dalam bentuk tindak kekerasan seperti yang terjadi sekarang ini.&lt;br /&gt;Dari berbagai cerita tersbut dapat disimpulkan bahwa Vigilante terjadi akibat adanya provokasi yang dilakukan oleh sebagian tokoh agama, dan kian mencuat pasca Reformasi, setelah bebeberapa tokoh agama membentuk organisasi masyarakat bertajuk Islam, dan melakukan kaderisasi secara massif. Mereka melakukan indoktrinasi terhadap kalangan anak-anak muda yang sedang bersemangat untuk mempelajari agamanya. Berbagai ajaran berbau superioritas kelompok, dan kebencian terhadap kelompok lain menjadi menu utama dalam berbagai kajian mereka.&lt;br /&gt;Kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa.&lt;br /&gt;Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.&lt;br /&gt; Meski di negeri ini telah ada berbagai instrumen hukum yang melindungi kehidupan beragama seperti UUD 1945, UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Deklarasi Internasional tahun 1981 tentang Penghapusan Segala Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi Atas Nama Agama, tetapi instrumen itu hanya menjadi bahan kajian lembaga-lembaga tertentu saja. Di lapangan, ummat disuguhi doktrin kebenaran subyektif yang memicu pada rasa superior dan kebencian terhadap kelompok lain.&lt;br /&gt;Meski telah dibentuk FKUB dan berbagai forum kerukunan lain, tak berguna rasanya jika kelompok-kelompok pendoktrin kebenaran subyektif dibiarkan menebar kebencian di hati masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Wawancara dilakukan semasa penulis berkarier sebagai Wartawan Banten Raya Post,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6455615565781787321?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6455615565781787321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6455615565781787321&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6455615565781787321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6455615565781787321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2011/02/vigilante-tanggungjawab-siapa.html' title='Vigilante Tanggungjawab Siapa?'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1647587361928759730</id><published>2011-01-24T05:19:00.001-08:00</published><updated>2011-01-24T05:19:46.564-08:00</updated><title type='text'>Negara Bebas Pungli *</title><content type='html'>Negara Bebas Pungli *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari libur,  Kawasan Wisata Waduk Walahar Karawang selalu ramai dikunjungi warga. Bendungan besar peninggalan Belanda yang dibangun di pada masa Jenderal Daendles itu memang menawarkan pemandangan eksotis. Dan di setiap keramaian di negeri ini, kita akan melihat puluhan bahkan ratusan pedagang berjejer menjajakan barang dagangannya. Kita juga akan dengan mudah melihat pengemis, preman, dan petugas perangkat pemerintahan desa, maupun kabupaten melakukan pungutan liar. Para pengunjung yang memarkirkan kendaraan, atau sekedar nongkrong di bantaran irigasi, dan para pedagang yang menjaring sedikit keuntungan di sana sudah mafhum dengan berbagai pungutan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda hendak ikut berdagang di sana, maka siapkan  infak sedikitnya Rp 50.000. Untuk membayar retribusi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Rp 1000; untuk Pemberdayaan Pemuda Desa sebesar Rp 2000; untuk kebersihan Rp 1000; uang Keamanan Rp 1000; untuk sewa tempat pada penduduk setempat Rp 10.000; untuk sewa bale Rp 10.000; juga untuk parkir Rp 2000. Belum lagi untuk para pengemis dan pengamen yang setiap sepuluh menit sekali, akan menghampiri anda secara bergantian. Jadi kalau durasi berdagang anda di tempat itu adalah delapan jam, maka sediakan uang receh Rp 500, sebanyak Rp 24.000.    &lt;br /&gt;Berbagai pungutan yang tiada henti juga menghantui para pedagang kecil di [pasar Johar. Herannya, pungutan bertajuk retribusi, dan pajak dagang itu, tak jelas kemana rimbanya. Sebab nyatanya dalam proyek renovasi pasar yang sedang berlangsung, pemerintah mengaku tak punya modal, dan meminta pedagang untuk membiayai proyek renovasi yang dikerjakan oleh pihak ke tiga itu, dengan dalih dana investasi dan angsuran pembelian kios baru sebesar 30 persen dari harga kios (harga kios di sini Rp 90 juta, maka setiap pedagang harus membayar dp sebear Rp 30 juta untuk mendapatkan kembali kiosnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Korup, Rakyatnya Mengemis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kita memang sangat bijaksana dalam memberi kemerdekaan penuh bagi para preman dalam  mencari penghidupan yang layak dengan jalan pintas. Mengemis dan memalak adalah kreatifitas tertinggi di negeri ini. Dan kita pun tahu, birokrasi kita juga tak pernah sepi dari praktik premanisme itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Pungli yang mengakar membuat struktur ekonomi kita morat-marit. Tak ayal praktik pungli pun dilakukan rakyat kecil, dengan cara mengemis atau memalak. mengemis itu, tak cuma dilakukan para jompo, atau mereka merasa bisa menjual kecacatan fisik. Anak- anak juga kini dengan enjoy melakukannya.&lt;br /&gt; Tak terkecuali dengan Arifin (7) pelajar di salah satu SD negeri di Cikampek Karawang. Bersama Ahmad (50) ayah kandungnya, Arifin sejak setahun lalu, tak lagi menikmati masa bermainnya. Karena setiap hari, ia harus rela meluangkan waktunya untuk menjadi penghibur keliling, dengan menampilkan tari jaipong, bersama ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menari, ia  terbiasa mendapat lirikan tak sedap dari anak-anak sebayanya. Bak topeng monyet, Arifin ditertawakan setiap ia menyuguhkan tarian sederhana, di tengah keramaian. Dengan dandanan ala sinden, dan make up wajah alakadarnya, tak ada yang menyangka jika Arifin adalah anak lelaki. “Sungguh, ia ini lelaki. Saya sengaja mendandaninya agar menarik. Kami terpaksa melakukan ini, karena saya kesulitan mencari uang,” kata Ahmad (60) ayah Arifin, seraya membuka rok Arifin, dan menunjukkan kelamin anaknya kepada saya.&lt;br /&gt;Saat diwawancara, Ahmad bersama anknya baru usai mengamen di kawasan wisata Waduk Walahar Karawang, Minggu (23/1) lalu. “Walaupun banyak pengunjung, hari ini kami cuma dapat Rp 20.000. gak banyak yang ngasih,” keluh Ahmad, yang mengaku tinggal di Gg Keling, Kampung Cijalu, Cikampek Karawang itu. Karenanya, setelah makan siang di warung setempat, ahmad juga berkeliling ke rumah-rumah penduduk di sekitar kawasan wisata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya, Ahmad yang mengaku ditnggal istrinya sejak tuuhtahun lalu, tak mengerti tentang pentingnya perlindngan dan pendidikan mental anaknya. “Yang penting kami bisa makan. Saya sudah bingung nyari makan dengan cara apalagi. Saya ini ditinggal istri saya sejak anak ini lahir. Istri saya jadi TKW di Arab, tapi tak pernah ngasih kiriman. Sebelumnya saya dagang asongan di kereta. Tapi untungnya sedikit. Dan anak saya ini tak bisa ditinggal. Maka tahun lalu saya beli tape boks, dan mulai ngamen keliling Karawang,” tutur Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutanya Arifin, malukah ia menjadi pusat perhatian setiapkali mengamen. Dengan lantang ia mngatakan tidak. “Gak papa ya nak, yang penting kamu bisa jajan,” ujar Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perbincangan kami, lewat seorang pengamen waria, dan menyapa Arifin, ia kelihatan gemas dan mencubiti pipi Arifin. Aku pun bertanya pada Ahmad, apa ia menginginkan anaknya kelak menjadi pengamen waria? “Ya gak mau lah mas. Ngamen ini juga akan saya hentikan kalau Arifin sudah kelas dua SD. Saya gak mau begini terus,” kata Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan serupa kusampaikan pada Arifin, dengan penuh semangat anak kecil itu mengangguk. Spontan Ahmad menolak keinginan sang anak. “Jangan nak. Kamu lelaki, jangan jadi banci,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kupaparkan tentang pentingnya pendidikan mental anak sejak dini. Jika sekarang anaknya diajarkan menjadi pengamen, maka bukan tak mungkin jika mengamen menjadi profesi favorit sang anak. Dan karena sekarang sang ayah mengajarkan anaknya untuk jadi Waria, maka wajar jika anaknya ingin menjadi Waria jika dewasa kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad menangis. “Sungguh saya gak ingin anak saya seperti itu. Saya berjanji akan berhenti mengamen semacam ini. Saya akan kembali berdagang,” janjinya, seraya bercerita bahwa anaknya yang pertama kini telah menjadi montir, tetapi karena masih bujangan, sang anak kurang peduli terhadapnya, meski mereka tinggal serumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya anak saya yang besar sudah kerja. Memang sebulan sekali dia ngasih duit Rp 100 ribu sampai 200 ribu rupiah. Tapi uang segutu mana cukup buat makan dan beli alat sekolah anak saya. Tapi saya janji gak akan begini lagi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bertutur tentang pentingnya harga diri. Bahwa di jaman sesulit ini, kita memang perlu banyak bersabar, dan pentingnya harga diri, meskipun miskin. Terlebih ketika ia mengaku sebagai seorang muslim, kuurai perintah nabi tentang tanggung jawab orang tua. Ahmad kembali menangis. “Terimakasih mas, sudah menyadarkan saya. Saya berjanji gak ingin begini lagi.”&lt;br /&gt;Akupun pamit sambil menyelipkan dua lembar uang ribuan di kantong sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Terlantar dan Proyek Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di kawasan yang sama, aku bertemu dengan seorang pedagang sandal ban. Ia yang memperkenalkan diri sebagai Arifin (45), mengaku punya keprihatinan yang sama. “Tapi kita Cuma bisa memelas mas. Sebab kita sendiri pun belum kokoh. Kita hanya bisa membantu mereka ala kadarnya, tanpa bisa mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan. Saya sendiri kini sedang kesulitan membiayai kuliah anak saya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa tertampar dengan ucapannya. Meski ia tak mendengar perbincanganku dengan sang pengamen, tapi ia tahu aku bersikap sok peduli. Kemudian Arifin sang pembuat sandal ban bercerita tentang pengalaman hidupnya dalam berupaya mengasuh anak-anak terlantar. “Dulu saya mengasuh ratusan anak yatim. Tapi panti asuhan itu kini tak berfungsi setelah dikhianatai para pengurusnya. Dan yang berkhianat itu justru mereka yang status sosial dan ekonominya lebih terhormat dari saya. Mereka yang PNS,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali ia mencoba membangun perdaban lewat panti asuhannya. Tapi selalu dikhianati para oknum pegawai pemerintahan. “Kami pernah mendapat bantuan dari lembaga donor. Tapi kemudian Aparat dari Departemen sosial minta jatah yang tak sedikit. Pernah juga ada donatur yang menyumbang lewat pengurus yang PNS, tapi dana sumbangan itu dikorup. Saya yang kenal dengan para donatur jadi gak enak hati,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak itu, Ia memutuskan untuk menguatkan dirinya terlebih dahulu. “Jika saya sudah benar-benar kokoh, saya berniat kembali mengasuh ana-anak yatim. Saya ingin tebus kesalahan-kesalahan saya yang lalu. Saya memang pernah brengsek, tapi mudah-mudahan Tuhan mendengar taubat saya ini,” harapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari Walahar, aku melihat catatan dagangku hari itu. Di siang yang mendung itu, aku menjual 2 handuk dan satu sajadah, semuanya bernilai Rp 65 ribu, dengan keuntungan per potong Rp 5000. Dan setelah dipotong dengan berbagai pungutan yang ada, sore itu aku mengantongi uang sebesar Rp 20.000. Aku tersenyum kecut, sambil berpikir tentang besarnya potensi anak-anak terlantar itu, jika disatukan dalam wadah gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku jadi teringat dengan obrolanku bersama seorang pengurus Gabungan Anak Jalanan (GAJA) dan penggerak sosial di Karawang dan Banten. Mereka terjun mengorganisir anak jalanan dengan tujuan sosial. Tapi kemudian terbentur dengan minimnya perhatian pemerintah. “Maka kami buat tempat-tempat singgah sebagai kantung gerakan anak jalanan. Agar sekali waktu kita bisa berkumpul dan berdiskusi,” ujar Agung, Ketua Gaja Karawang, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya tentang target gerakan untuk menghentikan anak-anak dari usaha tak layak di jalanan, Agung mengaku tak punya targetan ke sana. Sebab anak-anak jalanan itu terbiasa hidup bebas, dan telah mengenal nikmatnya hidup di jalanan. Lantas apa fungsi Gaja selain mengorganisir mereka, dan meminta donasi dari para dermawan? Setidaknya bisa buat mengkat tali kekeluargaan dianatra anak jalanan, jawabnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak Anak yang Terabaikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belum habis waktuku buat memikirkan kegilaan pemerintah ini, aku dikejutkan oleh sapaan Lala (9) salah satu anak tetangga yang mengaji di majelis peninggalan ayah. “A meser gorengan teu,”. Anak yang cukup cerdas saat mengaji itu, meluangkan waktunya buat mengasong gorengan, berkeliling pasar. Dan di pasar yang sama aku juga melihat anak-anak lain, yang di bawa ayah ibunya untuk bekerja. Mencari sampah plastik, dan sejenisnya. Kuharap, kehidupan yang keras ini membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Pantang mengemis, meski hidup miskin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Johar, medio Januari 2011.&lt;br /&gt;•	Oleh A. Malik Mughni, Ketua Lakpesdam NU Kota Serang, kini berdagang di pasar Johar, dan bergabung di Perhimpunan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1647587361928759730?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1647587361928759730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1647587361928759730&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1647587361928759730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1647587361928759730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2011/01/negara-bebas-pungli.html' title='Negara Bebas Pungli *'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-734207894666358540</id><published>2010-12-11T18:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T01:14:55.829-08:00</updated><title type='text'>Cirahab Semoga Lestari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSSg0VT4NI/AAAAAAAAAP8/x-1OjYl2inI/s1600/cirahab-padarincang-300x225.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 300px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSSg0VT4NI/AAAAAAAAAP8/x-1OjYl2inI/s320/cirahab-padarincang-300x225.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549721733328789714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Membaca perjuangan warga  Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten, membuat hatiku  berdesir. Di sana, warga bersatu menolak kekuatan asing yang hendak  menguasai mata air yang bisa jadi merupakan warisan budaya warga  padarincang.Upaya warga menolak keberadaan pabrik Aqua di sana patut  dicontoh. Mereka lebih patut mendapat apreasiasi daripada partai atau  sekelompok politisi yang berkoar anti neolib, anti globalisasi ekonomi,  tapi nyatanya menerima sumbangan dari donatur asing, untuk mengubah  kebudayaan asli Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cerita tentang penolakan warga  Padarincang terhadap keberadaan pabrik air mineral sebenarnya telah  berlangsung lawas, sejak Danone melakukan survei di daerah tersebut,  pada beberapa tahun lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penolakan warga yang berlangsung warga  itu ternyata tak direspon oleh pemerintah Kabupaten Serang, yang pada  Januari lalu malah menandatangani MOU pembangunan pabrik Aqua di daerah  Padarincang. Inilah kedzoliman yang dilakukan pemerintah terhadap  warganya sendiri. mereka mengutamakan investor daripada kebutuhan  warganya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemkab Serang  menutup mata akan dampak yang bisa  ditimbulkan dari keberadaan pabrik air mineral di kawasan penyuplai air  di Kabupaten Serang itu. Bahwa eksploitasi sumberdaya alam itu akan  berdampak pada kekeringan di Padarincang, bahkan di Kabupaten Serang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika  memang Pemkab berkehendak meningkatkan taraf ekonomi warga, sebenarnya  ada alternatif lain yang bisa dilakukan. Misalnya dengan menjadikan  daerah padarincang sebagai daerah wisata air, dan mendukung warganya  untuk mengadakan program kemandirian ekonomi, melalui aset warisan  tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sikap pemerintah yang menutup mata terhadap aspirasi  rakyatnya itu berujung pada kemarahan warga Padarincang, pada sepekan  terakhir (6-10 Desember 2010). Sebagian orang menilai kemarahan warga  yang membakar gudang pabrik Aqua adalah tindakan kontra produktif.  Padahal jika ditelisik dari muasal kemarahan tersebut, maka luapan  amarah warga itu dapat dimaklumi. Bahkab patut didukung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kita  berkaca pada beberapa daerah lain, yang juga dieksploitasi aset airnya,  seperti di daerah Curug dan Cidahu, Sukabumi, maka kita bisa memahami  kekhawatiran warga Padarincang akan kelestarian aset warisan leluhurnya  itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu hal yang membuat saya kagum terhadap perlawanan warga  Padarincang adalah kebersatuan mereka. Sudah menjadi rahasia umum,  apabila pemerintah atau kelompok asing datang dengan maksud merebut aset  masyarakat, yang pertama dilakukan biasanya adalah merayu tokoh  masyarakat tertentu, dan kemudian memecah belah warga. politik pecah  belah ala Belanda itu masih kerap dilakukan pemerintah kita. Sebagai  contoh, adalah pembangunan Tol di Pesantren Babakan Ciwaringin, yang  memunculkan friksi di lingkungan dalam warga pesantren tersebut. Saya  bersyukur hal itu tak terjadi di Padarincang. Artinya seluruh warga  sadar akan aset warisan yang patut dipertahankannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekedar  gambaran, Padarincang adalah dataran tinggi di Kabupaten Serang, yang  cukup elok dipandang mata. Di sana terdapat sumber mata air yang begitu  jernih. Di sana juga terdapat beberapa pemandian umum masyarakat yang  dibuat alami, tanpa merusak sumber mata air yang berlimpah itu,  diantaranya yang kerap kami kunjungi adalah kawasan Cirahab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semoga  sekelumit peristiwa heroik di Padarincang bisa menydarkan pemerintah  setempat untuk tidak bertindak semena-mena. Sebab rakyat kini sudah  berani berhadapan dengan golok atau senjata api sekalipun. Perlawanan  warga Padarincang bisa jadi api perjuangan warga Banten untuk tak lagi  tunduk pada keserakahan para jawara. Maka sudah saatnya aktifis dan  masyarakat Banten bersatu melawan kebodohan para pemimpinnya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-734207894666358540?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/734207894666358540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=734207894666358540&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/734207894666358540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/734207894666358540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2010/12/cirahab-semoga-lestari.html' title='Cirahab Semoga Lestari'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSSg0VT4NI/AAAAAAAAAP8/x-1OjYl2inI/s72-c/cirahab-padarincang-300x225.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4524941236102506928</id><published>2009-07-25T10:17:00.000-07:00</published><updated>2010-12-12T01:19:00.877-08:00</updated><title type='text'>Doktrin Teror dalam Pengajian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSTfW9WErI/AAAAAAAAAQE/KwFCD8YyPuI/s1600/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 222px; height: 167px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSTfW9WErI/AAAAAAAAAQE/KwFCD8YyPuI/s320/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549722807775400626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa beberapa tertuduh terorisme (dalam bentuk pemboman), di negeri ini adalah alumni salahsatu pesantren, cukup menggelisahkan kalangan yang pernah atau tengah bersentuhan dengan pesantren.&lt;br /&gt;Munculnya stigma negatif terhadap pesantren sempat menghebohkan negeri ini. Apalagi ketika stigma tersebut keluar dari seorang tokoh nasional yang saaat itu tengah memimpin bangsa yang acrut-marut ini (masih ingat pernyataan JK tentang Terorisme pesantren?)&lt;br /&gt;Aku sempat berpikir sama tentang adanya doktrin yang kerap ditafsirkan sebagai keindahan bersikap keras dalam beragama, di pesantren tertentu. Keindahan spiritual.&lt;br /&gt;Itu kuamini keberadaanya, ketika aku bertemu dengan salahsatu atau beberapa alumnus pesantren yang dikenal ‘keras’, dan berbincang dengan mereka.&lt;br /&gt;Alumnus pesantren tersebut begitu yakin akan kebenaran subyektif yang hanya dimilikinya dan kelompoknya saja.&lt;br /&gt;Aku juga sempat merasakan itu, keyakinan akan kebenaran subyektif. Beruntung aku tumbuh di lingkungan yang prulal, dan pengajar di pesantrenku pun mengajarkan pentingnya ahlakul karimah, meski kadang ia bergumam tentang pentingnya kesetiaan terhadapnya atau kelompoknya saja. Tapi ia tak sekalipun mengajarkan kami untuk bertindak merugikan orang lain.&lt;br /&gt;Prasangka ku terhadap adanya kesalahan doktrin pada jamaah pengajian atau kelompok tertentu, bertambah kental ketika aku bertemu teman-teman aktivis yang bergabung dengan kesatuan mahasiswa tertentu. Sebagian dari mereka begitu dogmatis, eksklusif, dan –bagiku- kerap picik dalam memahami sebuah dalil, doktrin, ataupun paham dan ajaran.&lt;br /&gt;Aku tak ingin menyalahkan mereka, ataupun kelompok mereka, apalagi menyalahkan keyakinan. Tetapi prilaku dan berbagai kata yang mereka utarakan kerap membuatku sulit menyingkirkan prasangka, bahwa ada kesalahan fakir atau pemahaman dalam diri mereka atau kelompok mereka.&lt;br /&gt;Saya melihat adanya penerapan kurikulum dan rujukan kitab atau bacaan yang tidak pas di pesantren atau kelompok pengajian tertentu.&lt;br /&gt;Pesantren atau sebuah kelompok kajian kerap menjadi wilayah khusus yang sakral, dan sang pengajar atau peimpinan lembaga pengajian atau pesantren itu punya kekuasaan dalam menentukan kurikulum apa yang diterapkan, dan kitab apa yang dijadikan rujukan. Sebab tak ada kurikulum baku dan wajib bagi pesantren atau kelompok pengajian di negeri ini.&lt;br /&gt;Semisal pengajaran dan pengajian beberapa kitab hadist yang ditulis (hadist tentang keutamaan beribadah) bagi para pemuda-pemudi, akan berefek pada kegemaran pengaji untuk senantiasa beramal sesuai hadist. Tapi di sisi lain, ketika sang pengamal hadist yang masih muda itu baru mengenal agama ketika beranjak dewasa, dia akan mudah terjebak pada anggapan bahwa kesalehan hanya milik para pengamal saja.&lt;br /&gt;-kalau saya boleh berpendapat-, hadist tentang amaliyah baiknya diajarkan bagi anak-anak, atau mereka yang sudah sepuh, sebab anak-anak yang diajarkan tentang kerajinan beramal yang dilakukan Rasul dan sahabatnya, akan berefek pada motivasi dan pembelajaran hidup yang baik bagi mereka. Dan ketika beranjak dewasa, rujukan terbaik yang layak dikaji menurut saya adalah kitab tentang ahlak dan kesalehan hati (bukan tasawauf amali), fiqih, tata bahas dan sastra, juga&lt;br /&gt;Selain itu, doktrin tentang kesucian sebuah ajaran dan kebanaran tunggal juga saya pikir tak tepat diajarkan kepada pemuda, jiwa toleransi mereka akan hilang setelah menghayati betul ajaran tersebut.&lt;br /&gt;Saya sepakat dengan  Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi yang meminta polisi menindak tegas jaringan teroris di negeri ini.&lt;br /&gt;Hasyim mengakui bahwa mereka adalah oknum kriminil, dan harus ditindak tegas, apapun latar belakangnya.&lt;br /&gt;Tetapi ketika ditanya tentang potensi pesantren mengajarkan doktrin kekerasan beragama, Hasyim yang saat itu saya temui seusai ceramah di Masjid Raudlatul Jannah PCI, Senin malam (21/7), membantah anggapan sebagian kalangan bahwa pesantren kerap memberi doktrin kekerasan dalam beragama. “mereka mungkin memang alumni Ngruki, tetapi pelaku kriminal bisa dari mana saja, bahkan dari universitas ternama seperti UI juga bisa saja ada oknum pelaku kriminal. Jadi mereka hanya oknum, tidak adil jika digeneralisir bahwa alumni pesantren adalah teroris,” tandasnya.&lt;br /&gt;Hasyim juga menjelaskan bahwa dalam agama apapun tidak diajarkan tindakan kekerasan terhadap sesama manusia. “mereka beragama Islam, karena kebetulan mereka tinggal dan beraksi di Indonesia yang mayoritas muslim, tetapi Islam tidak pernah mengajarkan itu. Ini sama dengan kejadian di Ayodhiya, yang meski pun pelakunya beragama Hindu, tetapi tak bisa diartikan bahwa Hindu mengajarkan terorisme, begitu pula terorisme yang terjadi di Eropa oleh oknum kristen, tak bisa dimaknai ajaran kristen mendoktrinkan kekersan. Seabab tak ada agama yang mengajarkan paham terorisme,” ulas Hasyim tegas.&lt;br /&gt;Dalam ceramahnya, Hasyim juga meminta warga Cilegon untuk tidak terjebak pada ritual simbolik belaka dalam beribadah, agar terhindar dari sikap eksklusif dalam bermasyarakat. “Jangan terjebak simbol, seperti misalnya ada ungkapan bahwa pohon cemara itu milik orang kristen karena sering jadi simbol natal, sehingga orang islam tak boleh menanamnya. Ini lucu. Sebab semua tumbuhan di alam ini milik Allah, tak ada larangan menanamnya, pengamalan keagamaaan itu tak hanya simbol, tapi pengahayatan” katanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4524941236102506928?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4524941236102506928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4524941236102506928&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4524941236102506928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4524941236102506928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/07/doktrin-teror-dalam-pengajian.html' title='Doktrin Teror dalam Pengajian'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSTfW9WErI/AAAAAAAAAQE/KwFCD8YyPuI/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4259265394831885853</id><published>2009-06-01T08:14:00.000-07:00</published><updated>2010-12-12T01:24:19.464-08:00</updated><title type='text'>Facebook, Kesetaraan Gender Hingga Delegitimasi Fatwa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSUsE_yGCI/AAAAAAAAAQM/Bcmm4SmTCVM/s1600/seminar_peran_ulama_perempuan_101123213437.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 231px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSUsE_yGCI/AAAAAAAAAQM/Bcmm4SmTCVM/s320/seminar_peran_ulama_perempuan_101123213437.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549724125803714594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik tentang Hasil Bathsul Masa’il XI Forum Pondok Pesantren Putri se-jawa Timur yang mengharamkan penggunaan Facebook secara berlebihan, mendapat reaksi yang ‘wah’ dan beragam dari para pengguna facebook (Facebooker) dan masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Facebooker sampai membuat forum tersendiri bertajuk “Facebook Haram’ beranggotakan 134 Facebooker, ada juga gropu anti fatwa haram facebook yang anggotanya mencapai lima ribuan. Jumlah group facebook bertajuk fatwa tersebut juga tak kurang dari dua puluh jumlahnya. Para penulis juga banyak tergelitik mengomentari hasil bathsul masa’il para santri putri se jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang bisa dilirik dari kelahiran fatwa facebook dan reaksi terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adanya pergeseran budaya masyarakat muslim yang –setidaknya bagi saya- menggembirakan dari reaksi terhadap fatwa tersebut. menggembirakan karena kini masyarakat –muslim- Indonesia mengakui keberadaan para Ulama perempuan. Kesetaraan gender di bidang ilmu keislaman sedang terjadi dengan atau tanpa disadari oleh masyarakat muslim Indonesia yang biasanya reaktif terhadap wacana-wacana barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Polemik tersebut juga terlihat bagaimana tingkat kemampuan membaca dan kemampuan tekhnologi masyarakat di negeri ini. setidaknya, dari lima ribu facebooker (belum dijumlah dengan anggota puluhan grup facebook yang mengangkat tajuk sama) yang menolak fatwa haram tersebut, menunjukkan banyaknya pecinta fanatis facebook. Mereka para pengguna aktif, yang berarti tidak buta tekhnologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri Putri pun  Kini Berfatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya beragam reaksi terhadap fatwa facebook, secara tidak langsung merupakan pengakuan terhadap eksistensi fatwa santri putri se-Jawa Timur. Ini sebuah kemajuan –bagi saya-. Bahwa santri putri pun bisa mengeluarkan pendapat hukumnya, dan itu diakui masyarakat, terlepas dari banyaknya cibiran terhadap ekspose fatwa tersebut (sebab Fatwa Majelis Ulama pun kerap dicibir di negeri ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Nabil Haroen berhasil mensejajarkan para santri putri di Jawa timur dengan sebagian Ulama di Indonesia. Setidaknya Forum Bathsul Masail santri Putri itu tersejajarkan dengan Forum Ulama Islam Indonesia (FUII) atau mungkin dengan Majelis Ulama Indonesia yang selama ini rajin berfatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, cibiran dan berbagai reaksi lainnya terhadap fatwa tersebut juga mengukuhkan delegitimasi fatwa yang telah terjadi sejak awal tahun 2000 lalu. kini fatwa tidak lagi menjadi sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa –dalam Islam- sebagai hasil ijtihad dari seorang yang dianggap ahli hukum Islam, kini ditempatkan kembali pada tempatnya semula, tak lebih dari wacana atas sebuah fenomena yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa memang seharusnya ditempatkan sebagai wacana atau pendapat ahli yang boleh dirujuk untuk bertindak, boleh juga ditinggalkan. Semacam resep atau anjuran dokter yang tidak mengikat secara hukum terhadap pasien. Pasien mempunyai kebebasan mutlak untuk mengikuti atau meninggalkan resep dan ajuran dokter yang ia percaya, bergantung pada kekuatan dan kemampuan pasien untuk taat terhadap resep dan anjuran dokternya. Sebab bisa jadi analisa, resep, saran dan anjuran seorang dokter bisa jadi berbeda dengan dokter lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun Fatwa, Kini masyarakat muslim cenderung tak lagi mau mengikatkan diri secara saklek pada sebuah fatwa saja. Sebab ada Ulama lain yang berpendapat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Hak Milik Siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang kemudian perlu disampaikan kepada masyarakat muslim secara utuh adalah apa dan bagai mana fatwa dibuat serta siapa saja yang berhak mengeluarkannya. Seperti resep dokter, yang juga tak sembarang orang boleh menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dokter harus mengikuti dan lulus pendidikan di fakultas kedokteran, maka apakah para pemberi fatwa Islam (Ulama?) harus juga mengikuti dan lulus dari pendidikan Islam? Lantas lembaga pendidikan Islam mana yang berhak menyematkan gelar Ulama? Pesantren kah, Sekolah Tinggi/Institut Agama Islam kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab saat ini banyak figur yang tiba-tiba muncul di tengah masyarakat dengan membaca berbagai dalil keislaman, kemudian dengan mudah mengaku diri sebagi ustadz atau ulama. Apa bedanya figur semacam ini dengan seorang yang gemar membaca artikel kedokteran, dan mengutip pendapat para dokter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pertanyaan tersebut layaknya dijawab oleh mereka yang betul-betul ulama. Yang memang mumpuni dalam ilmu keislaman, dan bijaksana dalam berpendapat. Pertanyaan tersebut tidak penulis tujukan kepada mereka yang mengaku diri Ulama, yang hanya bermodal hafalan dalil tanpa mengerti makna, nilai serta hakikat sebuah Ayat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah pengaji dan mahasiswa di Umbruch Cercle IAIN Banten, pengurus Lakpesdam NU Kota Serang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4259265394831885853?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/profile.php?id=1547104716#/note.php?note_id=83858032466&amp;ref=mf' title='Facebook, Kesetaraan Gender Hingga Delegitimasi Fatwa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4259265394831885853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4259265394831885853&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4259265394831885853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4259265394831885853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/06/facebook-kesetaraan-gender-hingga.html' title='Facebook, Kesetaraan Gender Hingga Delegitimasi Fatwa'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSUsE_yGCI/AAAAAAAAAQM/Bcmm4SmTCVM/s72-c/seminar_peran_ulama_perempuan_101123213437.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-8976908332420442261</id><published>2009-05-01T08:10:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T08:11:36.378-07:00</updated><title type='text'>Janji Pemerintah Buat Pengusaha Kecil</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Antisipasi Krisis Global, Pasar Dalam Negeri Diperkuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CILEGON - Imbas krisis global yang masih dirasakan industri dan manufaktur di dalam negeri, membuat pemerintah mengeluarkan beragam kebijakan untuk mengamankan perekonomian. “Langkah pengamanan ini harus dilakukan, di antaranya kebijakan fiskal dengan stimulus ekonomi sebesar 70 persen, pengetatan bea cukai, pengetatan ekspor impor, serta pengembangan pasar dalam negeri dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat,” ungkap Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian Indonesia Agus Cahayana kepada Baraya Post, usai membuka seminar nasional industrial services 2009, Jurusan Tehnik Industri Untirta, di Pusat  Pendidikan dan Pelatihan  (Pusdiklat) PT Krakatau Steel, Rabu (29/4).&lt;br /&gt;Kendala terbesar dalam pengembangan pasar dalam negeri menurut Agus adalah maraknya produk luar yang masuk secara ilegal ke Indonesia. Disamping itu, kampanye penggunaan produk dalam negeri yang telah gencar dilakukan pemerintah kurang mendapat respon dari masyarakat, yang disebabkan oleh menurunnya daya beli. “Padahal sudah ada undang-undang 59/2009 yang mengatur tentang sirkulasi produk luar negeri hanya boleh masuk melalui lima pelabuhan tertentu, yakni Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Makasar, tetapi produk ilegal masih banyak yang masuk, hal ini sedang diatasi secara komprehensif,” tandasnya.&lt;br /&gt;“Pasar dalam negeri harus dimaksimalkan. Tetapi tidak berarti menutup pasar impor, dan kami juga tidak bisa melindungi industri nasional sepenuhnya, sebab persaingan industri harus berlangsung secara fair,” tambahnya.&lt;br /&gt;Sementara dalam key note speech Fahmi Idris, Menteri Perindustrian yang disampaikan Agus, terungkap bahwa dari pembangunan dan perkembangan industri di Indonesia yang dicermati pemerintah selama 30 tahun terakhir, pihaknya telah menetapkan sasaran pembangunan industri dalam negeri adalah di bidang manufaktur. Dengan target  pertumbuhan rata-rata 8,56 persen per tahun, penyerapan tenaga kerja sebanyak 500 ribu pekerja per tahun, kondusivitas iklim usaha bagi indutri yang sudah ada, maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN.&lt;br /&gt;Pangsa sektor industri manufaktur tersebut, menurut Fahmi ditingkatkan di pasar domestik, baik bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapai produk impor. Fahmi dalam materi tulisannya juga menekankan pen tingnya peningkatan volume ekspor produk manufaktur dan penyebaran sektor industri manufaktur ke luar Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Karenanya dalam lima tahun ke depan, pemerintah tengah memprioritaskan penguatan pada sepuluh klaster industri, yakni makanan dan minuman, pengolahan hasil laut, terkstil dan produk tekstil, alas kaki, kelapa sawit, barang kayu (termasuk rotan dan bambu), barang dan karet, pulpen dan kertas, mesin listrik, dan petrokimia.&lt;br /&gt;Kristanto Santosa, pembicara seminar yang mewakili Bisnis Inovation Center (BIC) mengajukan pemetaan ulang dalam konsep persaingan industri. Santosa menekankan persaingan sehat dengan penerapan inovasi dan kerjasama antar industri. “Inovasi dalam sebuah produk adalah gabungan antara ide baru, kelayakan, pelayanan yang baik, serta daya praktis yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan,” jelas Santosa.&lt;br /&gt;Ia mencontohokan pentingnya inovasi dalam dua komoditas yang banyak tersedia di negeri ini, yakni kopi dan asam. “Misalnya harga kopi mentah Rp 2.500 per kilogram, ketika kopi biji dikemas menjadi Rp 6 ribu. Bahkan ketika kopi itu diolah lagi dengan inovasi baru di Starbak Cafe bisa melonjak menjadi Rp 60 ribu,” kata Santoso lagi.&lt;br /&gt;Dalam seminar  yang diikuti oleh 106 perwakilan dari berbagai universitas di Indonesia itu, juga dihadirkan pembicara dari Toyota Astra Motor (TAM) Indonesia, I Made Dana M Tangkas, yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Teknik Industri Indonesia (ISTMI). Ia memaparkan strategi bisnis Group Toyota, dalam menghadapi krisis global. ”Ekonomi Indonesia terkena dampak serius dari krisis global, ada penurunan pertumbuhan ekonomi tahunan dari 3,2 persen di tahun lalu, menjadi satu persen pada tahun ini, tetapi investasi kuartal pertama tahun 2009 masih tumbuh positif mengingat tingginya pertunbuhan impor barang pada kuartal sebelumnya,” jelas Made.&lt;br /&gt;Ketua Jurusan Teknik Industri Untirta Asep Ridwan mengungkap hasil akan dijadikan rekomendasi untuk dijadikan rujukan dalam penanganan lanjutan atas krisis global yang tengah melanda. “Kami telah menyeleksi 106 makalah, dan menghasilkan 89 makalah dari para akademisi dan praktisi teknik industri se Indonesia, yang akan dipresentasikan, dan hasilnya sudah di pesan oleh kementrian untuk dijadikan rujukan dalam melakukan langkah penanganan krisis,” kata Asep.&lt;br /&gt;Humas PT Krakatau Steel Humaedi Sukses melihat adanya perubahan paradigma konsumen. “Konsumen yang semakin kritis, menuntut pelayanan yang maksimal disertai dengan kualitas produk yang steril serta memberi kenyamanan dalam sisi spiritual, misalnya, jika dalam produk makanan, ada sertifikasi halal bagi konsumen muslim,” kata Humaedi. (mg-malik)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-8976908332420442261?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/8976908332420442261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=8976908332420442261&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8976908332420442261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8976908332420442261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/05/janji-pemerintah-buat-pengusaha-kecil.html' title='Janji Pemerintah Buat Pengusaha Kecil'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5401970968718136531</id><published>2009-05-01T07:50:00.001-07:00</published><updated>2010-12-12T01:39:30.570-08:00</updated><title type='text'>Tak Menyerah Meski terpinggirkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSYSfYetZI/AAAAAAAAAQc/-1O5D53z2jI/s1600/images2.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 160px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSYSfYetZI/AAAAAAAAAQc/-1O5D53z2jI/s320/images2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549728084256535954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;   Tak Menyerah Meski Terpinggirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)&lt;br /&gt;...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata.&lt;br /&gt;karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan,  tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.&lt;br /&gt;“Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop  untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika.&lt;br /&gt;Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.&lt;br /&gt;Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga  dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada  kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam  UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.&lt;br /&gt;Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu    berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani.&lt;br /&gt;Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB  AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga  kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan  juga  harus mendukung  terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.&lt;br /&gt;Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena  dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap  untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah.  Bahkan     menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5401970968718136531?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5401970968718136531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5401970968718136531&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5401970968718136531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5401970968718136531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/05/tak-menyerah-meski-terpinggirkan_7676.html' title='Tak Menyerah Meski terpinggirkan'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSYSfYetZI/AAAAAAAAAQc/-1O5D53z2jI/s72-c/images2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4693796100394310293</id><published>2009-05-01T07:46:00.001-07:00</published><updated>2009-05-01T07:49:53.202-07:00</updated><title type='text'>Tak Menyerah Meski terpinggirkan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tak Menyerah Meski Terpinggirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)&lt;br /&gt;...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata. &lt;br /&gt;karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan,  tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.&lt;br /&gt; “Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop  untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika. &lt;br /&gt;Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.&lt;br /&gt;Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga  dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada  kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam  UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.&lt;br /&gt;Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu    berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani. &lt;br /&gt;Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB  AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga  kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan  juga  harus mendukung  terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.&lt;br /&gt;Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena  dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap  untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah.  Bahkan     menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4693796100394310293?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4693796100394310293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4693796100394310293&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4693796100394310293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4693796100394310293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/05/tak-menyerah-meski-terpinggirkan_01.html' title='Tak Menyerah Meski terpinggirkan'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1510643046148317296</id><published>2009-05-01T07:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T07:49:19.178-07:00</updated><title type='text'>Tak Menyerah Meski terpinggirkan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;... Bersyukur Aku merasakan bisa berjalan sendiri// Walau hanya dalam mimpi//mimpi indah sekali//... (Mimpi)&lt;br /&gt;...Sejak lahir aku belum bisa berjalan//tidak pernah pula duduk di bangku sekolah//. Tapi Aku bisa membaca, menulis// walau dengan jempol kakiku// berkat mama merawatku,mengajariku//.. (Rasa Syukuruku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilegon- Dua Penggalan puisi itu karya Corri Novika warga Jalan Melati F12/10 BBS 2 Ciwedus, Cilegon. Gadis dua puluh dua tahun yang mengalami penyumbatan otak sejak usia empat bulan. Tangannya kaku, dan kakinya mengalami kelumpuhan, ia pun sulit berkata-kata, karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski Kedua Orang tua Vika, Joko Waskito dan Nining Yuningsih telah mengobatinya di berbagai rumah sakit, dan tampat pengobatan alternatif. Meski begitu, Vika punya semangat kuat untuk jadi penulis. “Aku ingin seperti Asma Nadia, yang pandai menulis, aku juga ingin seperti mama yang aktif di berbagai organisasi. Aku bangga sama mama yang ngajarin aku mebaca dan mengaji,” Ungkap Vika dengan terbata. &lt;br /&gt;karena tidak sekolah, vika sempat merasa minder dan diasingkan,  tapi berkat dorongan orang tua dan tiga adiknya, Vika bahkan ingin memberi motivasi kepada anak-anak yang senasib dengannya. Vika yang gemar menulis cerita sehari-hari dan menulis bait-bait puisi itu bertekad untuk mandiri dan menggali potensinya.&lt;br /&gt; “Ia tak bisa memegang pensil, tapi mampu mengetik dengan jempol kakinya. Ia menuliskan puisinya sejak memiliki HP yang dibelinya dari uang tabungannya tahun 2007 lalu, dan tahun lalu kami belikan laptop  untuk memudahkannya dalam berkarya,” Tutur Nining, Ibu Vika. &lt;br /&gt;Nining tidak menitipkan Vika di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena menurutnya SLB di Cilegon belum fasilitasnya belum lengkap, dan tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya. “Kami pernah membawanya Ke Yayasan Pecinta Anak Cacat (YPAC) Solo, tapi Vika hanya kuat selama enam bulan, dan selalu ingin pulang, padahal di sana kami beri dia pendamping khusus, ternyata Vika tak betah. Akhirnya saya mendidiknya di rumah. Sebenarnya Vika telah diajari membaca sejak usia delapan tahun,” jelas Nining lagi. Dalam pengamatan nining, di balik keterbatasannya, vika memiliki daya tangkap yang luar bisa.&lt;br /&gt;Minimnya Fasilitas dan perhatian khusus bagi siswa SLB di Kota Cilegon, juga  dikeluhkan oleh Kepala SLB Al-Khairiyah Citangkil Taufiq, yang melihat kebijakan pemerintah untuk siswa SLB masih kurang. “Dalam UN Misalnya, Kebijakan untuk Anak Normal dan anak SLB ko disamakan, waktunya, dan proses ujiannya. Mestinya ada  kebijakan khusus tentang UN bagi siswa luar biasa, Dalam  UN pelajaran bahasa inggris misalnya, uji listening yang menggunakan kaset, menyulitkan mereka yang tunarungu,” Ujar TAufiq.&lt;br /&gt;Penanganan anak berkebutuhan khusus menurut psikolog Anak Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Rd. Danianti, K.P.,Mpsi, memang berbeda dengan anak normal biasa. “Tak semua anak berkebutuhan khusus itu    berotak lemah, banyak diantara mereka yang punya otak diasat rata-rata. Mereka hanya perlu perhatian, pendampingan, dan beberapa fasilitas khusus,” Kata Dani. &lt;br /&gt;Senada dengan Dani, Hifdullah, Seorang Guru SLB  AL Kautsar Cibeber juga mengungkap perlunya perhatian khusus terhadap anak-anak abnormal. “Masing-masing mereka pasti punya minat, dan bakat yang perlu dioptimalkan, sehingga  kemampuan bisa menjadi bekal hidup untuk mandiri, dan tidak tergantung pada orang lain, SLB dengan segala fasilitas yang ada, berupaya membina, dan mendidik mereka, tapi walimurid, keluarga dan lingkungan  juga  harus mendukung  terciptanya optimalisasi bakat mereka,” ujarnya.Sayangnya, pihak Pemerintah Kota Cilegon belum mau meberikan perhatian itu kepada mereka. dalam Musyawarah rencana pengembangan (Musrembang) Kota Cilegon Kamis (23/4) Lalu, Pemkot belum menganggarkan dana khusus untuk pembinaan anak-anak berkebutuhan Khusus. “Untuk SLB, penanganannya masih oleh pihak provinsi, Pemkot cilegon hanya membantu. Kalau ada keluhan semacam itu disampaikan ke pemprov, dana khusus untuk mereka juga belum ada karena  dalam musrembang bantuan itu tidak terungkap  untuk 2010,” Papar Kepala Bidang Beasiswa dan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kota Cilegon Ismatullah.  Bahkan     menurut pengakuan Ismat, sampai saat ini belum ada data yang pasti tent ang jumlah anak berkebutuhan khusus di Kota Cilegon, dan jumlah siswa SLB di Kota Cilegon. (Malik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1510643046148317296?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1510643046148317296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1510643046148317296&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1510643046148317296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1510643046148317296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/05/tak-menyerah-meski-terpinggirkan.html' title='Tak Menyerah Meski terpinggirkan'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-8262749866038658688</id><published>2009-02-17T05:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T01:34:32.674-08:00</updated><title type='text'>Pesantren Buat Mama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSW8IZ1mQI/AAAAAAAAAQU/4uw1xMGOtBc/s1600/index.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 188px; height: 141px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSW8IZ1mQI/AAAAAAAAAQU/4uw1xMGOtBc/s320/index.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549726600619464962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sulit bagiku untuk mengingat kapan perkenalanku dengan dunia Pesantren bermula. Sebab sejak kecil, aku diakrabkan dengan sarung, peci hitam, pondok, kitab kuning, dan Kiai, aku dikenalkan pada mereka oleh Ayahku. Aku bangga kepada Ayah, juga Ibuku. Jika aku mengenal  Islam, dan hal-ihwalnya dari Ummi (Ibu), maka dunia pesantren, dan tokoh-tokoh Islam, kukenal lewat Mama (Ayah). Bahkan namaku, menurut Ayah disandarkan pada nama seorang Kiai besar dari Cirebon, Kiai Haji Abdul Malik, pengasuh Pesantren As-Shalah, Kaliwadas Cirebon, “Beliau salahsatu tokoh Masyumi, yang teguh pendirian,” begitu kata Mama, dulu.  Mama sering bercerita tentang Kiai Malik (belakangan, beliau jadi guruku, aku sempat mengaji di pesantren As-Shalah, selama 6 bulan) Mama juga pernah bercerita tentang seorang tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang dikenal dengan nama HAMKA, Tokoh tasawwuf modern, Muhammadiyyah.&lt;br /&gt;Aku salut pada pola pendidikan kedua oarngtuaku. Sejak kecil Ummi telaten membimbingku untuk belajar membaca, membaca Al-Qur’an, dan membaca Koran. Di usia tiga tahun aku telah disunat, dan di usia empat tahun aku digembleng untuk menghafal Juz’amma, menghafal nama, dan silsilah Nabi, nama malikat, hingga nama surga, dan neraka. Menginjak usia lima tahun, aku dititipkan di Pesantren Kiai Malik, aku ingat betul bagaimana Mama meninggalkanku di Mushalla Pesantren, dengan berpura-pura tidur di sana, Aku ikut tertidur di sampingnya. Dan ketika terbangun, Mama telah pergi. Aku menangis kala itu, tersedu, hingga seorang senior membawaku kepada Kiai Malik, aku diberi Air, dan terdiam. Tapi efek Air itu tak abadi, sekian minggu kemudian, aku menjadi seorang pemberontak cilik. Bermain Yuyu (kepiting kecil), membakranya bersama teman-teman, dan ‘menguasai arena bermain taman kanak-kanak di komplek Pesantren. Aku, dan Gank ku tak pernah mau diganggu teman-teman lain, artinya selama kami ada di sana, yang lain haram dibagi.&lt;br /&gt;Uniknya, gangku tak Cuma anak lelaki, beberap anak perempuan juga tergabung di sana. Kami semua sebaya, usia empat, sampai tujuh tahun. Dan Aku dianggap yang terbadung, sebab ketika senior menggiring kami untuk mandi, makan, atau mengaji, Akulah yang paling sering menolak, bahkan seorang putra Kiai –yang entah namanya siapa- pun tak sanggup memaksaku makan, dan mandi.&lt;br /&gt;Pernah ketika perayaan Idul Adha, aku menumpahkan seporsi nasi rangsum, yang didapat dari mengatri, Aku merasa mual saat itu, dan memuntahkannya. Yang paling sering mengomel, saat itu adalah Ibu Nyai (Istri Kiai), dalam sewotnya, beliau sering berkata “Aran sih pada karo Kiai, tapi kelakuane, ampuun, badunge!” (Nama sih sama dengan Kiai, tapi ko kelakuannya badung sekali), yah beberapa tragedy di Pesantren kala itu, masih melekat di otakku. Termasuk ketika aku berkelahi dengan teman seangkatan, yang kupergoki mencuri, kabur dari Pesantren, dan dikejar para Senior, hingga ketika Aku tenggelam dalam kubangan, karena terjatuh dari perahu rakit tempat kami bermain.&lt;br /&gt;Masaku tak lama di pesantren Anak-anak As-Shalah, hanya berkisar empat bulan, sampai satu semesteran, aku sakit, dan dipulangkan. Di Ash-shalah, kala itu, aku ditemani kakakku, dia bertugas menjagaku, dan tugasnya dilakukan dengan tuntas. Hmm. Mama, berharap aku menjadi Kiai cilik, kala itu. Aku sering diperkenalkan dengan para kiai Cilik yang diundang, atau dikunjugi ke rumahnya. Salahsatunya bernama Ehan. Sayang,aku tak betah di Pesantren, malah kakaku, yang kemudian betah di sana, dari kelas empat hingga lulus Esde. Padahal, awalnya Dia bertugas mengawalku, tapi Dia yang kemudian menuntaskan mimpi Mama.&lt;br /&gt;Mama, dan Ummi tak patah semangat, ketika Aku tak betah tinggal di pesantren, maka aku digembleng di rumah, aku mengaji pada tiga Kakak ku yang tinggal di rumah. tiga kakakku yang lain masih di Pesantren, dan yang satu kuliah di IAIN. Kakak berlangganan Koran Republika, dan tak pernah absen memberiku suplemen halaman Beranda (halaman khusus anak-anak). Aku juga dilanggani Majalah anak shaleh. Menjelang tidur, ummi mendongengi berbagai cerita keislaman, dari heroisme Ali Bin Abi Thalib, sampai cerita si bangsat Dajjal. Maka sejak itu aku mengidolakan Ali. Mama juga sering mengajakku menonton filem Haidar Ali, dan berita perang Irak, bersama para tetangga yang kal itu belum memiliki TV. Maka idolaku bertambah, Saddam Hussein. Sampai beberapa tahun lalu, ketika aku di semester awal perkuliahan, seorang bapak, yang pernah bertetangga denganku, bertemu, dia bertanya, “Bagaimana kabar Saddam?” aku terbahak, mengingat kekonyolan masa kecilku, sang Bapak, yang –kalu tak salah- bernama Mudzakkir itu, sering menggodaku, bahwa Saddam Hussein akan kalah melawan George Bush, dan Aku akan dengan semangat menolaknya.&lt;br /&gt;Sekali waktu, aku pernah tak fasih membaca huruf Syin pada salah satu Ayat Al-Quran, dan Kakaku yang bernama Abdillah, mencubit kakiku dengan keras. Aku menangis. Dia kesal, setelah berkali mengingatkanku, akupun menangis. Maka Mama memangilku ke kamarnya, baru kali itu aku mengaji langsung pada beliau, di kamarnya. Bisanya aku mengaji pada Umi, dan kakak-kakaku, dan aku akan selalu mengang kejadian itu. Beliau ajarkan kau mebaca Syin, dan Shod yang mudah, dengan menambah Y, pada S pertama, dan bersiul, pada S kedua. Aku duduk di kelas satu esde, kala itu.&lt;br /&gt;Mereka ajarkan displin dengan keteladanan. Ba’da shubuh, kami mengaji bersama, pulang sekolah, aku bermain sepuas hati, tapi waktu Shalat, aku selalu dikontrol. Mama tak pernah bosan mengingatkanku untuk Adzan, di Mushalla. Menjelang maghrib, Aku sudah harus di rumah, shalat berjama’ah, dan mengaji bersama ba’da Maghrib, rumahku ketika itu selalu dipenuhi anak-anak usia Esde. Setelah Isya, aku harus mengerjakan pe-er, atau membaca buku, buku apapun itu. Di sini Umi, dan Kakaku, yang berperan. Sampai pukul delapan, kami baru boleh menonton TV. Filem Si Doel, Knight Rider, Mac Giver, dan Airwolf, adalah judul-judul filem malam yang masih  kuingat. Adalagi, Lampu Aladdin, yang dipernakan Rano Karno. Pukul Sembilan, Filem sering dipotong berita TVRI, dan pada jam tersebut, beberapa bapak tetanggaku, sering berkumpul di rumah. Oh,ya, TV tua itu, adalah hadiah Sunatanku, di usia tiga tahun.&lt;br /&gt;Hingga kelas tiga esde, tradisi itu berlangsung, kelas empat aku mulai kenal dengan teman-teman  yang agak berjauhan, dari rumahku.  Sesekali, usai jam wajib belajar yang selalu berakhir pada pukul delapan, aku kelayapan, bermain dengan anak-anak lain. Aku mengenal bisokop sekitar kelas lima (ha.ha, jadul banget, ya?), seratus meter dari rumahku baru berdiri bioskop baru, “Johar Studio”. Kami menonton diam-diam. Sebab kalau ketahuan orangtua, tentu habislah kami.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pluralisme kaum santri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas empat pula aku mulai bermain dengan kawan yang berlainan keyakinan. Sebelumnya, aku tak bersahabat dengan tetanggaku yang beretnis Tionghoa, aku ogah bersahabat dengan anak-anak Chinesse. Padahal, rumahku dikelilingi rumah, dan toko warga tionghoa.  sebabnya doktrin dari salahsatu bibiku, bahwa mereka kafir, dan harus dijauhi.&lt;br /&gt;Aku dan beberapa kawan, sering menjahili anak-anak Chinnese itu. Sampai kemudian orang tua mereka mengadu pada Mama, dan beliau marah besar padaku. Aku dijewer, “kenapa kamu nakal, sama Hendra?” Tanya Ayah, “karena dia China” jawabku. “Memang kalo China, boleh digalakin?” tanyanya, lagi. “mereka kafir!” jawabku lagi. Mama beristighfar, dan memberiku ajaran termulia, bahwa bertemanlah denganh siapapun tanpa pandang Ras, keusukan, dan Agama. “Nabi juga berteman dengan Yahudi, dan keristen, inget Waraqah?” Tanya Ayah dengan bijak. Ya, aku ingat, Umi pernah cerita tentang Waraqah, yang kristen, dan mengakui kenabian Muhammad.&lt;br /&gt;Mama juga bercerita sedikit tentang kemajemukan madinah, yang aku tak mengerti saat itu. Pikirku, saat itu, aku tak mau lagi dijewer, dan dimarahi karena memusuhi Hendra, yang keristen, Dirman, yang Budha, juga Dhani, yang entah beragama apa.&lt;br /&gt;Akhirnya aku bersahabat dengan hendra, dan Dirman, bertukar majalah, dan bermain serta belajar bersama, kadang di teras rumahku, di Mushalla, atau di rumah Dirman, bermain sega. Dirman, yang seusia denganku, faham betul tradisi keluarga kami, ketika Adzan tiba, dia menghentikan permainan, memintaku untuk ke Mushalla, Adzan, dan Shalat. “Katanya mau jadi anak shaleh? Nanti dimarahi Mama, loh!” kalimat tulus itu sering kusalah artikan, bahwa dia ingin menguasai permainan. Sampai kami pernah bicara empat mata, “Lik, Agama kita tuh enggak jauh beda, ya. Kamu pengen jadi Sholeh, kami juga pengen berbudi,” ungkapnya. Aku mengamini uacapan Dirman.&lt;br /&gt;Diantara hal yang membuat ku bangga pada Ayah, adalah sikapnya yang pluralis, padahal aku yakin, beliau tak pernah kenal dengan istilah itu. Ia tak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia seorang putra kiai, berhaluan syafi’iyah, dan pengikut organisasi Nahdlatul Ulama (NU), tapi menokohkan seorang kiai yang aktivis masyumi, dan seorang ulama tokoh Muhammadiyah. Mama juga menokohkan presiden Messir Husni Mubarak, tokoh NU Subhan ZE; Cucu Nabi yang menjadi legenda Syi’ah, Hasan, dan Hussein; dan lainnya (nama-nama tersebut dilekatkan pada nama kakakku).&lt;br /&gt;Di antara keluarga besar dari pihak ayah, dan Ibuku, ada dua pamanku yang menjadi tokoh perintis Muhammadiyyah di Karawang, H.M. Syatori, dan Alm. Shofwan Syarif, dulu, mereka sempat terasing ditengah keluarga besar kami, terutama dengan keluarga di Cirebon. Tapi  Mereka justru dekat dengan Mama, dan Umi. Di rumah Mang Tori (H.M. Syatori), Aku sering membaca tabloid Suara muhammadiyah, sejak SD, berlanjut pada Tabloid Amanat, dan Tafsir Al-Azhar, Hamka, yang berjilid-jilid, ketika SMP, pustaka kemuahmmadiyahan di sana cukup lengkap, dan aku senang membacanya, berbeda dengan rumahku, Rak pustaka lebih banyak dipenuhi buku-buku tebal berbahasa Arab (kitab kuning), dan buku-buku pelajaran, bekas dipakai ke enam kakak-ku.&lt;br /&gt;Mang Sopan (Alm. Drs. Sofwan Syarif, mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah Karawang, dan Jabar) pernah mengajakku  melihat kemeriahan muktamar Muhammadiyyah di Senayan, ketika itu aku masih SMP, dan berstatus santri aktif di pesantren Assalafie, Babakan, Ciwaringin, Cirebon. “Lihat, Senayan padat oleh ribuan kader Muhammadiyah se-Indonesia, bahkan yang tua juga rela datang,“ kata Mang sopan, bangga, sambil menunjuk seorang Kakek, berpeci hitam, celana pantaloon, dan batik coklat.&lt;br /&gt;Pulang dari senayan, Aku sempat ingin bergabung dengan Ikatan remaja Muhamadiyyah di karawang. Umi membolehkan, Mama juga tak melarang, tapi pamanku yang lain, juga salahsatu kakakku, yang waktu itu mencegahku, “NU sedang kacau, dan yang berkewajiban membanihnya, ya santri seperti kamu,” begitu doktrin kakakku. Seorang paman di Cirebon mendoktrinku lebih keras, “Jangan ikuti pamanmu yang Muhammadiyyah, nanti banyak musuhnya,” cegah pamanku,  ketika itu fanatisme organisasi belum lenyap di sebagian Cirebon.&lt;br /&gt;Ketika Orde baru tumbang, aku juga menyaksikan kearifan yang dicontohkan Mama. Menjelang reformasi, kerusuhan, makar dan razia etnis tionghoa sempat terjadi di Karawang. Seorang lelaki separuh baya, berkulit putih, yang dibalut kemeja putih juga, bermata sipit, dengan kacamata minus, mendatangi rumah kami. Lamat-lamat kudengar dialog Mama, dan pengusaha tionghoa itu. Mereka berdiskusi tentang kacaunya keadaan, sang pengusaha meminta saran, dan perlindungan, ia takut tokonya dijarah, dan rumahnya dihancurkan,  Ayahku menyatakan keprihatinannya, akan kondisi yang ada, padahal menurutnya, dulu mereka hidup berdampingan, seperti saudara. Selanjutnya, aku tak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setia pada Ulama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama can pernah ngarasaan sakola, bisa maca ge, karena ngintip pelajaran barudak SR, mangka sing bener sakola, sing rajin ngaji, mumpung bisa sakola, bisa mondok,”  kalimat itu sering terucap oleh Mama. Konon masa kecilnya habis untuk ngangon domba, dan di sela-sela penggembalaanya, beliau sering mengintip anak-anak priyayi yang sedang belajar di kelas. Mama juga sering bercerita tentang masakecilnya, tidak diberi kesempatan sekolah, dan mondok di Pesantren. Padahal beliau adalah anak seorang Kiai di Keputon, Plumbon, tapi Ayahnya tak memberi kesempatan belajar. Tak heran jika kemudian Mama berkukuh menjamin pendidikan semua anaknya. Aku dan ketujuh saudaraku, mendapat pendidikan minimal hingga bangku SMA, dan semua kami diwajibkan untuk Mondok di Pesantren.&lt;br /&gt;Aku bangga pada Mama dan Umi, sebab selain menjamin pendidikan anak-anaknya. Puluhan saudara, dan kerabat (sepupu, paman, bibi, dan beberapa putra-putri teman dekatn Ayah, dan Ibuku) yang pernah tinggal seatap dengan Mama, dan Ummi, juga mendapat pendidikan yang layak, mereka juga di sekolahkan, hanya saja tidak dipesantrenkan, pendidikan keislaman mereka didapat langsung dari Mama, dan Ummi. Meski tidak mengenyam pendidikan sekolah, dan Pesantren, Mama mampu membaca Koran, dan lancar membaca Al-Qur’an, dan bisa membaca beberapa kitab kecil (Safinah, Tajwid, dan khulasoh/sejarah Nabi, serta tafsir jawa Al-Ibriz, aku sempat mengajinya, dan ditest oleh beliau). Jika membaca hurup latin, dan bahasa Indonesia ia dapat secara didaktik, membaca Al-Qur’an, dan beberapa kitab , dari mengaji kepada Ayahnya (kakaekku) dan beberapa Kiai. Hingga wafat, beliau dikenal setia terahadap para Kiai. Tak heran, jika sewaktu beliau mangkat, puluhan Kiai tua, dan muda, serta ratusan kerabat, dan kawan dekatnya, dari Johar karawang, dan Cirebon, mengiringnya hingga makbaroh (pekuburan keluarga). Bahkan khutbah pelepasan (yang resmi, dengan disaksikan lebih dari 40 jamaah),dan shalat jenazahnya, dilakukan oleh beberapa Kiai, di tiga tempat. Di Majelis Ta’lim Nurul Jannah, di Mushalla Annur, Johar karawang, dan di Mushalla Al-Hidayah, Plumbon, Cirebon. Ketiga tempat itu konon menjadi bukti fisik kesetiaan Mama, dalam membela keyakinannya.&lt;br /&gt;Di Majelis ta’lim Nurul Jannah, disamping rumah kami, beliau dilepas oleh Kiai Asef Saefullah, pengasuh salahsatu pesantren di Karawang. Selang beberapa saat, konon seorang kiai sepuh Karawang, yang biasa dipanggil Ajengan Lili, bertitah, bahwa jenazah Ayahku harus dishalatkan di Mushalla Annur. Konon sempat terjadi pertentangan antara Ajengan Lili, dan Ustadz Maman, titah Ajengan Lili ditentang Ustadz Maman, keduanya tokoh tua di tempat kami, tapi Ajengan Lili punya alas an kuat, bahwa Mushalla Annur, adalah pertama kali beliau berjuang. Apalagi, konon terakhir kali shalat jamaah, beliau di Annur. Aku tak saksikan perdebatan itu, sebab aku baru datang di karawang, pukul 21.30, sementara jenazah telah dishalatkan sejak Ba’da Maghrib.&lt;br /&gt;Ajengan Lili juga sempat memimpin khutbah, dan Shalat jenazah, selanjutnya Khutbah pelepasan juga disampaikan K.H. A.Dlomiri, Ketua MUI Karawang, yang membawa tujuh santrinya untuk mengkhatamkan AL-Qur’an, di samping jenazah. Pukul dua dinihari, jenazah dibawa ke Cirebon, di sana puluhan kerabat kami telah menunggu. Ba’da Subuh, lima mobil rombongan jenazah, dan satu ambulans, tiba di desa Pamijahan, Plumbon, pagi yang senyap pun pecah. Jenazah mama kembali dimasukkan ke dalam Mushalla. Pagi itu, sejak pukul lima, hingga pukul delapan, mushalla Al-Hidayah disesaki  para tetamu yang berdatangan, dan memanjatkan shalat jenazah. Shalat jenazah terramai kusaksikan pada pukul tujuh pagi, dipimpin KH. Bahruddin, dari pesantren  Palimanan, Kiai Azka Hamam Syairozie, Kiai Yasif Maimun,  dari Pesantren Babakan Ciwaringin, dan beberapa kiai, dan ustadz, lain. Kuhitung jama’ah saat itu (perintah dari kakak, untuk memastikan amplop shalawat cukup tidak,) ada seratus dua puluh orang dewasa, dengan lima anak kecil, yang berjama’ah saat itu. Aku lega, ayahku dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang dewasa, dari kalangan pesantren. Semoga bisa menjadi jaminan untuknya, dalam meraih rahmat dan maghfirah Allah di alam sana.&lt;br /&gt;Sepeninggal Mama, beberap orang tua bercerita tentang perjuangan Mama ,dalam membangun, memakmurkan, dan memperthankan Mushalla, dan Majelis Ta'lim. Aku jadi teringat, baha Mama membuat kontrakan, awalnya untuk memakmurkan Mushalla. Beliau juga sering mengingatkanku untuk tak henti belajar, demi dakwah islam, beliau ingin Anak-anaknya mengembangkan Da'wah Islam, mengembangkan Majelis, dan membangun Pesantren.  dan sampai kini belum ada yang memenuhi mimpinya itu. tapi ada satu hal yang ku pegang, dari pesannya, "Tong&lt;span style="font-style: italic;"&gt; thoma' &lt;/span&gt;ngadon hirup tina Ummat, meun jadi Kiai, kudu ngahirupan Ummat," (jangan tamak, menumpang hidup dari Ummat, kalau mau jadi kiai, harus menghidupkan Ummat). Ya Mama prihatin, dengan sikap beberapa Kiai di era sekarang, yang menjual agama, dan Ummatnya. semoga aku bisa wujudkan mimpinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-8262749866038658688?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/8262749866038658688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=8262749866038658688&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8262749866038658688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8262749866038658688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/02/pesantren-buat-mama.html' title='Pesantren Buat Mama'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSW8IZ1mQI/AAAAAAAAAQU/4uw1xMGOtBc/s72-c/index.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6834401561411370997</id><published>2009-02-17T01:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T06:25:38.181-08:00</updated><title type='text'>Geli</title><content type='html'>Aku ingin terbahak&lt;br&gt;Lihat segala menggila&lt;br&gt;Mengunyah tawa&lt;br&gt;Hingga meregang nyawa&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6834401561411370997?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6834401561411370997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6834401561411370997&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6834401561411370997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6834401561411370997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/02/geli_17.html' title='Geli'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6289788384800833615</id><published>2009-02-11T08:11:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T01:42:53.549-08:00</updated><title type='text'>Geli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSZC0j7tbI/AAAAAAAAAQk/8VykkhdpjYA/s1600/images3.jpeg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 178px; height: 282px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSZC0j7tbI/AAAAAAAAAQk/8VykkhdpjYA/s320/images3.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549728914575439282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin terbahak&lt;br /&gt;Lihat segala menggila&lt;br /&gt;Mengunyah tawa&lt;br /&gt;Hingga meregang nyawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6289788384800833615?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6289788384800833615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6289788384800833615&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6289788384800833615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6289788384800833615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/02/geli.html' title='Geli'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/TQSZC0j7tbI/AAAAAAAAAQk/8VykkhdpjYA/s72-c/images3.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-7153100770913585391</id><published>2009-01-22T22:07:00.001-08:00</published><updated>2009-01-22T22:07:54.247-08:00</updated><title type='text'>Kenapa Harus Proyek?</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa hal lucu yang pernah lu alamin ketika aktif di SiGMA? Begitu kira-kira tema tulisan pesanan yang disebut-sebut sebagai proyek Yuwi, litbang SiGMA, yang super woman. Hmm, Aku malah merasa lucu dengan kata proyek. Sebab kata mujarab ini sering dibayangkan punya nilai lebih, berupa pendapatan, atau penghasilan. Kata proyek ini pernah digugat oleh salahsatu seniorku sewaktu aku  menyampaikan format, atau draft bertajuk proyek proposal pelatihan jurnalistik &amp; broadcasting se-banten. Kenapa harus proyek? Kata seniorku. Gugup, dan gelagap tiba-tiba menghinggap dalam diriku.&lt;br /&gt;Kenapa gugup? Karena aku–sejak awal pembuatan proposal tersebut, dan sebelum bertemu senior yang kemudian kuketahui bernama Ahmad Arby Syahrostani itu- kurang suka dengan kata proyek. Kesanku kala itu,  kata proyek selalu bernuansa bagi-bagi keuntungan materil, bagi-bagi duit. Padahal PJB, buatku (waktu itu) tak lebih dari event sosial untuk merekrut kader SiGMA. Ya, event sosial! Karena PJB menurutku tak menghasilkan untung materil bagi diri maupun keluarga SIGMA. Panitia PJB yang semuanya adalah kru SiGMA lebih sering nombok, ketimbang mendapat penghasilan.  Meski kalau dipikir lebih lanjut, sebenarnya ada keuntungan bagi panitia PJB. Satu, kebanggaan sebagai panitia, dua, bisa jalan-jalan gratis, dan terakhir bisa mengumpulkan sertifikat. Tapi, bagi crew yang sudah berkali menjadi panitia PJB sepertiku –waktu itu-, keuntungan tersbut tidak lagi berarti (bukan bermaksud sombong, terlibat di kepanitiaan bautaku yang waktu itu menginjak semester enam, bukan lagi hal asing. Sertifikat sudah banyak, jalan-jalan? Karena tiap PJB, tujuan wisatanya adalah kantor redaksi Tempo, maka aku hampir bosan). Dan yang terpenting, waktu itu aku riskan dengan kata proyek, sebab kata tersbut rentan KORUPSI. Maka mendengar gugatan tersbut, aku jadi gugup. Dan kemudian aku terggelagap.&lt;br /&gt;Mengapa tergelagap? Sebab sebagai bagian dari panitia, aku harus bertanggung jawab mempertahankan konsep yang telah disepakati bersama. Meski pada dasarnya, konsep tersebut tidak kukehendaki. Maka aku tergelagap mencari apologi atas gugatan Bang Aas, begitu kami biasa menyapanya. “Karena ini sebuah event besar bagi SiGMA” kalau tidak salah, begitulah jawabku waktu itu. “Ya, kenapa proposalnya dinamakan proyek?”  aku jadi tambah keki waktu itu. &lt;br /&gt;Nah, saat ini, aku tergelitik dengan istilah proyek Yuwi, atas tulisan ang ditujukan untuk mengenang kelucuan di SIGMA ini.&lt;br /&gt;Kenapa harus Proyek Yuwi? Hmm, mungkin karena pengumpulan tulisan yang sebenarnya harus lucu ini diusulkan oleh Yuwi. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, ketika aku menjabat Pimred, dan Pinum, aku sempat bicarakan keinginan mengumpulkan tulisan crew SiGMA tentang SIGMA dan kiprahnya. Waktu itu aku ingin kami, para crew memberi kado ulang tahun SIGMA ke-17. ya waktu itu, tepat di Januari 2007 (kalau tak salah) mestinya tulisan persembahan untuk kado ulang tahun ISGMA itu selesai. Ide tersbut pernah dibicarakan dengan pembina SIGMA, yang biasa kami panggil, Pak Sobri, dengan seorang senior bernama Sobari, dan seorang teman, yang kemudian hengkang, bertitel Fetty. Bahkan (kalau tak salah lagi) Toink, dan Yuwi juga pernah kudendangkan ide ini. Tapi waktu itu, memang tak terpikir olehku membuat tulisan lucu. Yang terbersit saat itu, mengenang SiGMA, dan masa-masa di SIGMA, baik pahit, maupun getirnya. Opps, kenapa pahit dan getir? Sebab menurutku, yang dikenal melankolis dan serius ini, masa-masa di SIGMA adalah masa pancaroba, bak kawah candradimuka. Pahit melulu, kadang-kadang getir. Padahal kalau mau jujur, banyak juga hal yang manis di SiGMA. Termasuk yuwi manisa, yang punya proyek tulisan ini. &lt;br /&gt;Tapi kenapa harus proyek? Dan mengapa harus tulisan lucu? Seingatku selama di SIGMA, belum ada yang mampu menulis lucu atau humor secerdas pengarang abunawas di SiGMA. “Di sinilah lucunya” kata Toink. Dia juga mengusulkan kalau jadi dibukukan, kumpulan tulisan ini berjudul 100 persen ngakak! Sebab kumpulan tulisan ini lucu karena tak lucu, begitu katanya. Tidak lucu bukan? Syukurlah, saya memang tak berniat jadi pelawak. Dan –konon- Saya lebih berbakat jadi esais, dan penulis lepas sekaliber Gunawan Muhammad, atau Kuntowijoyo. Amiin…(mmaaf kalau isinya agak narsis, semoga tidak najis. hee)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-7153100770913585391?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/7153100770913585391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=7153100770913585391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7153100770913585391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7153100770913585391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/01/kenapa-harus-proyek.html' title='Kenapa Harus Proyek?'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1032349760833697268</id><published>2009-01-22T22:03:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T22:06:01.018-08:00</updated><title type='text'>Aku Jumawa!                                                                                       (20/01/09. tepat pukul 1.30 sampai 2 pagi)</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi terlalu banyak godaan untuk tidak terlelap –mungkin- hingga fajar menjelang. Kebiasaan buruk warisan pesantren! Pikirku. Loh, kenapa pesantren yang dipersalahkan? Tanya diriku yang lain. Hmm. Tahun-tahun terakhir di pesantren, aku memang jarang tidur malam, hampir tak pernah malah. Berkhayal, membaca, dan merenung seakan mengkarakter dalam diri ini. Tapi aku sadar ada penurunan kualitas dari tradisi melekan ku. Dulu, aku melek membaca buku bermutu, dari Filsafat Ghazali, sampai hadad Alwi. Dulu aku berdiskusi tentang makna hidup dengan berbagai kalangan. Dari Kiai, sampai tukang batu ali. Yah, pesantrenku sering disinggahi banyak orang, dari berbagai kalangan. Mereka sering menginap beberapa hari, berriyadloh, begitu istilah bagi mereka yang haus ketenangan jiwa, dan berusaha untuk dekat pada Tuhannya, “Melatih diri untuk menjadi insan sholeh” kata kiai. Atmosfer kesalehan nan privat itu mau-tak mau menyentuh, dan  merengkuhku. Aku sempat terlena pada keintiman jiwa dengan Sang Gaib. Kondisi tersbut, hanya kudapatkan kurang dari tiga tahun. Selebihnya, aku terjerat pada egosentris. keakuan yang meraja. Merasa peroleh anugerah terindah, berupa kesalehan yang berhias individualisme. Aku menjadi seorang yang egois. Jika kuingat masa-masa itu, aku tertawa, melihat diri yang jenaka.&lt;br /&gt;Keadaan ini bertambah parah, ketika aku merasa mendapat pengetahuan lebih. Aku terjebak kecerdasan semu. Mencoba menafsir apa yang tak mampu kutafsir. Berfikir tentang hal yang tak layak diukir. Berdzikir getir karena getir tak lekas minggir, dari diri yang fakir. &lt;br /&gt;Sampai kemudian aku dipertemukan dengan dialektika kaum cendekia. Segera saja aku merasa bergaya, bertingkah, sok berkelana dengan beragam paradigma yang menurutku –saat itu- mewah. Aku jumawa. Hingga tak sungkan lagi menggugatNya di depan massa. Aku terlena pada pencarian, hingga sulit temukan jalan. &lt;br /&gt;Dan kini aku dibuai hedonisme. Aku merasa jadi seorang yang materialistis. Bergulat dengan kebutuhan hidup. Dihantui obsesi duniawi. Aku hampir tak percaya hal yang ukhrowi. Bahkan  ketenangan semu dengan mengingatNya pun tak mampu kuraih.  Aku kehilangan rasa khusyuk. Aku kangen rasa itu. Teduhnya jiwa, cerahnya fikiran.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1032349760833697268?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1032349760833697268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1032349760833697268&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1032349760833697268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1032349760833697268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/01/aku-jumawa-200109-tepat-pukul-130.html' title='Aku Jumawa!                                                                                       (20/01/09. tepat pukul 1.30 sampai 2 pagi)'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5906158406477232165</id><published>2009-01-21T09:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T10:52:33.048-08:00</updated><title type='text'>Lelah itu biasa, Sob!</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelah itu biasa menghampiriku, namanya juga orang hidup, ya mesti merasakan sesuatu. termasuk lelah. sebab lelah itu suatu perasaan juga. serius aku lelah banget. lelah mebolak-balik kata menjadi kalimat. lelah berkelana. "Tapi ini proses yang mesti gw jalanin," batinku saat ini. maka aku tersenyum mengingat cerita tentang rasa lelah. Dan bibirku semakin terkembang mendengar lagu Dewi Lestari bertajuk "malaikat juga tahu"yang dibuka dengan kata, lelah.   &lt;br /&gt;besok aku harus bersiap lagi untuk melakukan 'bag packker' bermodalkan selembar surat tugas dari sebuah koran, berkeliling mencari makanan atu pertokoan yang layak diberitakan. tapi aku sempat kecewa, ketika dua hari lalu aku ditegur lewat sms, "cari beritanya jangan pedagang gerobak, ya!" begitu bunyi pesan dari seniorku di koran tersbut. kenapa jangan pedagang gerobak? bukankah yang dicari adalah news values? dan aku sering temukan nilai berita dari para pedagang kecil. aku melihat human interest. dan berdasar pada kaidah jurnalistik yang pernah kupelajari, human interest menjadi salahsatu nilai berita yang layak jual. apa karena mereka tak mampu beriklan, lantas mereka tak layak masuk berita? hmm.. kapitalis benar!&lt;br /&gt;tadi siang aku diberi tugas baru untuk meliput dunia politik di Kota Serang. aku senang dengan tantangan ini. tapi semalam tadi, tepat pukul 23.30, teleponku tiba-tiba berdering, redaktur pelaksana harian tempatku magang, berkata " kamu besok gak usah ke Pemda, dan tetap meliput bisnis, ya. seniormu sakit." lelah lagi, deh.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5906158406477232165?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5906158406477232165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5906158406477232165&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5906158406477232165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5906158406477232165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/01/lelah-itu-biasa-sob.html' title='Lelah itu biasa, Sob!'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-585304724108817460</id><published>2009-01-18T10:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T10:08:09.531-08:00</updated><title type='text'>menjalani proses</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok  adalah hari ke 19 aku magang di sebuah media lokal yang bernaung dialam sebuah group media yang sedang meraja di Nusantara. Awalnya aku senang dengan tantangan yang diberikan, 3 berita setiap hari. Apalagi aku diplot untuk meliput berita info bisnis, besar harapku untuk trurt mengawal tumbuhnya ekonomi kerakyatan di Banten. &lt;br /&gt;Sampai kemudian, datang sebuah petuah, “Cari berita bisnis yang berprospek pada peningkatan iklan” begitu kata seorang seniorku. Hmm, bekerja di media lokal yang baru tumbuh, membuat wartawan harus bisa menempatkan diri sebagai public relation, aku mencari berita plus tugas tambahan, mencari iklan!&lt;br /&gt;Sebab aku butuh pekerjaan itu, maka tak banyak protes ku dendangkan. Aku tahu posisiku, Wartawan Magang. Dan wartawan magang di media professional, tentu berbeda dengan wartawan magang di pers kampus. Setiap hari kususuri kota serang, mencari berita untuk halaman bisnis. Kompensasi iklan tak begitu kugubris. Aku pilih meliput info bisnis kecil, dengan harapan, semoga liputanku bisa menumbuhkan gairah para pengusaha kecil lokal. Semua liputanku bersifat ‘ecek-ecek’. Aku tak meliput mall, dan usaha-usaha agen kapitalis lain. Meski hanya wartawan info bisnis, aku ingin berteguh pada visi idealku semasa di pers kampus. Aku meliput pedagang penganan tradisional, aku meliput pedagang t-shirt, dan pakaian produk lokal, atau yang dikenal dengan clothing dan distro. Satu harapanku, semoga usaha mikro yang jelas menjual barang ‘nyata’ di serang bergeliat. Semoga krisis keuangan di Amerika tak begitu melemahkan urat ekonomi rakyat kecil.&lt;br /&gt;Sempat kubandingkan pola manajemen rdaksional di media tempatku bekerja saat ini, dengan manajemen kerdaksian yang sempat kuterapkan di Pers Kampus, bersama para sahabat yang satu visi. Kami berkeinginan memberi manfaat pada para pembaca. Kami ingin tumbuhkan wacana kritis di tengah kampus kami yang feodal. Visi itu hamper terlaksanan rasanya. Sampai kemudian kami tingkatkan visi menjadi media alternative mahasiswa, dan pelajar. Saying, baru 3 bulan, kami berjuang, dating berbagai bala bencana yang melemahkan semangat para crew. Bahkan aku dan beberapa pimpinan divisi saat itu, kemudian ikut melempem. Visi itu kandas.&lt;br /&gt;Sekarang, aku bergabung di sebuah media profesional tingkat lokal. Prinsip yang kupegang selama tiga tahun di pers kampus, hampir tergerus oleh beragam alasan. Idealisme, rasionallisme yang ku junjung selama menjadi wartawan kampus, hampir pudar. Dan aku merasa beberapa kemampuan menulisku melemah. Sebab aku dikejar deadline, aku mesti hasilkan 3 sampai 6 berita dalam sehari. Aku tak lagi ketat dalam kualitas tulisan.Sering aku didingatkan tentang komposisi tulisan, ”betapa bodohnya aku?”.&lt;br /&gt;Aku juga dirundung problem baru, menyiapkan ongkos liputan, dan ongkos ke kantor setiap hari. Banyak yang bilang, dengan diplot di info bsinsi, aku punya banyak peluang untuk menjadi kaya. Ha.ha, ya aku berharap kaya berkat doa para pedagang kecil yang senang ketika warungnya kuliput. &lt;br /&gt;Aku ingin tetap berteguh pada kode etik jurnalistik, dan visi sosialis, yang pernah diajarkan para guruku terdahulu.. dan seharusnya, perusahaan pers ketat menginisiasi wartawannya untuk tidak menjadi wartawan bodrek. Untuk itu, mereka harus siap memberi fasilitas, dan mencukupi kebutuhan wartawannya. Agar wartawan bisa memproteksi diiri dari godaan uang tips yang terkutuk, tapi menggiurkan, he&lt;br /&gt;Aku juga ingin tetap menuliskan refleksi kritis atas berbagai realita yang menghampiri. Semoga aku benar-benar jadi penulis hebat. Ha,ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-585304724108817460?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/585304724108817460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=585304724108817460&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/585304724108817460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/585304724108817460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/01/menjalani-proses.html' title='menjalani proses'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-3851967365320731653</id><published>2009-01-17T05:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T05:32:57.889-08:00</updated><title type='text'>Menyesali pilihan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup ini seperti permaian lotere. kita bebas memilih, dan kemudian menyesali pilihan kita. Dihadapkan pada berbagai pilihan, sering membuatku panas-dingin. apalagi ketika  sadar, telah memilih yang bukan terbaik. memimilih itu membingungkan. tapi hidup adalah pilihan, dan memaksa kita untuk memilih. yang repot adalah merelakan pilihan kita, dan menjalani konsekwensi dari pilihan kita. meski kita memilih apa yang diobsesikan, tapi ternyata tetap tak memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama masuk kuliah, aku terobsesi untuk mengikuti dan menjuarai lomba menulis dan kepenulisan. sayang obsesi itu kini tinggal kenangan. ya sampai detik ini, ketika berbagai obsesi lain berkelabatan, obsesi itu belum tercapai juga. sampai sekarang ini, ketika usia perkuliahanku hampir mencapai titik akhir, impian untuk menjuarai lomba menulis tingkat lokal, maupun nasional, tak pernah kesampaian. hm.. pernah sekali aku menjuarai lomba resensi buku, tapi hanya sekali, di tingkat kampus, dengan peserta empat orang.&lt;br /&gt;ha.ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali kesempatan mengikuti lomba menghampiri. berkali pula hambatan datang, dan membuat obsesiku tak tercapai.Dua tahun lalu, ketika aku berekeinginan kuat mengikuti Anual conference yang rutin diadakan Diktis Depag, aku tersibukkan oleh advokasi kebijakan kampus, dan liputan khusus untuk demo IAIN Banten 2006. tahun lalu,ketika Ahmad wahib Award digelar, aku menyiapkan lagi tulisan, tapi kemudian gagal lagi, karena aku harus menyiapkan proposal dan format monitoring PKBM yang akan digarap sebuah LSm yang dipimpin salahsatu seniorku. kemarin, ketika aku hendak ikuti lomba menulis esai politik islam yang digelar sebuah partai, juga tak sempat kuikuti, sebab aku memilih magang di sebuah media lokal. dan barusan, aku menyesal gak bisa ikut lomba menulis esai urban sufism, karena aku terlambat mengetahui agendanya. padahal hampir tiap hari aku di warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku tak rela pada pilihanku sendiri? Mengapa penyesalan selalu datang seusai memilih? Mengapa aku bersedih hadapi konsekwensi dari pilihanku?&lt;br /&gt;Karena pilihan yang kulakukan tak lebih dari keterpaksaan. Aku dipaksa kondisi, Aku dipaksa kenyataan. dan Aku dipaksa oleh keterbatasan. Maka ke depan, tak hendak lagi aku memilih, jika itu tak perlu. tapi sepertinya sulit menghindari pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah aku memilih untuk dipilih, dan kemudian pilihan itu kusesali lagi. pernah aku memilih seseorang untuk kepentinganku, lagi-lagi tak seperti yang dibayangkan, repotnya memilih, maka aku tak hendak lagi memilih. Sebab aku bukan orang terpilih, yang layak tuk dipilih, saat ini, aku tak ingin lagi ikut pemilihan..   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-3851967365320731653?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/3851967365320731653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=3851967365320731653&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3851967365320731653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3851967365320731653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2009/01/menyesali-pilihan.html' title='Menyesali pilihan'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5914484408029672778</id><published>2008-12-13T12:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T12:01:20.157-08:00</updated><title type='text'>Mahasiswa, -seharusnya- tak sekedar membaca</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   leh : A. Malik Mughni*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu suka baca?”&lt;br /&gt;“Ya saya suka baca, baca SMS, baca diktat ketika ujian berlangsung, baca makalah ketika ada tugas presentasi, baca leaflet ketika ikut demo, dan baca pamphlet yang bertebaran di kantin kampus!”  &lt;br /&gt;  Dialog imajiner itu mungkin mencerminkan sebagian realitas Mahasiswa saat ini. Membaca bagi Mahasiswa tentu bukan hal yang sulit dilakukan, sebab selain telah tuntas mengikuti program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru, predikat Mahasiswa sebagai _ubsta intelektual, juga berkonsekwensi pada pembangunan sikap terpelajar, diantaranya dengan kebiasaan membaca.&lt;br /&gt;Meski terlalu sederhana, asumsi tersebut setidaknya dapat mewakili kesimpulan umum, bahwa membaca telah mengkultur, atau bahkan menjadi semacam social heritage (warisan sosial) di kalangan Mahasiswa. Jika merujuk pada definisi membaca ala Jack.C. Richard, John Plat, dan Heidi Plat, bahwa membaca adalah melihat teks untuk memahami isinya, maka minat baca Mahasiswa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan kata lain peradaban Mahasiswa –secara umum- telah cukup tinggi, dan mencerminkan kebudayaan modern..   &lt;br /&gt;Tapi jika proses membaca mensyaratkan repsesifitas, dan penalaran kritis ala Habermas, apakah membaca  SMS, dan membaca pamphlet, dapat meninggikan peradaban? Apalagi jika melihat realitas dilapangan, tentang tradisi tawuran dan budaya kekerasan yang menjalar di kalangan Mahasiswa, tentang immoralitas dan hedonisme yang juga mewabah di lingkungan kampus, tentang aksi-aksi anarkhis dengan tuntutan yang kurang _ubstantive  dalam beberapa demonstrasi oknum Mahasiswa, adakah cermin tingginya peradaban di sana? Bukankah paradigma kritis –yang identik dengan Mahasiswa- mewajibkan analisa mendalam, cermat, dan dialektis dalam menentukan sikap, dan  keputusan?  &lt;br /&gt;Ternyata membaca versi Mahasiswa dan membaca versi umum, amatlah berbeda, Mahasiswa, seharusnya dapat berinteraksi dengan bacaan, tidak hanya menggali informasi, dan mudah terpengaruh oleh bacaan. Jika masyarakat umum percaya begitu saja pada gossip, dan berita media, maka Mahasiswa sudah seharusnya menganalisa wacana media, dan menafsirnya. Sebab di Kampus –semestinya- diajarkan tehnik berfikir, dan metoda penafsiran teks yang beragam,sebagai bekal dalam membaca.&lt;br /&gt;Tapi, lagi- lagi kenyataan di lapangan berbeda teori ideal yang ada. Mahasiswa justru diklaim sebagai salah satu komponen masyarakat yang mudah terprovokasi, mahasiswa juga mudah terpengaruh doktrin negatif. Simak saja bermacam berita tawuran, demo anarkhis, sikap immoral, hingga fundamentalisme dan gerakan garis keras yang banyak bermunculan di Kampus-kampus. &lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Apakah Mahasiswa –dalam hal ini- menjadi subyek, sehingga bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing, ataukah menjadi obyek yang diperalat dan menjadi korban atas sebuah sistem tertentu?  Saya cenderung melihat mahasiswa dalam problem ini, sebagai obyek penderita, yang dikorbankan oleh sistem. Ya setidaknya inilah yang saya rasakan di kampus kami (IAIN ”SMH” Banten). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan bermutu, barang mewah bagi Mahasiswa&lt;br /&gt;Mahasiswa dan bacaan mestinya menjadi dua kata yang sulit terpisahkan. Beragam tugas perkuliahan menuntut Mahasiswa untuk mencari refferensi, bila ingin gratis, buku referensi perkuliahan –mestinya- bisa didapat di perpustakaan Kampus. Ya, mencari refferensi, itu tujuan utama para pengunjung perpustakaan, sisanya, suasana pepustakaan kampus kami lebih enak digunakan untuk tempat pertemuan rahasia, pacaran misalnya.&lt;br /&gt;Pacaran di perpustakaan, cerita klasik itu masih bisa disaksikan di Kampus kami. Karena perpustakaan di kampus kami ramai dikunjungi pada waktu tertentu saja. Menjelang masa pengajuan skripsi atau tugas akhir perkuliahan, dan pada masa ujian tengah atau akhir semester. Di luar masa itu perpustakaan kampus kembali senyap, hanya beberapa pasangan mahasiswa yang terlihat di sana. Mungkinkah hal yang sama juga terjadi di Kampus lain? Saya tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;Beberapa kawan yang pernah terbilang rajin berkunjung ke perpustakaan, sering mengeluhkan kejenuhan mereka dengan suasana perpustakaan, buku ‘buluk’ yang tidak terrawat, pendingin ruangan yang tidak berfungsi karena kurangnya daya listrik, hingga kurang lengkap dan beragamnya buku referensi yang bisa dipinjam. &lt;br /&gt;Meski ada ruang referensi –pada waktu tertentu itu, ruangan ini paling sering disesaki pengunjung- yang menyediakan keragaman buku dengan agak lengkap,  tapi buku di ruangan tersebut tidak dipinjamkan, dan hanya boleh dicopy di ruangan, dengan harga yang tidak biasa. Hak mahasiswa untuk mendapat fasilitaspendidikan yang bermutu di kampus kami, memang agak dikebiri. Mungkin, hal yang sama terjadi dikampus lain? Saya tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;Minimnya bacaan bemutu, sistem, pendidikan tinggi yang hanya mementingkan angka indeks prestasi, dengan metoda ujian konvensional dan cenderung teks book, secara tak sadar membuat kami menjadi pecontek ulung. Verifikasi tugas karya tulis yang rendah, juga memudahkan kami menjadi plagiator dalam menulis makalah, bahkan –mungkin- skripsi. Perkuliahan yang mensyaratkan kehadiran 70%, dengan proses kegiatan belajar-mengajar yang kurang bermutu dan pola ajar ala yayasan (beberapa Dosen seakan mentasbihkan diri sebagai dewa ajar, yang anti kritik), membuat sebagian kami segan di kelas, dan membungkam. Ditambah fasilitas pendidikan (perpustakaan, misalnya) yang kurang layak, bisa jadi menghasilkan mahasiswa yang kurang bermutu pula. &lt;br /&gt;Nah, jika Pola pendidikan yang berlaku  semacam ini, jangan heran jika tridarma perguruan tinggi tidak tercapai sepenuhnya. Bagaimana seorang Mahasiswa akan mendapat dan mengamalkan aspek penelitian, jika sikap kritis dibungkam sejak di kelas, bagaimana pengabdian masyarakat akan menghasilkan perubahan yang signifikan ke arah perbaikan kultur, jika tradisi membaca yang ada, hanya sebatas  menggali, dan memindahkan informasi, tanpa verifikasi kelengkapan data, analisa wacana, dan dialektika, untuk selanjutnya ditafsir, dan dipraktikkan ditengah masyarakat, dengan penyesuaian kultur dan sosiologi masyarakat. Ketika sikap jujur dalam berkarya sudah hilang, bagaimana lulusan perguruan tinggi dapat mendidik masyarakat?&lt;br /&gt;Sebagai obyek perguruan tinggi, Mahasiswa berhak mendapat pendidikan yang layak dan bermutu, mahasiswa juga berhak atas fasilitas pendidikan, diantaranya perpustakaan, dengan buku-buku berkualitas, dan pelayanan nyaman, dan  ramah dari pengelolanya. Karena mahasiswa tak sekedar membaca, maka beri Mahasiswa bekal praktis untuk membaca, proses dialektis,  pembelajaran kritis, serta kecermatan dalam menganalisa teks, mestinya ditradisikan, bermula dari pengajar yang berkualitas, dan bahan bacaan yang berkualitas pula. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;• Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jinayah Siyasah, &lt;br /&gt;Fakultas syari’ah IAIN ”SMH” Banten,&lt;br /&gt;Pengaji di Umbruch Cercle, &lt;br /&gt;Saat ini bergabung di LAKPESDAM NU Kota Serang. &lt;br /&gt;Tulisannya dapat dilihat di www.malikmughni.co.cc &lt;br /&gt;(http://a-malikmughni.blogspot.com) &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;                                                                                                                                                                                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5914484408029672778?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5914484408029672778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5914484408029672778&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5914484408029672778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5914484408029672778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/12/mahasiswa-seharusnya-tak-sekedar.html' title='Mahasiswa, -seharusnya- tak sekedar membaca'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4312418023602053969</id><published>2008-11-23T06:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T06:21:52.327-08:00</updated><title type='text'>Ampun, gusti...</title><content type='html'>Ini sudah ke sekian kalinya FPI diberitakan meresahkan warga lain di negeri ini., (baca deh berita terbaru tentang resahnya eros Djarot, tentang filem "lastri"nya yang ditentang.) Terus-terang aku limbung sama sikap mereka dan para pendukungnya. sebagai muslim yang tumbuh di dunia pesantren, aku belum pernah mendengar doktrinan kiai di pesantrenku, sekeras Om Rizeck ini (eh, beliau layak disebut kiai enggak seh?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika di Pesantren, aku sempat senang dengan nada keras para penceramah kondang. dari Habib Rizziq, Idrus Jamalullail, Syarifin maloko, hingga Anton medan, kala itu, aku rajin menyambangi sebuah majelis ta'lim di Cirebon kota, yang konon milik seorang muallaf, bernama Yuqeng, meski jaraknya cukup jauh dari pesantrenku, sebulan sekali, di Jum'at sore aku berkunjung ke sana, sambil cuci mata di sebuah mall yang letaknya tepat di depan majelis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penceramah itu memang dikenal vokal sejak Orde-Baru, mereka rajin mengkritik pemerintah. tapi siapa sangka jika di era reformasi, mereka berubah jadi pimpinan preman?&gt; maaf buat para pengikutnya, aku enggak bermaksud menyinggung kalian (nanti disangka teror psikologis, lagi) aku cuman lelah liat tingkah kalian yang sok jago dan menjadi preman dengan mengatasnamakan agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4312418023602053969?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4312418023602053969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4312418023602053969&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4312418023602053969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4312418023602053969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/11/ampun-gusti.html' title='Ampun, gusti...'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-858927378246358320</id><published>2008-11-16T08:20:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T05:16:29.936-08:00</updated><title type='text'>Kader Nu Opportunistik?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hmm, jadi prihatin baca postingan tentang keluhan Mbah Muchit (ww.NUOnline, 12 Nov/2008), terus-terang awalnya kupikir para sesepuh dan pejabat Nu saat ini masih disibukkan dengan politik praktis, dan beragam kepentingan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan mbah muchit sepertinya mudah diwujudkan, seandainya para pejabat struktural NU, dan berbagai departemennya, serta banom (badan otonom)nya, bersikap proaktif, untuk "turba" (turun ke bawah,-meminjam istilah era revolusi, red-). membina dan mengajak kaum muda Nu untuk bergabung dan memberi ruang kontribusi untuk kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tradisi "turba" itu hanya dilakukan menjelang Pemilu (pilkada, maupun Pemilu RI), atau Konferensi, baik tingkat cabang maupun wilayah. "Turba" nya juga dilakukan dengan tambahan embel-embel kepentingan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut mungkin hanya asumsiku saja, melihat realitas yang terjadi di tempat tinggalku saat ini (Serang, Banten), para tokoh PBNu ( juga departemen, dan Banomnya, IPNu misalnya). Beberapa waktu lalu, dikabarkan beberapakali berkunjung ke PCNu Serang, kebetulan saat itu menjelang Konferwil NU, kemudian berlanjut dengan Konferwil IPNU Banten. Pembahasan yang dilakukan, ya seputar politik belaka. dan satu lagi, kunjungan pengurus pusat IPNU, -yang, konon- untuk menjaring tim kampanye pencalonan salah satu pengurus IPNU sebagai caleg DPRRI. Kabarnya lagi, yang ditunjuk jadi tim wilayah Banten juga orang Opportunis banget, ( di Banten, ada julukan 'ular' bagi kader NU yang bersikap opprotunis, dan untuk yang satu ini, katanya sih adalah ular  berkepala dua, he)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju dengan asumsi Mbah Muchit, bahwa banyak kaum muda Nu tidak terberdayakan potensinya. tapi saya kurang setuju jika kaum muda Nu dianggap kurang potensial (semisal, dalam hal kepenulisan, investigasi dan tradisi intelektualitas lainnya). Sebab setahu saya, di berbagai mailist, blogroll, dan media-media internal kampus, maupun media lokal, banyak anakmuda berlatar belakang Nu mampu menulis, tapi mereka -kadang- tak mencantumkan identitas ke-NU-annya.&lt;br /&gt;Apa sebab?  Karena hingga saat ini, kaum muda NU yang bepotensi itu kurang dirangkul, dan mereka meretas sendiri jalan intelektualitas masing-masing.   Mereka melakukan kajian informal, menulis, dan berkarya, tanpa melabelkan ke-NU-an, meski secara ideologis, mereka tak bisa memungkiri identitas kultural, sebagai anakmuda NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, di PMII, setiap kader mengembangkan diri masing-masing, dan secara perlahan melepas identitas ke-PMII-an, dan otomatis, secara kultural, identitas ke-NU-an dilepas juga.  Lemahnya administrasi dan data warga Nu, mungkin juga adalah biang dari kenyataan ini. tanggung jawab siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di Lakpesdam, masing-masing PC bergerak sendiri, seolah tidak ada koordinasi dengan PP Lakpesdam, sebab sebagai departemen, Lakpesdam, LTN, LBM, dan lainnya hanya berkoordinasi dengan PCNU masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi lembaga-lembaga atau banom yang ada di lingkungan strategis (secara intelektual dan ekonomi; dalam wilayah kota pendidikan, misalnya), akan mudah melakukan pengembangan, sementara bagi yang ada di lingkungan kurang strategis, mereka meraba sendiri, tertatih dan kebingungan. maka apa peran Lembaga pusat? otonomi menjadi dalih untuk lembaga-lembaga di pusat untuk bertindak sendiri, dan melepas diri dari kewajiban membina lembaga-lembaga di daerah (ini yang terasa di Serang, loh, entah di daerah lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbasnya, lihat saja, muncul beragam gaya dan ideologi yang diusung lembaga-lembaga tersbut (misal;Lakpesdam), ada yang bernuansa liberal, karena 'difounderi' oleh donatur dari eropa, australi dan USA, ada yang bernuansa konservativ, sebab dapat dananya dari Yaman, ada juga yang lebih memilih kajian politik dan monitoring APBD, sebab di sanalah -mungkin- sumber dana itu ada.  (Hmm, ke depan, bisa jadi ada lembaga NU yang bernuansa Wahhabi, karena dapat donor dari Saudi, kali yee?) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi, para pejabat struktur PCNU -kadang- sibuk berpolitik praktis, atau bahkan sibuk merangkul penguasa daerah, yang ironis bagi saya, kadang alasannya sangat sepele dan pragmatis betul, ( Di Serang, dan Banten, saya menyaksikan ini. beberapa Ulama mendukung calon tertentu, dan atau mencalonkan diri, dengan dalaih demi kompensasi mendapat dana untuk mengontrak atau membangun Kantor PCNU) Pak Hasyim juga, dalam konferwil NU Banten, sempat meminta itu, bahwa "Ketua NU Banten, mendatang, harus bisa mengusahakan Kantor permanen", ironis, ko cuman gedung, yang dipikirkan? pengaruh depelovmentasi-isme Orba, yag hanya mementingkan pembangunan fisik, tampaknya masih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jangan heran jika muncul anggapan di kalangan muda NU, bahwa para pengurus struktural NU tak sempat memikirkan ummat dan kadernya, sebab sedang sibuk mikirkan 'BaseCamp'.  Dan jangan bingung juga, kalau kemudian, banyak kader potensial Nu menyeberang ke ormas lain, atau membuat LSM sendiri, yang bisanya sekedar batu loncatan menuju hal yang pragmatis, mungkin benar apa yang diriset dalam beberapa buku ke-NU-an yang ditulis oleh orang luar NU, bahwa bahwa NU adalah ormas yang berideologi Opportunistik. (wallahu'alam)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-858927378246358320?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/858927378246358320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=858927378246358320&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/858927378246358320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/858927378246358320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/11/kader-nu-opportunistik.html' title='Kader Nu Opportunistik?'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-2649153357628801762</id><published>2008-11-09T08:07:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T05:15:39.790-08:00</updated><title type='text'>Nominator Award</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SRdGnBeCZ3I/AAAAAAAAAJ0/eUpFHTG1Tmw/s1600-h/award.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 260px; height: 167px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SRdGnBeCZ3I/AAAAAAAAAJ0/eUpFHTG1Tmw/s320/award.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266755925456349042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hampir seminggu, aku tak mengecek e-mail dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blogging&lt;/span&gt; disamping kurang dana buat bayar warnet, belakangan ini aku dilelahkan oleh beberapa kegiatan. dan malam ini aku dapat kesempatan itu, membuka blog, melihat ragam tulisan baru yang diposting oleh beberapa kawan yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngelink&lt;/span&gt; dengan blog-ku, serasa bertemu kawan lama saja. seolah kerinduan membuncah, ha.ha. Dan tak dinyana, seorang teman dari seberang, -dia konon sedang kuliah di Negeri Fir'aun- Mursalin, namanya, putera Surabaya, yang hingga kini hanya kukenal melalui kritik dan sarannya di kolom 'tetamu', menawarkan nominator &lt;span style="font-style: italic;"&gt;award&lt;/span&gt;, yang katanya hanya diberikan kepada tujuh orang pilihannya. aku senang, dan berterimakasih buatnya, dan kalian, yang berkunjung ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blog &lt;/span&gt;malikmughni ini. Beberapa tulisan isengku, yang kebanyakan tak dimuat media profesional -padahal, beberapa diantaranya, kukirim berkali, ke beragam media cetak Lokal, maupun nasional-, yang kupikir memang tak layak dimuat di media-media beroplah ribuan eksemplar/terbit, dan sempat kukira tak layak dibaca, ternyata ada juga yang suka. ketika masih aktif di pers Kampus, aku sering merasakan bahagia dan kebanggaan yang terperi, ketika tulisanku dibincangkan, dikritik, bahkan dimaki. Aku puas bahwa, menulisku tak sia-sia.&lt;br /&gt;Dan minggu lalu, 'Kang Mursalin menominasikan Award ini kepadaku, dan konon wajib dipasang,  kemudian aku harus memilih 7 nominasi penerima Award selanjutnya. Sekaligus menyebarkan pesan penghargaan ini kepada blogger yang terpilih nantinya: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="overflow: visible;" align="center"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Semangat Ngeblog dan Terus Berkarya&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk jelasnya, akan saya tuliskan kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh sponsor Award ini yang harus dilakukan oleh para nominator nantinya:&lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Put the logo on your blog.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Add a link to the person who awarded you.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nominate at least 7 other blogs.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Add links to those blogs on yours.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Leave a message for your nominees on their blog.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan aku memilih beberapa sobat, guru, dan rivalku sebagai nominator blog Award :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; 1. SiGMA (http://www.lpmsigma.co.cc) blog komunitas yg kerren&lt;br /&gt; 2. Kang Wawan   (http://www.arwani-syaerozi.blogspot.com) banyak tradisi  keislaman yang ditulis dengan ringan, tapi bermutu, dalam empat bahasa yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fushah&lt;/span&gt; (Arab, Inggris, Francis &amp;amp; Indonesia)&lt;br /&gt; 3. Goen's SiGMA (http://www.elburhan.co.cc) Blog sobat gw yang 'lumayan gaul, menawarkan beberapa fasilitas blogging yang bisa diunduh gratis.&lt;br /&gt; 4.  Ibnu (http://ibnuadam.multiply.com) Berbagai kritik dan kecaman atas lingkungan, dan kondisi sosial, serta pemerintahan dan pedidikan di Banten, termuat di blog ini.&lt;br /&gt; 5.Kang Irwan (http://irwanmasduqi83.blogspot.com), Beragam rujukan cerdas tentang pemikiran ISlam, ada di dalamnya.&lt;br /&gt; 6. Thoink (http://gadingtirta.blogspot.com) rivalku yang narsis ini, banyak menulis tentang kesehariannya dengan analisa yang lucu.&lt;br /&gt;7.  Joewanda (http://jasmerah1954.blogspot.com). berbagai tulisan di blog ini penuh nada gugatan yang emosinal, tapi gambar-gambar yang ditampilkan, membuat blog ini terlihat manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi, sebenarnya blog-blog yang menurut saya layak dkunjungi dan mendapat nominasi award ini. diantaranya, mereka yang tertera di link sahabat saya, dan laiinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menarik juga, kayaknya jika nominasi award bruntut ini dilestarikan, minimalnya bisa menambah silaturahim, dan selamat Menulis!&lt;br /&gt;Semangat Ngeblog, dan Terus Berkarya!!&lt;br /&gt;terimakasih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-2649153357628801762?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/2649153357628801762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=2649153357628801762&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/2649153357628801762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/2649153357628801762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/11/hampir-seminggu-aku-tak-mengecek-e-mail.html' title='Nominator Award'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SRdGnBeCZ3I/AAAAAAAAAJ0/eUpFHTG1Tmw/s72-c/award.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-7754759457844531908</id><published>2008-10-31T13:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T17:28:58.843-07:00</updated><title type='text'>ISlam Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi ini, aku meraih lagi setitik kebanggaan terhadap Indonesia. Ya, pagi ini, setelah aku tak jadi menggarap skripsi, dan malah membuka beberapa situs dari para bijak-bestari tradisional, aku melihat Indonesia dari sisi positif. Setelah lama terpengaruh oleh Puisi Taufik Ismail, yang membuatku turut "turut malu menjadi orang Indonesia", setelah bertahun aku sedih melihat bangsa yang selalu bermuara pada anarkhisme dan arogansi para pengklaim kebenaran subjektif, setelah berkali aku dibuat bingung oleh orang-orang yang kukagumi, kini aku -seolah- menemukan pintu keluar dari wabah inferioritas yang lama menjangkit dan mewabah dalam dalam hampir semua diri anak bangsa. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Semalaman, aku membaca essainya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), aku juga menyimak tulisan-tulisan Gus Mus (K.H. Musthofa Bisri), beberapa tulisan Gusdur, dan beberapa artikel lain dari numesir.org, sekumpulan tulisan sekelompok anak muda NU yang kuliah di Mesir. Mereka memandang negeri ini dari persfektif lain. Kultur dan tradisi masyarakat, dibaur dengan anasir sejarah, dana beberapa tafsiran 'khas' atas teks-teks keagamaan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;dari CakNun, aku mendapat terma "Maiiyyah", kebersamaan, sebagai sebuah paradigma sosial. dari GusMus, aku mendapat 'berkah' sufisme yang sedikit mistis, namun menarik meski kadang dibumbui parodi. dari GusDur, aku mendapat kekayaan tradisi, dan dari anak-anak muda Nu di Mesir, aku melihat transformasi keagamaan yang membumi. Beragam wacana tersebut, tidaklah terlalu asing, sebenarnya, tapi membaca lagi karya mereka, menyimak lagi pemikiran mereka dalam membahas fenomena yang menghampiri bangsa ini, memberiku nilai tertentu, seolah tercerahkan setelah lama dihantui kengerian melihat bangsa ini, (ha.ha, aku jadi ingin tertawakan diri. Masa depanku saja belum jelas, aku kok, sempat-sempatnya gelisah melihat bangsa ini? sok penting banget, ya? tapi tak apalah,  kadang memikirkan hal di luar diri itu mengasyikkan, dan sesekali merenungkan nasib bangsa juga tak salah, bukan? he.he.)&lt;br&gt;&lt;br&gt;Cak Nun, yang 'mbeling'  ternyata dilirik oleh para pengusung fundamentalisme agama. bahakn pernyataannya dalam sebuah acara komunitas, kemudian dikutip sebuah partai  dan organisasi yang selama ini dikenal puritan, dan bukan tidak mungkin, kutipan pernyataannya, dijadikan bahan kampanye, padahal, jika disimak lebih jauh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;support &lt;/span&gt;Cak Nun terhadap partai dan kelompok tersebut, adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ekspectasinya&lt;/span&gt; agar mereka yang puritan, berubah terbuka, mereka yang fundamental, menjadi moderat, mereka yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sok&lt;/span&gt; eksklusif, menjadi inklusif, dan mereka picik terhdap tradisi, menjadi bijak. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"PKS sekarang sedang berada dalam posisi punya &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;presisi mana yang sebaiknya dimaterikan, mana yang sebaiknya digerakkan sebagai energi, dan mana yang mesti frekuensi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau overmateri&lt;/span&gt;, bisa-bisa PKS &lt;em&gt;diarani&lt;/em&gt; (dibilang) ini itu. Apalagi sekarang Islam sedang &lt;em&gt;dikuyo-kuyo, &lt;/em&gt;KS jadilah kertasnya Allah. PKS jadilah mangsi (tinta)-nya Allah...." &lt;em&gt;Pemimpin Kiai Kanjeng ini juga melanjutkan, bahwa "PKS harus &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;menghormati kraton-kraton yang ada.&lt;/span&gt; &lt;/em&gt; &lt;br&gt;Pada bagian lain,  Caknun juga menasihati pengurus Hizbut Tahrir, yang sowan kepadanya&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;"Dalam politik dan kebudayaan muncul stigma yang sangat sulit, yaitu bahwa Islam itu musuhnya demokrasi. Ini berlaku secara internasional. Kita sering menjadi pelanduk stigma itu. Kalau tidak demokrasi, ya Islam. Atau sebaliknya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padahal demokrasi itu bagian kecil saja dari demokrasi, kadang-kadang diperlukan, kadang-kadang tidak. Demokrasi dibutuhkan pada proporsi tertentu. &lt;/span&gt;Nah, saya tidak mau menjadi korban stigma itu. Saya cairkan semuanya ke dasar-dasar nilai semula...&lt;/span&gt;,"(http://padhangmbulan.com/info/4-berita&lt;em&gt;&lt;/em&gt;).&lt;br&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Pernyataan awal Cak Nun (tentang PKS) kemudian diklaim sebagai dukungan, dan dijadikan bahan kampanye. Padahal, jika menyimak lebih lanjut, CakNun jelas memberikan harapan yang mustahil, sekaligus sindiran tajam, kepada PKS, "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau overmateri&lt;/span&gt;, bisa-bisa PKS &lt;em&gt;diarani&lt;/em&gt; (dibilang) ini itu" sikap materialistis, memang menjangkit di kalangan mereka, maeterialistis dalam hal politik, juga materialistis dalam hal syari'ah. kemudian, pernyataan &lt;em&gt;PKS harus &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;menghormati kraton-kraton yang ada" &lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font size="2"&gt;saya pikir adalah hal yang mustahil bagi PKS, sebab, jika mau jujur dan idealis, PKS tentu berseberangan dengan tradisi Indonesia, yang diusung mereka, kan (kalu jujur, dan tidak munafik,) adalah reduksi dari gaya Ikhwanul Muslimin. begitu juga dengan restunya, kepada HT, sebenarnya berisi kritik tajam terhadap nalar mereka yang kacau, tentang khilafah islamiyah, yang ternyata juga berbau demokrasi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;span style="font-family: arial,helvetica;"&gt;Tapi yang menarik buatku bukanlah sindiran dan kritik terhadap mereka, yang emnarik buatku, adalah bagaimana respon mereka yang dikritik, justru malah -seolah- mendapat restu dan dukungan dari CakNun, kritik, yang membesarkan hati, (kalau tidak dikatakan&lt;/span&gt; geer, he)&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;tokoh selanjutnya, yang  membuatku sedikit terhibur, adalah Gusmus (K.H. Musthofa Bisri), yang mengkritik Gusdur, dan kemudian, mengagungkannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. &lt;/span&gt;kata GusMus, yang kemudian dialnjutkan dengan analogi Khidir yang membocorkan perahu tumpangannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka tidak akan mendirikan partai baru," katanya. "Mereka mendirikan partai baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran."&lt;/span&gt;&lt;br style="font-style: italic;"&gt;&lt;br style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sekarang ini," kata si kawan melanjutkan "analisis"-nya, "justru menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena "perahu" itu milik orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri. (celaka 13/www.gusmus.net)"&lt;/span&gt; meski mengaku jengkel, namanya sering dicatatut sebagai deklarator PKB, dan kesal terhadap sikap Gusdur, tapi Gusmus masih melihat itu semua sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hal positif yang tersembunyi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;yah, uniknya orang NU, memang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;melihat sesuatu tidak dalam perspektif tunggal,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;karenaya, selalu aa sisi positif yang dianggap sebagai salahsatu hasil dari sesuatu. begitulah tradisi yang masih dipelihara sekelompok anak muda Nu yang sedang tinggal di Timur tengah.  sementara Gusdur, tak henti berkontroversi, dengan gaya 'pendekar mabuk'a nya, dalam membela beberapa kelompok  yang justru dibenci sebagah dari bangsa beradat ketimuran ini.&lt;br&gt;, Islam Indonesia itu memang majemuk, dan ini harus disyukuri, dengan tidak bertindak arogans, dan terlelu percaya diri, atau bahkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ge-er!&lt;/span&gt; &lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;br&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-7754759457844531908?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/7754759457844531908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=7754759457844531908&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7754759457844531908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7754759457844531908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/islam-indonesia.html' title='ISlam Indonesia'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-8697807881680119770</id><published>2008-10-30T04:17:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T08:17:53.022-07:00</updated><title type='text'>Dagang -in- Kecap Obama</title><content type='html'>Majalah Gatra bulan ini memprediksi Obama akan menang mutlak dalam pemilu Amerika Serikat (AS), November ini. Laporan itu disampaikn wartawannya langsung dari negeri paman Sam. Media-media lain di AS juga sama, meramalkan kemenangan Obama, sebab ia dianggap tokoh transformasional. Demam Obama dimanfaatkan juga oleh partai-partai di Indonsia, saatnya tokoh muda memimpin! Begitu jargon yang diusung. Konon, Obamaisme memang merasuk ke hampir seluruh dunia.&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tapi di negeri ini, Obamaisme tak lebih dari tradisi ‘jualan kecap’. Para tokoh yang mengaku masih muda, ramai mempromosikan diri, tanpa diminta. Beberapa partai juga memanfaatkan gejala obamaisme untuk merangkul kaum muda, dengan mengiklankan tokoh muda yang dimilikinya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Bagiku mereka tak lebih baik dari para salesman. Ramai-ramai berpromosi diri, padahal kualitas dirinya dipertanyakan. Ada yang pamer kekayaan, ada juga yang pamer ilmu dan idealisme, padahal hamper semua kalangan intelektual tahu, dia yang pamer kekayaan, menjadi pimpinan partai karena uang. Hampir semua juga tahu, dia yang pamer ilmu dan idealisme, ternyata adalah actor penjualan asset Negara kepada komprador asing. Dan semua juga tahu, tokoh yang diklaim muda dan layak memimpin oleh sebuah partai, bahkan tak mampu berbuat apa-apa ketika dia memimpin parlemen. Hanya berita pernikahannya saja yang sempat membuat heboh, lainnya? Tak lebih dari dagang kecap!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Obama, memang menginspirasi kaum muda. Termasuk mengisnpirasi segenap kaum muda yang tak pandai berkaca diri, dengan tiba-tiba mengklaim diri layak menjadi pemimpin, padahal track reccordnya, seperi kaset kusut yang diputar dengan tape yang berusia satu abad.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Banyak orang Indonesia pandai mengambil momentum. Untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Hal yang wajar, dan baik, ketika kepentingan itu ditransformasikan dengan kerja keras dan semangat membara. Tapi yang kurang ajar, momentum itu dicuri untuk kepentingan diri, dan kelompok, atas nama Bangsa Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Maka, jangan heran bila nanti para pedagang kecap itu yang jadi, asset Negara mungkin akan habis dijual, dan atau, para pejabat yang akan dating, lebih pandai lagi berteater, dengan pameran senyum kharismatik, dan elegant, hasil kursus kepribadian. Para pejabat itu nantinya akan lebih banyak menghadiri undangan dari beragam kalangan dan organisasi, termasuk undangan nonton bareng, tanpa mampu menyelesaikan problem serius bangsa ini. Mereka berlomba meniru gaya Obama, tapi tak mampu meniru kharisma, kecerdasan, idealisme, semangat, dan track record Obama yang fenomenal.  &lt;/p&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-8697807881680119770?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/8697807881680119770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=8697807881680119770&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8697807881680119770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8697807881680119770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/dagang-in-kecap-obama.html' title='Dagang -in- Kecap Obama'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1025027651516508684</id><published>2008-10-30T03:59:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T07:59:57.514-07:00</updated><title type='text'>Lulus Pada Waktunya!</title><content type='html'>Judul tulisan ini mungkin mirip sebuah filosofi atau kalimat-kalimat bijak yang terdapat dalam syair atau puisi; Indah pada waktunya. &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Aku mendengar kalimat “Lulus pada Waktunya” dari teman sekelasku, Ita Nurul Masyitoh namanya. Dia mahasiswi biasa, yang –dalam pantauanku- menikmati kelajangannya. Akrab dengan kosmetik, kadang ngerumpi, dan bergenit ria. Kuliah baginya dalah bagian dari siklus kehidupan yang taat dijalani. Tapi nilai tak begitu penting baginya, tugas-tugas kuliah, hingga pilihan skripsi yang ia garap tidak neko-neko, yang penting lulus pada waktunya! Begitu katanya dari ujung telepon. Ya, siang tadi aku menghubungnya, skedar bertukar kabar dan informasi. Kabar terbaru darinya, adalah sidang skripsi yang akan ia jalani esok hari, dan pencalonan legislatif dari sebuah partai baru yang ia ikuti. Dari gadis biasa, kini Ia –akan- menjelma salah seorang yang luar biasa. Beberapa kalimat bijak lainnya juga kerap keluar dari mulutnya kini. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Jangan mikirin yang lain dulu, fokuslah pada skripsi, agar kamu segera lulus. Percuma rasanya, dikenal sebagai aktifis, dianggap cerdas dan kritis, tapi lulus tidak tepat waktu. Ita aja yang cewe, bisa focus! Begitu kira-kira, kalimat bijak yang terurai darinya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Selain Ita, ada beberapa gadis lain yang awalnya kuanggap biasa, ternyata luar biasa. Lia misalnya, dia gadis kecil berumur enam belas tahun, dan kini sedang bekerja sebagai pelayan toko baju, di kampungku. Hidupnya bagiku terkesan getir. Ayah-ibunya bercerai, dan kini Lia tinggal dengan nenek, dan Bibinya, yang menurutnya super cerewet, sehingga membuatnya tak betah tinggal di rumah. Dari tampang, pakaian dan sikapnya, aku mengira dia dari kalangan menengah ‘agak’ ke atas. Dia sering bercerita tentang masa SMP yang ia lalui dengan hura-hura dengan &lt;i&gt;Gank&lt;/i&gt;nya. Sesekali ia juga berkelahi dengan &lt;i&gt;Gank&lt;/i&gt; lain atau sesame peempuan lainnya,. Aku jadi teringat cerita &lt;i&gt;Gank&lt;/i&gt; Nero. Ia menikmati betul masa indah di sekolah, tapi kemudian, ia tak berhasil mencapai target nilai Ujian Nasional, “aku enggak lulus UN” ungkapnya, masih dengan bibir yang terkembang, “ bodoh banget, ya ?” hi.hi. tawanya getir. Tapi kenapa temanku yang lebih nakal, males, dan lebih &lt;i&gt;oon&lt;/i&gt; ko malah lulus? Gak adil, khan? Keluhnya lagi. Kini ia sedang menunggu hasil ujian paket B yang ia ikuti setelah gagal lulus UN, “kayaknya sih bakal lulus, sebab hampir semua soal dikasih tahu jawabannya, he.he”. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tak ada sedih di raut wajahnya, Meski ia mengaku sempat menangis tanpa henti selama hampir seminggu, kelugasan ceita dan senyum getirnya, menandakan Ia mampu menerima kenyataan dengan lapang hati, walau usianya belum juga dewasa. Bagiku ini cukup luar biasa. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Beberapa temanku yang lain, juga mengalami dilema kelulusan. Tak mampu mencapai target lulus empat tahun, karena memilih belajar tetang hal lain, ada yang sengaja kursus bahasa asing, (sesuai jurusan kuliah yang ditekuninya), ada juga yang terlena oleh kursus jurnalistik di Bali, beberapa lainnya, sengaja tak lulus tahun ini, karena menjabat posisi tertentu di organisasi. Mereka berani memilih, dan konsisten dengan pilihannya. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Sedang aku, masih kalut oleh berita pelaksanaan wisuda pada 03 desember mendatang, dan puluhan orang yang menanyakan kelulusanku, hm.. aku bersyukur banyak yang berharap, aku segera lulus. meski hati kecil, kadang limbung, sebab satu nilai mata kuliah menghambatku untuk lulus, belum lagi skripsi yang tak emangat lagi kugarap karena nilai yang tak keluar itu. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Organisasi yang kupimpin, belum juga jalan, sebab bingung menari dana. Lamaran kerja ku di beberapa media juga belum direspon, dan kini aku malah ikut proyek riset kependidikan, yang sesungguhnya tak sejalan dengan jurusan politik Islam yang ku ikuti, atau dunia jurnalistik yang kugeluti. Ah,, nanti juga akan lulus pada waktunya..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;      &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1025027651516508684?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1025027651516508684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1025027651516508684&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1025027651516508684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1025027651516508684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/lulus-pada-waktunya.html' title='Lulus Pada Waktunya!'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4643537430285164777</id><published>2008-10-30T03:43:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T07:43:26.359-07:00</updated><title type='text'>Sakit Jiwa</title><content type='html'>Oleh Abdul Malik Mughni,&lt;br&gt;20 persen warga Indonesia atau satu dari empat orang di negeri ini menderita sakit jiwa (koran Sindo, edisi minggu-minngu lalu). Asumsi yang dilontarkan oleh parapsikolog, beberapa waktu lalu itu mungkin benar adanya. Satu minggu ini saja aku mengalami kejadian lucu, aneh, sekaligus menyedihkan. Dua hari lalu, sebuah surat dari "Jibril ruhul kudus" lengkap dengan tandatangan Jibril (berupa inisial LE2) mampir ke kantor kami di PCNu Kota Serang. memberitahukan kebangkrutan Presiden Francis, Nicholas Sarkozy, sebagai peringatan Allah atas bangsa Indonesia, agar bertaubat, dan mengakui kerasulan Lia Eden.&lt;br&gt;Beberapa hari sebelumnya, surat yang sama juga datang dan memberi peringatan yang sama. pada surat yang lalu itu, Sang Jibril bahkan mengancam akan membuat Indonesia menderita krisis seperti Amerika, jika tidak mengeluarkan Lia dan Abdurrahman, sang nabi kerajaan eden. ancaman yang sama juga disampaikan oleh Imam Samudera, teroris Bom Bali 2. ia mengancam atas nama Allah, bahwa jika ia, Amrozi, dan terpidanamatiBom bali lainnya, jadi di hukum mati, maka Indonesia akan dibei Azab oleh-Nya. yang lebih lucu, buatku, adalah pernyataan Amrozi yang ingin menikah dua kali lagi,sebelum mati. lucu bukan? para prajurit Tuhan itu ternyata tidak betah dipenjara, mereka juga enggan menemui Tuhannya, sebagai konsekwensi jihad. gilanya lagi, masih ada juga yang berpikir tentang menikah lagi ketika ajal diujung mata.&lt;br&gt; pagi tadi juga aku diberitahu tentang tingkah Syekh Pujono Cahyo. P, yang dengan banggamengumumkan rencana pernikahannya dengan gadis usia 11, 9, dan 7 tahun. dia mentahbiskan sikapnya pada kisah Nabi Muhammad, yang menikahi Aisyah (liat Video di link ini: http://xmaro.multiply.com/reviews/item/64/APA_PENDAPAT_ANDA). ah, benar-benar gila.  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4643537430285164777?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4643537430285164777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4643537430285164777&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4643537430285164777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4643537430285164777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/sakit-jiwa_3903.html' title='Sakit Jiwa'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6640910811525078921</id><published>2008-10-16T12:21:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T01:01:38.898-07:00</updated><title type='text'>Dirham &amp; Dinar, mencari celah dalam Krisis Global</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrny7v7lMI/AAAAAAAAAHA/_LMGiXpLMtU/s1600-h/hasyim-asyari-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrny7v7lMI/AAAAAAAAAHA/_LMGiXpLMtU/s400/hasyim-asyari-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258770377126679746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Krisis global tengah terjadi, banyak pihak -elit- yang kemudian panik dan berlomba mencari penyelematan asetnya. para pemegang saham, pengelola bursa efek, dan para eksportir serta importir (baca; pengusaha). para pejabat pemerintah juga resah menghadapi hal ini. dan hampir semua melirik Amerika sebagai biang keladi atas krisis ini. U$ Dolar, kini dibenci tapi juga dibutuhkan. ada fenomena menarik yang ditunjukkan para ekonom dunia. mereka yang berbasis sosialis, menuding kapitalisme sebagai sumber krisis, mereka yang fundamentalis, juga sama, bahkan, ekonom syari'ah mengklaim inilah saatnya dinar &amp;amp; dirham  kembali berjaya. sebab U$ Dolar -saat ini- dan lembaran kertas berharga lain, yang selama ini menjadi alat tukar, tak sesuai dengan aturan Al-Qur'an?&lt;br /&gt;beberapa hari yang lalu, misalnya, seorang penceramah ekonomi syari'ah, dengan lantang menawarkan Dirham dan dinar sebagai solusi atas krisis global, bahwa mata uang yang berjalan harus terbuat dari emas dan perak, tidak sekedar kertas. agar nilai tukarnya, bertahan, bahkan hingga 1400 tahun sekalipun.&lt;br /&gt;saya tak terlalu mengerti teori ekonomi, tapi pikiran sederhana saya kemudian bertanya, apakah mata uang berlapis emas/perak itu efisien, efekstif dan praktis dalam produksi dan digunakan?&lt;br /&gt;mengapa tidak kembali pada tradisi barter saja sekalian?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6640910811525078921?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6640910811525078921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6640910811525078921&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6640910811525078921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6640910811525078921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/dirham-dinar-mencari-celah-dalam-krisis.html' title='Dirham &amp; Dinar, mencari celah dalam Krisis Global'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrny7v7lMI/AAAAAAAAAHA/_LMGiXpLMtU/s72-c/hasyim-asyari-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4542982621251166376</id><published>2008-10-16T07:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T11:29:41.450-07:00</updated><title type='text'>Malam Jum'at di Pesantren babakan.</title><content type='html'>Selepas maghrib, ribuan santri Assalafie babakan Ciwaringin, Cirebon, sibuk dengan alamnya masing-masing. Ada yang termenung, ada yang tepekur dengan tasbih di tangan, ada yang masih sibuk menghafal, ada pula yang hilir mudik ke kantin, masjid besar, maupun ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maqbaroh&lt;/span&gt; (komplek pemakaman para kiai), berziarah, sambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cuci-mata&lt;/span&gt;. Maklum, malam itu adalah malam istimewa, di mana para santri, baik putra, maupun putri, diliburkan dari kegiatan, sejak ba'da magharib, hingga waktu jamaah isya dimulai. liburan yang singkat, sebenarnya. tapi inilah libur yang ditunggu-tunggu.&lt;br&gt;Ya, malam Jum'at, bagi para santri adalah malam istimewa. bagi mereka yang taat, inilah malam terbaik untuk berdzikir, dan melakukan ritus-ritus sunnah sebagai ajang mendekatkan diri pada Tuhannya. malam ini juga konon penuh keramat, karenanya, mereka yang gemar dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kejadugan&lt;/span&gt;, malam jum'at menjadi ajang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lelakon&lt;/span&gt; yang pas. Bagi mereka yang rajin, waktu libur yang sempit pun digunakan untuk menghafal, muthola'ah, dan diskusi (tapi ini jarang terjadi, kecuali jika menjelang ujian, atau setoran hafalan). &lt;br&gt; Tapi tak semua santri berbuat bajik. adapula yang 'nyantai' (hampir senada dengan malas), sedikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selon,&lt;/span&gt; bahkan badung. Bagi mereka yang senang santai, malam ini jadi malam yang indah untuk mencari tempat menyepi, dan tidur sepuasnya, setelah sebelumnya, menitip agar dihadirkan dalam absensi acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;marhaba&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khitobah, &lt;/span&gt;kepada ketua kamar.&lt;br&gt;sedang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;selon&lt;/span&gt;, memanfaatkannya untuk berjalan-jalan, mencari tempat ngopi, atau jajanan-jajanan yang biasanya dijajakan di area &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maqbaroh, &lt;/span&gt;dan jika 'titip absen marhaba' telah dilakukan, maka jalan-jalan bisa dilanjutkan ke rumah atau kosan kawan yang tinggal di dekat pesantren. kadang juga sekalian pulang ke rumah, dan baru kembali pada Jumat sore.&lt;br&gt; Dan bagi mereka yang badung, malam jum'at adalah malam yang aman untuk ke bioskop, atau sekedar berkencan di kosan kawan (di lingkungan Pesantren babakan, terdapat kost-kostan dan kontrakan, yang disediakan penduduk lokal, bagi pelajar yang tak betah tinggal di pesantren). ini kisah nyata delapan tahunan lalu, entah saat ini.&lt;br&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4542982621251166376?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4542982621251166376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4542982621251166376&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4542982621251166376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4542982621251166376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/malam-jum-di-pesantren-babakan.html' title='Malam Jum&amp;#39;at di Pesantren babakan.'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5951569368939680363</id><published>2008-10-16T06:02:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T10:02:38.463-07:00</updated><title type='text'>Cinta itu..</title><content type='html'>Di Syawal ini, aku mendapat beragam pelajaran berharga tentang Cinta. Aku kembali menikmati benih-benih cinta yang bersemai di hati. banyak hal yang ingin kuceritakan, sebenarnya. Tapi, ko sulit? yang jelas, mencintai adalah anugerah terindah yang -mungkin- dirasakan oleh setiap insan.    &lt;br&gt;&lt;br&gt;bersambung..&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5951569368939680363?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5951569368939680363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5951569368939680363&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5951569368939680363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5951569368939680363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/cinta-itu.html' title='Cinta itu..'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1706727862577273422</id><published>2008-10-02T03:39:00.000-07:00</published><updated>2008-10-02T07:39:07.926-07:00</updated><title type='text'>melawan provokasi dengan Teror?</title><content type='html'>  Mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.&lt;br&gt;kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa. &lt;br&gt;Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.&lt;br&gt;Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini. &lt;br&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Provokasi&lt;br&gt;Oleh Anick HT&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan â€œmajnun, majnunâ€ . Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban â€œLa yaâ€™rifu majnun illa majnunâ€ , dan â€œLaisa al-majnun illa biidznillahâ€ . Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh&lt;br&gt;salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak â€œYang tidak berdiri berarti bukan muslimâ€ . Maka sebutlah mereka provokator.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label â€œsesatâ€ , tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut â€œkafirâ€ dan â€œsesatâ€ , dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari â€œmayoritasâ€ itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ternyata provokasi hanya milik kami.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki â€œkafirâ€ , â€œsesatâ€ , â€œbunuhâ€ , â€œberangusâ€ . Ketika koor â€œAllahu akbarâ€ dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak â€œjangan bawa-bawa NUâ€ , â€œkyai palsuâ€ . Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki â€œgilaâ€ dan â€œbodohâ€ . Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai â€œlayak dihajarâ€ . Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata â€œtidakâ€ di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;font color="#888888"&gt; &lt;/font&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1706727862577273422?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1706727862577273422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1706727862577273422&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1706727862577273422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1706727862577273422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/10/melawan-provokasi-dengan-teror_02.html' title='melawan provokasi dengan Teror?'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-3274334391630207605</id><published>2008-09-26T10:29:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T10:47:24.563-07:00</updated><title type='text'>Kebanaran Subjektif, doktrin picik yang menyeramkan</title><content type='html'>Kini aku mencoba menulis lagi, setelah dua minggu lebih aku terpuruk dalam sesal yang tidak produktif. setelah mendengar berita bentrok AKKB dan FPi yang kesekian kalinya, berontakku terhadap para tokoh agama,dan pendukungnya yang merasa benar sendiri muncul kembali.&lt;br /&gt;kebenaran subjektif, kadang mematikan rasa kemanusiaan seseorang. ketika rasa kebenaran telah digenggam dalam ego, maka tak ada tempat belas kasih bagi mereka yang bersebrangan. sungguh kenyataan ironis bagi peradaban islam. aku jengah dengan doktrin-doktrin yang ditafsirkan dengan tanpa upaya rasionalisasi dan konstektualisasi, hanya menjadi virus ganas yang menyeramkan, dia menjadi seperti zombie dan drakula yang haus darah, dan bergentayangan mencari mangsa. &lt;br /&gt;Sebuah ajaran sesuci, semulia, dan sekeren apapun akan berubah menjadi bara api yang membakar jiwa penganutnya, untuk bertindak irrasional, jika ditafsirkan dan dipraktikkan dengan egosentris dan mental diri yang picik dan penuh kebencian.&lt;br /&gt;Maka aku setuju jika tulisan Anick HT, berjudul Provokasi berikut ini, perlu direnungkan oleh segenap kaum muslimin di negeri ini.  &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provokasi&lt;br /&gt;Oleh Anick HT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika provokasi adalah keberanian berkata tidak terhadap kezaliman di depan mata, saya harus menyatakan rasa salut saya kepada para provokator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya melangkahkan kaki saya melewati kerumunan massa FPI menuju kursi saksi persidangan, beberapa orang dalam kerumunan itu berteriak tertahan â€œmajnun, majnunâ€. Saya meragu. Dalam sekian detik, di kepala saya sudah terumuskan dua jawaban â€œLa yaâ€™rifu majnun illa majnunâ€, dan â€œLaisa al-majnun illa biidznillahâ€. Tapi rumusan itu tak kunjung keluar dari mulut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika provokasi adalah menyuarakan yang haq tanpa kekerasan di tengah kesemenaan yang haus darah, sebutlah kami provokator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Istiqomah didesak, diusir dari tempat duduknya di ruang pengunjung sidang, ditarik, dihentakkan, lalu dijambak rambutnya oleh sekelompok orang yang merasa benar sendiri dan berkuasa melakukan apa saja. Ketika Nong Darol Mahmada memprotes kepada polisi yang bertugas betapa para tersangka berkeliaran dengan bebasnya di luar ruang sidang, sementara seharusnya mereka ada dalam kawalan petugas. Ketika Guntur berteriak kepada Ketua Majlis Sidang bahwa dia ditendang kakinya dan dipukul oleh&lt;br /&gt;salah seorang tersangka. Ketika Ibu Musdah Mulia tetap duduk tepekur sementara dengan suara membahana kelompok mayoritas di ruang sidang berteriak-teriak â€œYang tidak berdiri berarti bukan muslimâ€. Maka sebutlah mereka provokator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika provokasi adalah menyuarakan aspirasi damai di tengah ancaman tirani intoleran yang tak terkendali, saya bangga menjadi bagian dari provokator itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ribuan warga Ahmadiyah terancam di kampungnya sendiri, ditutup rumah ibadahnya, diberangus haknya beraktivitas, dicerabutpaksa dari keyakinan yang menuntunnya seumur hidupnya. Ketika jutaan kelompok beragama lokal dan minoritas distempel dengan label â€œsesatâ€, tak bisa mencantumkan agama yang diyakininya dalam KTP-nya sendiri, bahkan tak diakui perkawinan dan sistem kepercayaannya. Ketika seluruh yang berbeda disebut â€œkafirâ€ dan â€œsesatâ€, dan karena itu statusnya adalah warga kelas dua. Maka saya malu menjadi bagian dari â€œmayoritasâ€ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata provokasi hanya milik kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika setiap saksi di persidangan diteriaki â€œkafirâ€, â€œsesatâ€, â€œbunuhâ€, â€œberangusâ€. Ketika koor â€œAllahu akbarâ€ dan kegaduhan selalu mewarnai ruang sidang. Ketika seoang warga NU yang lahir besar sebagai santri, bahkan kyai, dibentak â€œjangan bawa-bawa NUâ€, â€œkyai palsuâ€. Ketika seorang ulama besar yang mantan presiden diteriaki â€œgilaâ€ dan â€œbodohâ€. Ketika jaksa dan polisi bahkan dibentak-bentak ketika melaksanakan tugas negara yang mereka emban. Maka jika itu kasusebut sebagai jihad, keluarkan saya dari barisan jihadmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata provokasi lebih buruk daripada kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika karena alasan telah melakukan provokasi orang menjadi sah untuk dipukul. Ketika anggapan sebagai provokator memposisikan seseorang sebagai â€œlayak dihajarâ€. Ketika darah yang keluar dari seorang provokator adalah sah dan memang sudah seharusnya, di negara hukum ini. Ketika tongkat pemukul dan kelewang menjadi kata jawab dari sebuah syarat bernama provokasi itu. Maka disebut negara apa sesungguhnya Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa inginnya saya menjadi provokator. Betapa inginnya saya diberi keberanian oleh Tuhan seru sekalian alam untuk mengatakan sesuatu yang sudah terumuskan di kepala saya. Betapa inginnya saya mendapatkan energi untuk berkata â€œtidakâ€ di depan tirani. Betapa inginnya saya menunjukkan bahwa kuasa kekerasan harus dilawan agar tak benar-benar melahirkan Hitler-Hitler baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya terlalu takut dipukul. Terlalu takut disakiti kedirian saya. Saya memang pengecut, pecundang. Saya hanya mampu berterima kasih kepada para provokator itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-3274334391630207605?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/3274334391630207605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=3274334391630207605&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3274334391630207605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3274334391630207605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/kebanaran-subjektif-doktrin-picik-yang.html' title='Kebanaran Subjektif, doktrin picik yang menyeramkan'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4925430389285985384</id><published>2008-09-26T09:35:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T10:29:18.213-07:00</updated><title type='text'>Apa makna Ramadhan bagiku?</title><content type='html'>Ramadhan tahun ini terasa kering bagiku.  berbagai moment tak berhasil kumanfaatkan dengan baik.  berawal dari keinginan untuk segera menyelesaikan tanggung jawab di LPM SiGMA, kekalutan terhadap penyelesaian skripsi dan beberapa nilai yang terbengkalai, mimpi untuk segera bekerja sebagai pelaku media profesional (aku membuat puluhan lamaran kerja, dan hanya dua yang kukirim), tekanan untuk mengajukan proposal program Lakpesdam NU Kota Serang, dan ambisi untuk mengikuti Ahmad Wahib Award, minggu pertama ramadhan aku disudutkan dalam ketergesaan dan kelelahan yang sangat.&lt;br /&gt;Nyatanya, tak semua mampu kuraih semudah konsep yang merajang di kepala. aku berhasil melepas tanggung jawab di SiGMA, tapi rangkaian acara Musyawarah Besar yang memang direncanakan 'besar', malah berlangsung dengan amat sederhana, dan di bawah standar prosedur sebuah rangkaian acara 'besar'! skripsi, laporan akhir kuliah kerja nyata, dan upaya penyeleaian nilai, berkahir berantakan. beruntung satu nilai bisa keluar, berkat bijaknya sang Dosen. satu nilai lain masih tertahan. proposal program juga berhasil digarap, dengan konsekwensi yang sangat menyedihkan, aku gagal ikut Ahmad Wahib Award, yang sempat diperpanjang jadwal pengirimannya itu. sebab aku atk bisa membagi waktu, dan aku tak pandai dalam menetapkan  prioritas. aku juga ternyata bermasalah dalam hal konsentrasi terhadap fokus yang ditargetkan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;AKu merasa kalah, dan menjadi pecundang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ke dua ramadhan, aku terlena dalam kecewa yang mendalam. hari-hariku idhempaskan dalam tidur panjang di siang hari, berinternet ria, dan terbenam dalam Game 'Age Of Empire II' (AOE II) dan 'Red Alert'(RA). Hmm, ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menytelesaikan level Hard dengan membabat 7 negara musuh dalam 'AOE II' aku juga dibuai penasaran untuk menuntaskan RA. Tarawih dan Tadarrus, menjadi tradisi asing bagiku di Ramadhan kali ini. Shaumkupun rasanya tak berarti, karena dilewati dalam tidur nan pulas. dan di minggu ini, aku tergoda oleh bujukan kawan untuk beriftar sebelum maghrib, hanya karena perjalan dari Pandeglang-Serang. semoga Dia memaklumi kelemahanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ke tiga ramadhan, aku jalani dengan sedikiti refresh, Ke Bandung, Cilegon, Tangerang, dan Berakhir di Kampunghalamanku, Karawang. dan aku kalah lagi, ketika harus bergelut menjajakan pakaian dagangan orang tuaku di sebuah toko kecil, di pasar Johar. puluhan gadis cantik berpakaian seksi yang berseliweran di pasar, membuatku kepayang, sebenarnya ini anugerah yang tak merisaukan, dan hal yang normal, bukan? yang membuatku gelisah dan merasa tak normal, adalah ketika kutergoda mengutip uang dagangan yang dipercayakan padaku, untuk membeli sebungkus rokok, sebatang coklat, dan sebotol minuman suplemen. aku menjadi tambah merasa tertekan, ketika beriftar lagi, karena lelah dan panasnya berjum'atan setelah seharian berdagang.&lt;br /&gt;Maafkan aku Tuhan, brlum msmpu tunsiksn amanat dengan tepat. lebaran nanti, sanbil sungkem, aku akan meminta maaf dan keihlasan Ibu dan ayah, atas tindakanku yang tak jujur ini.      &lt;br /&gt;Aku malu, tak bisa menghindar dari korupsi. dan aku ragu tentang hikmah Ramadhan bagiku. tapi aku yakin Dia maha pemaaf. semoga IA ampuni dosa-dosaku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4925430389285985384?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4925430389285985384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4925430389285985384&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4925430389285985384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4925430389285985384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/apa-makna-ramadhan-bagiku.html' title='Apa makna Ramadhan bagiku?'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1774821882251286829</id><published>2008-09-10T04:17:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T08:17:02.866-07:00</updated><title type='text'>Tasyakkur apa Takabbur</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tasyakkur&lt;/span&gt;, sering dilakukan oleh mereka yg mendapat anugerah, berhasil menang dalam sebuah kompetisi, meraih prestasi atau rezeki lain yang memang diharapkan. menjelang ramadhan, banyak orang menggelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tasyakkuran&lt;/span&gt;, dari sekedar kirim sms, hingga menggelar pesta kecil dan mengundang para kerabat dan tetangga.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Hari lahir juga sering menjadi momentum untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bertasyakkur&lt;/span&gt;. dan lihat saja beberapa waktu ke depan, menjelang pemilihan umum, saya yakin akan banyak menggelar pesta dengan dalih tasyakkur. partai-partai dan para kandidat legislatif maupun eksekutifnya akan rajin menunjukkan tasyakuran.     &lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1774821882251286829?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1774821882251286829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1774821882251286829&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1774821882251286829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1774821882251286829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/tasyakkur-apa-takabbur.html' title='Tasyakkur apa Takabbur'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-896075094241379991</id><published>2008-09-07T15:57:00.000-07:00</published><updated>2008-09-07T19:57:21.838-07:00</updated><title type='text'>rindu senja</title><content type='html'>bertahun ku ditakuti masa&lt;br&gt;bertahun ku dihantu peristiwa&lt;br&gt;bertahun ku berjaga &lt;br&gt;menantimu senja&lt;br&gt;&lt;br&gt;meski tak cukup bekalku&lt;br&gt;meski ku belum puas nikmati hari&lt;br&gt;meski langit biru cerah&lt;br&gt;aku merindu mu senja&lt;br&gt;&lt;br&gt;bukan asaku menghilang&lt;br&gt;tak pula cita kuterbungkam&lt;br&gt;&lt;br&gt;aku jengah dengan terik surya nan pongah&lt;br&gt;aku juga takut dengan mendung membumbung&lt;br&gt;&lt;br&gt;ah.. &lt;br&gt;pokoknya, aku ingin segera bersua dengan mu&lt;br&gt;senja&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-896075094241379991?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/896075094241379991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=896075094241379991&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/896075094241379991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/896075094241379991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/rindu-senja.html' title='rindu senja'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1700292505697726055</id><published>2008-09-05T03:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T07:14:01.047-07:00</updated><title type='text'>Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas</title><content type='html'>Diri rapuh, meluluh&lt;br /&gt;Tengok realita mewarna&lt;br /&gt;Hati bergemuruh, misuh&lt;br /&gt;Dijerat fatamorgana&lt;br /&gt;Bersimpuh pada sepuh yang merusuh&lt;br /&gt;Mestikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuh, sering jadi tameng bagi mereka yang beranjak tua untuk menginisiasi kaum muda dengan beragam doktrin berbau kepentingan pribadi dan kelompok kekuasaan. Jeremy Bentham, salah seorang filsuf pengusung hedonisme, berasumsi bahwa setiap hukum yang diberlakukan dalam kelompok masyrakat, berjalin-kelindan dengan pemuasan keinginan dan kesenangan yang disepakati—dan atau dipaksakan—para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi Bentham tampaknya telah menyata dalam keseharian elit masyrakat saat ini. &lt;span class="fullpost"&gt; Simak saja realita yang banyak terjadi belakangan ini; kapitalisme global, telah lama menggurita dan mengancam kehidupan negara-begara dunia ketiga seolah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarkatdunia. Represifitas pemerintahan Junta Myanmar terhadap para bikhsu dan mahasiswa di Burma mengingatkan kita pada sejarah penjajahan kopeni dan penindasan rezim Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan atas nama agama, menguapnya tangisan para korban sumur Lapindo hingga kekerasan dalam rumah tangga dan tindakan sadistis para majikan terhadap pembantunya—tidak hanya terjadi di tanah Arab dan Malaysia di Indonesia pun kejamnya perbudakan masih kerap terjadi—serta beragam kisah dramatis lainnya yang ternyata kurang mendapat respons serius dari mayarakat dunia, bisa menjadi membuktikan membudayakan sikap hedonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah lokal, semangat primordialisme yang menyubur dengan bumbu formalisasi tradisi agama dan keyakinan tertentu, memperkuat pembuktian asumsi Bentham. Hedonisme telah menjadi rujukan bersama, mengutamakan kepuasan, kesengan, dan kenikmatan sebagai tujuan bersama. Upaya pemuasan ego primordial begitu kentara dalam beragam manuver para elit di tingkat lokal. Maraknya sparatisme, pengagungan berlebih terhadap simbol-simbol keyaikinan lokal—termasuk agama dan adat lokal—mencerminkan kehausan eksisitensi diri dan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksisitensi kedaerahan yang gencar diusung, sebenarnya dapat dijadikan amunisi dalam persaingan global, upaya meningkatkan citra daerah di mata nasional dan internasional. Tapi globalisasi mensyaratkan tingginya kualitas, yang natinya akan menumbuhkan ‘brand image’ simbol yang diagungkan. Bukan sebaliknya, mengusung simbol, tanpa memperhatikan kualias produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi pengagungan simbol mewajarkan pengabaian terhadap hak-hak masyarkat. Tidak mampu menjalankan good governance dan membentuk masyarakat madani, maka beragam event bertajuk agama pun digelar, dengan segala pengagungan terhadap simbol-simbol keagamaan, seperti menutup luka dengan kain sutra. Agar terlihat bertaqwa, simbol-simbol keagamaan mesti dimegahkan, kesejahteraan masyarakat tidak lagi menjadi tujuan. Meski melarat, masyarakat dapat dipuaskan dengan doktrin keagamaaan dengan pengagungan simbol, meski kualitas pendidikannya payah, asalkan masjidnya megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa terjadi juga di lingkungan akademis, senioritas begitu kental dan berpengaruh terhadap kebijakan para pemimpin kelompok akademis. Karena terbilang tua, maka segala polahnya yang minus dimaklumi, cacat dan kekurangannya harus ditutup rapat, meski dengan jalan yang kurang elegan, segala cara dihalalkan untuk meningkatkan pamor.&lt;br /&gt;Berbahagialah para sesepuh dan pemimpin masyarakat di daerah kesultanan ini, jawaraisme mengukuhkan, mewajarkan rezim otoritarian dan hedonitas senioriti, karena yang tua tak pernah salah, jikapun salah, pini sepuh dan penguasa selalu—ingin—benar  &lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1700292505697726055?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1700292505697726055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1700292505697726055&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1700292505697726055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1700292505697726055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/hedonisme-kekuasaan-dan-senioritas.html' title='Hedonisme, Kekuasaan dan Senioritas'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1629956459992728348</id><published>2008-09-05T02:59:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T07:12:55.513-07:00</updated><title type='text'>Mencintai Cinta</title><content type='html'>Cinta, kata yang tak pernah usai dibicarakan banyak orang. Bahkan Tuhan menamakan dirinya sebagai Ar-Rahman,  Sang Pengasih, juga Ar-Rahim, Sang Penyayang. Kasih-sayang-Nya itu disandingkan dan dianjurkan untuk selalu diucapkan, ketika seorang yang beriman, memulai sebuah kebaikan. Maka kasih-sayang, dan kebaikan semesetinya mendarah-daging dalam diri setiap mu’min. Inikah cinta? Sebuah kebaikan yang didasarkan pada kasih sayang? Entahlah. Saya tak terlalu yakin dengan itu. Sebab Plato yang jenius pun tak sanggup mendefinisikan cinta. &lt;br /&gt;  	Tapi, dulu seorang ulama bernama Ibnu Jauzy, mengklasifikasikan cinta dalam empat kategori. &lt;span class="fullpost"&gt;Saya sempat membaca klasifikasi cinta ala Ibnu Jauzy itu dalam sebuah buku terjemahan, yang saya sendiri lupa judulnya. Kono, cinta itu ada yang sekedar dating, kemudian pergi, itulah cinta yang hanya menempel di sisi kalbu. Ada pula cinta yang agak sulit dilupakan, itulah cinta pertama. Ia hampiri kalbu yang resah, kemudian menetap lama di sanubari. Tapi cinta pertama masih dapat dilupakan, seiring dinamika kalbu.&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah cinta yang menusuk kalbu. Cinta buta yang sulit disirnakan. Ketika dipaksa untuk dicabut, niscaya kalbu itu akan merasakan sakit yang sangat, bisa jadi menimbulkan kematian. Terkahir, -kalau tidak salah- adalah cinta yang menggores kalbu. Inilah tempat pecinta yang tersakiti. Kategorisasi ini belum tentu benar adanya, sebab buku sumbernya pun aku telah lama tak membacanya lagi.&lt;br /&gt;Dulu aku pernah mengalami rasa suka yang rumit. Sophisticated, kata orang filsafat. Mungkin itulah cinta yang pernah kurasakan, begitu kuat menancap di benak. Sulit dilupakan. Dan yang mengherankan, aku suka dan sayang dia dengan tanpa alasan yang logis. Tak ada yang begitu istimewa darinya. Cerdas, tidak seberapa. Sifat dan sikapnya pun bukanlah tipe yang kuidamkan. Cantik? Mungkin iya, bagiku. Tapi bukankah cantik itu relatif? Aku menyayanginya, hanya karena aku merasa berarti dihadapnya. &lt;br /&gt;Gadis lugu yang manja, dan sering menangis di depanku. Aku suka dia, karena dia jadikan aku luapan hatinya. Setiap ada masalah, dia hampir selalu menangis di hadapku. Padahal, aku tak penah memberinya solusi atas masalah yang didapatnya. Aku pun tak pernah mendiskusikan masalahku dengannya. Sebab aku tau, dia takkan mengerti masalah yang kuhadapi. &lt;br /&gt;Bekali kucoba tepiskan keinginan untuk memilikinya, berkali pula aku gagal. Dan, saat itu, aku hanya ingin memiliki, tanpa nilai guna yang kumengerti. Ya, saat itu, aku tak inginkan tubuh seksinya. Aku juga tak perduli wajah cantiknya. Dia tak pernah membantuku selesaikan persoalan, dan tak jarang, justru ia yang membawa persoalannya kepadaku. Artinya, saat itu, dia malah menjadi bebanku. Tapi kenapa aku justru menyukainya? Hingga bertahun lalu aku masih sulit melupakannya. Padahal, kami sudah jarang berkomunikasi, apalagi bertemu muka. Sebab kini kami berjauhan tempat dan hati.&lt;br /&gt;Baru dua tahun lalu aku bertekad melupakannya, sebab ia tak pernah memberi jawaban pasti atas keinginanku untuk meminangnya, nanti. Aku bosan dengan jawabnya yang tak menentu, “mengenai tunangan, bagaimana nanti saja”. Aku merasa sangat bodoh, jika mengingat penantian panjangku terhadapnya. Ya, aku memang tak pernah ungkapkan rasa cinta kepadanya, tapi keinginanku yang serius untuk memilikinya secara sah, melalui pertunangan, dan kemudian menikah. Bukankah itu lebih dari kata cinta? Memang saat itu, kami belum layak menikah, sebab kami masih sama-sama sekolah, tapi merencanakan masa depan, adalah sah, bukan?&lt;br /&gt;Ha.ha, aku jadi malu dengan gaya tulisanku yang terlalu emosional ini. Ya, itu dulu, ketika ku masih mengaggap sakral, kata cinta. Kini, cinta tak lebih dari sebuah transaksi bagiku. Harus ada take and give dan komitmen yang disepakati bersama. Cinta tak lebih dari permainan. Aku akan memberikan kasih-sayangku, secara utuh, ketika ku mendapatkan rasa nyaman, aku akan memebrikan’cinta’ku, jika aku measa puas dengan pelayanan yang didapat. Maaf, bukan pelayanan fisik, seperti seks dan sejenisnya, tapi pelayanan hati, yang kucari. Ketika aku merasa terbantu, maka aku akan membantu. Ketika diberi sebuah kebaikan, kubalas kebaikan itu semaksimal mungkin, semampuku. Tapi ketika merasa sakit, aku akan sulit menghapusnya dari ingatan. Ketika kepercayaanku telah ternodai, maka tak ingin lagi kupercayakan sesuatu, seutuhnya, kepada mereka yang telah berkhianat. Kecuali mereka bertobat, hmm.&lt;br /&gt;Arogan, kah? Tidak, juga, bukankah hidup ini pilihan? Dan aku memilih untuk tidak bertindak jahat kepada siapapun, tapi ketika aku dijahati, maka aku akan bebuat baik sesuka hatiku. &lt;br /&gt;Aku sadar, sikap tersebut kurang bijak, sebenarnya aku ingin meniru kasih-sayang Tuhan, yang tidak pandang bulu, tapi hal yang amat baik itu, belum mampu kulakukan secara tulus.  Tapi aku akan berusaha sepenuh hati, untuk bisa mencintai cinta dengan tulus. Menyayangi semua orang, tanpa syarat, bisa kah? Semoga saja.  &lt;br /&gt;*(Tulisan ini spontan kutuangkan, &lt;br /&gt;ketika membaca pertanyaan Thoink, tentang cinta.) &lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1629956459992728348?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1629956459992728348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1629956459992728348&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1629956459992728348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1629956459992728348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/mencintai-cinta.html' title='Mencintai Cinta'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-739706773020758352</id><published>2008-09-02T10:27:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T10:43:36.202-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi sastra'/><title type='text'>Menunggu itu..</title><content type='html'>menunggu itu jenuh&lt;br /&gt;ketika kita berharap datangnya masa &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;penantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggu itu lelah&lt;br /&gt;ketika kita tak punya pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggu itu menegangkan &lt;br /&gt;kala kita bingung akan sebuah kejutan yang menghadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggu itu asyik&lt;br /&gt;ketika kita tak perduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggu itu anugerah&lt;br /&gt;ketika kita perlu persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggu tak sekedar menghitung waktu&lt;br /&gt;menunggu tak cuma melatih sabar&lt;br /&gt;penantian adalah harapan dan realita&lt;br /&gt;yang tersekat -mungkin- hanya sedepa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-739706773020758352?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/739706773020758352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=739706773020758352&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/739706773020758352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/739706773020758352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/09/menunggu-itu-jenuh-ketika-kita-berharap.html' title='Menunggu itu..'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-3117216745354723211</id><published>2008-08-27T21:21:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T10:51:41.057-07:00</updated><title type='text'>Kisruhnya Orientasi Mahasiswa Baru</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Beberapa waktu lalu, sempat terjadi perselisihan di internal panitia Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) IAIN Banten. Sebuah aral yang bisa jadi akan memicu sengketa serius antar Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus (OKIK)&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;itu adalah tradisi tender yang lumrah terjadi dalam hajat tahunan pasca penerimaan Mahasiswa baru. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Tender, alokasi dana kegiatan, dan insentif panitia adalah remah-remah kecil yang sering menimbulkan kecemburuan, dan perselisihan, bahkan mewariskan dendam diantara anggota OKIK. Muaranya adalah pemanfaatan dana sisa Orientasi, yang kadang mengabaikan kesejahteraan dan kepuasan peserta Orientasi. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Ironi yang muncul setelah fase kecemburuan dan ketidakpuasan panitia, biasanya adalah dua sikap dekonstruktif.   Yakni sikap apatis, baik secara personal maupun kolektif, dan atau tradisi saling hujat yang berujung pada provokasi kepada peserta agar melakukan konfrontasi terhadap panitia inti orientasi. yang tentu keduanya tentu saja merisaukan bagi para panitia inti dan pejabat eksekutif mahasiswa.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Kenyataan inilah yang terjadi dalam setiap pelaksanaan orientasi mahasiswa baru, dari tahun ke tahun. Mengapa ini terjadi? Baiknya kita diskusikan bersama.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dan saya ingin coba membahasnya dari beberapa sudut;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;historis, psikologi, ideology pasar dan politik yang kesemuanya –mungkin- berandil besar dalam kondisi tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Pertama, kita melihat pelaksanaan orientasi tahun lalu misalnya, beberapa perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), secara kolektif, sempat mengundurkan diri dari kepanitiaan Orientasi. Mundur karena melihat ada ketimpangan peran dan kinerja antara panitia dari BEMI dengan panitia dari UKM. Kisuh internal itu diperparah dengan ketidakstabilan emosi seorang panitia bagian Orlap, yang kebetulan aktif di UKM. Kelelahan yang sangat, -menurut, pengakuannya- membuatnya bersikap tidak strategis, dengan membawa benda tajam ke area orientasi. Berbulan kemudian, setelah orientasi usai, panitia inti orientasi didemo mahasiswa baru, yang menuntut laporan pertanggung jawaban panitia, dan pemenuhan fasilitas orientasi, berupa sertifikat. BEMI menjadi bulan-bulanan, lima mahasiswa baru saat itu, membakar ban bekas di depan kantor BEMI, dan ruangan BEMi yang baru dicat, menjadi korban coretan jorok bernada ejekan dari mahasiswa angkatan 2007.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Setahun sebelumnya, kisruh internal juga terjadi. Dipicu oleh pelanggaran terhadap tata tertib orientasi, mengenai keharusan mengenakan celana panjang bagi seluruh peserta. Beberapa peserta perempuan, karena alasan ideologis menentang dan melanggar peraturan tersebut. Sebagain panitia bersikukuh mengnginkan peraturan ditegakkan, dan beberapa panitia lain, dari tataran panitia pengarah, justru melihat sisi lain dari pelanggaran tersebut, yakni sikap kritis peserta dan toleransi serta perlindungan atas keyakinan yang dianut setiap mahasiswa. Kisruh itu berimbas pada keributan kecil antar peserta dengan panitia, dan lagi-lagi berujung pada demonstrasi. Memang tidak ada problem tender dalam kasus ini, karena tender dilakukan terbuka. Tetapi sikap provokatif beberapa panitia terhadap peserta, untuk menentang aturan yang berlaku saat itu, disinyalir menjadi biangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Yang lucu justru terjadi pada tahun 2005, orientasi mahasiswa baru diboikot oleh beberapa kalangan UKM, alasannya sepele, porsi keterwakilan UKM dalam kepanitiaan diperkecil oleh BEMI. Al-hasil, UKM menggelar Orientasi tandingan dengan nama 'Kelakar'. Orientasi resmi yang diadakan BEMI pun&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;menjadi sepi, karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa orientasi menjadi meriah ketika semua UKM berkompetisi menampilkan kreasi terbaiknya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Dan di tahun 2004, kekisruhan juga dilakukan peserta. Arogansi panitia ditambah sedikit bisikan dari beberapa mahasiswa lama, yang tidak terlibat dalam kepanitiaan, rupanya cukup efektif memprovokasi mahasiswa peserta orientasi saat itu. Dan kali itu tak cuma BEMI yang menjadi korban, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) pun harus rella kantornya diacak-acak oleh sepasukan mahasiswa yang menamakan diri GSM. Saat itu, sempat tersiar kabar, bahwa keterlambatan pembagian sertifikat memang disengaja, untuk menguji daya kritis mahasiswa baru.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Jika demikian, bukan tidak mungkin, tradisi demonstrasi mahasiswa baru terhadap panitia orientasi juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Sebab –dari sudut psikis- beberapa mahasiswa lama, baik yang terlibat sebagai panitia maupun tidak, cenderung senang membakar emosi mahasiswa baru, dan mahasiswa baru, yang dipenuhi rasa penasaran, tentu juga ingin mencoba asiknya berdemonstrasi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Apabila dikaitkan dengan ideologi politik, kita dapat meminjam teori sosialisme dalam melihat kasus-kasus yang ada. Bahwa pertentangan kelas dalam prilaku sosial, akan selalu terjadi ketika terjadi ketimpangan relasi dalam sebuah lingkungan sosial. Ya, hampir dalam setiap acara orientasi anggota baru dalam sebuah komunitas, yang cenderung mengedepankan strata dan relasi yang struktualis. Selalu ada sekat antara yang lama dengan yang baru, sekat yang masyhur disebut senioritas! &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Relasi senior-junior yang timpang, biasanya memunculkan korban. Dan yang dikorbankan, biasanya sang junior. Maka jangan heran jika dalam sebuah pengkaderan, muncul jargon, bahwa "panitia tidak pernah salah, jikapun salah, panitia selalu benar!" kondisi tersebut seakan dilestarikan. Sehingga dalam beberapa kasus, penerimaan anggota baru, selalu identik dengan perpeloncoan yang dibumbui kekerasan fisik maupun psikis.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dari segi ekonomi, orientasi pengenalan mahasiswa yang melibatkan ratusan peserta, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para &lt;em&gt;homo economicus,&lt;/em&gt; yang melihat sesama manusia dari kacamata pasar. Ya, orientasi dan event-event lain yang mensyaratkan pesertanya untuk membiayai pelaksanaan acara, memang tak sepi dari 'kepentingan pasar' sang pengelola acara. Banyaknya panitia, sebanding dengan banyaknya pendapatan! Dan pendapatan pengelola, bergantung pada seberapa mampu ia mengolah event. Jika dikaitkan dengan ideologi pasar yang berkembang saat ini, maka ada dua teori yang sedapat mungkin dianut oleh para pelaku ekonomi dunia saat ini. Yakni kapitalisme, dan sosialisme.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Penganut kapitalisme, memandang pasar sebagai media pencari keuntungan belaka. Setiap pribadi dan isntitusi berhak mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan kapitalisme, biasanya memandang konsumen (dalam hal ini, peserta) sebagai obyek belaka. Kepuasan konsumen, disesuaikan dengan daya belinya. Dan sang pengelola pasar, dengan segala cara, harus berkeuntungan lebih besar. Seperti, kata &lt;em&gt;Lenin&lt;/em&gt;, "Kapitalisme menghasilkan Kolonialisme baru", maka penganut kapitalisme lebih mirip penjajah, yang memandang konsumen dan pesaing pasar sebagai obyek pemerasan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Sosialisme menawarkan teori lain. Bagi seorang sosialis, pasar ada untuk pemerataan pendapatan. Maka sedapat mungkin kebijakan dibuat untuk kepentingan bersama. Bahwa jaminan sosial yang maksimal, lebih penting dari sekedar mengeruk keuntungan. Dan kadang, sosialisme tidak memberi pilihan yang banyak bagi pelaku pasar. Semua kebijakan dibuat untuk kepentingan Negara (dalam hal ini, keluaga besar mahasiswa). Para pelaku pasar, baik produsen/pengelola, maupun konsumen, kadang dibiarkan merugi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal"&gt;Lantas bagaimana dengan pelaksanaan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) tahun ini? Mekanisme apa yang diberlakukan pengelolanya? kondisi psikis mana yang dimiliki para pengelola maupun pesertanya? Relasi sosial apa yang terjadi? Dan prilaku pasar mana yang dipilih?&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;" class="MsoNormal" align="right"&gt;Perlu analisa dan waktu lebih lanjut mengurai lima pertanyaan singkat itu. Sedikit rumit memang, tapi itu semua akan terjawab seiring waktu pelaksanaan OPAK, hingga LPJ dan pembagian sertifikat nanti. Dan yang lebih menarik adalah sebuah pertanyaan kecil; besarkah manfaat Opak untuk para pesertanya? Sampai-sampai pada saat pendaftaran lalu, ada beberapa calon peserta yang seolah menyesal betul, tidak diperkenankan mengikuti Opak, karena para pengelola menerapkan quota 800 peserta saja. Tidak lebih.&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-3117216745354723211?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/3117216745354723211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=3117216745354723211&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3117216745354723211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3117216745354723211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/kisruhnya-orientasi-mahasiswa-baru_27.html' title='Kisruhnya Orientasi Mahasiswa Baru'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5487663847996499054</id><published>2008-08-25T05:04:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T10:54:25.498-07:00</updated><title type='text'>Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Konon, jauh sebelum munculnya peradaban Yunani, dunia mengenal sebuah negeri adidaya yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Negeri panutan bernama “Atlantis” itu, menurut beberapa ahli sejarah, berada di semenanjung Asia lama, yang kemudian dikenal dengan kawasan Nusantara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Mitos kejayaan nusantara lama itu, pernah diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqie, dalam peringatan “Hari kebangkitan Nasional” beberapa waktu lalu. Nusantara memang kaya dengan kegenda, yang bercerita tentang majunya peradaban sebuah Negeri yang tersebar di seantero wilayah yang subur dengan ekonomi agrarian, kelautan dan perdagangan. Tarumanagara, Samudera Pasai, Padjajaran, Majapahit, Demak Bintoro, Mataram, Banten, dan Cirebon, adalah sebagian dari ribuan kerajaan yang tercatat dalam tinta emas sejarah, pada rentang waktu sekitar 700-1700 Masehi.&lt;span style=""&gt;   &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Tiga abad lebih setelahnya, kejayaan negeri yang dikenal &lt;i&gt;gemah-ripah loh jinawi&lt;/i&gt; itu kemudian sirna, karena perang saudara dan rakusnya penjajahan. Setelah melepas diri dari penjajahan, dan membentuk Negara Republik, bernama Indonesia, sejak 63 tahun lalu, bangsa ini tak kunjung beranjak dari penrjajah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Kerdilnya jiwa bangsa ini tercermin dalam pertentangan ideologis yang terjadi di negeri ini, sejak awal kemerdekaan. Dan pertentangan ideologis itu, ternyata tak pernah sepi dari kepentingan pihak asing. Dulu, Soekarno merangkul Komunisme, sebagai strategi pendekatan terhadap Uni Sovyet dan China. Pahlawan Proklamasi itu, kemudian mengusung Nasionalisme,Agama dan Komunis (Nasakom), sebagai ideology cultural. Sebuah &lt;i&gt;Ambivalensi&lt;/i&gt; yang berbuah perpecahan bangsa. Soeharto, juga mengadopsi ideologi pembangunan Amerika, dengan wacana &lt;i&gt;Development&lt;/i&gt;asi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yang kemudian kandas sebelum tinggal landas. Kebijakan ekonomi yang diambil Soeharto, tak terhindar pula dari intervensi asing, yang menghasilkan setumpuk hutang kepada IMF dan Bank Dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Kini, setelah hampir sepuluh tahun rezim orde baru terguling, pemerintah Indonesia tak pernah sampai hati menepis intervensi asing. Terlepasnya Timor-Timor, penguasaan &lt;i&gt;blok &lt;/i&gt;Cepu, hingga direbutnya Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran, dan pembangunan pangkalan udara Malaysia di wilayah perbatasan yang mestinya dinetralkan, sampai surat dari Senat Amerika terhadap Presiden, yang meminta dilepasnya para sparatis Papua, menjadi bukti betapa lemahnya kita di mata negara-negara lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Ironisnya, tak hanya pemerintah yang kini dikuasai Bangsa Asing. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagmaan, hingga partai politik, juga terjerat untuk memperjuangkan kepentingan pihak asing. Neo Liberalisme, sparatisme serta Terorisme dan Fundamentalisme agama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang semakin marak, konon dibiayai berbagai perusahaan dan organisasi transnasional yang memilih budaya dan ideology sebagai jalur penjajahan untuk kemudian mengeruk keuntungan kelompoknya. Yang lebih mengerikan, cengkerman kapitalisme juga tak mampu ditepis oleh pemerintah, memilih berpihak pada pengusaha, ketimbang kepada rakyat jelata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Globalisasi, memang sulit dihindari, tetapi seharusnya bangsa ini sadar, bahwa kita memiliki akar kebudayaan dan ideologis serta tradisi ekonomi yang telah merakyat sejak berbad lalu. padahal sesungguhnya, para pendiri republik ini sadar akan hal tersebut, mereka merangkumnya dalam Pancasila. Jika saja Pancasila diterapkan dalam setiap aspek kebijakan pemerintah, maka bangsa ini dapat berkompetisi dengan peradaban dunia lainnya. Ya, globalisasi tak perlu dihindari, kita tinggal menggali kearifan lokal yang terdapat dalam ribuan tradisi dan budya yang terdapat di negeri ini, untuk kemudian dikembangkan sebagai kekayaan pariwisata yang akan menarik minat wisatawan asing. Kekayaan alam yang tersisa juga akan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat, jika manajemen ekonomi kerakyatan yang terkonsep dalam koperasi dan prinsip ekonomi pancasila dijalnkan dengan baik. Perpecahan bangsa karena beragam ideology juga tentu akan dihindari dengan falsafah yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sayangnya, para pemimpin negeri ini, hanya pandai bicara tentang tingginya nilai-nilai pancasila, tanpa mau mengimplementasikan dalam praktik yang nyata. Jika kedaan ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun, bangsa ini selalu terjajah! &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;.  &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5487663847996499054?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5487663847996499054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5487663847996499054&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5487663847996499054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5487663847996499054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/nusantara-yang-selalu-terjajah-kado_25.html' title='Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-3742772251217634779</id><published>2008-08-22T02:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-22T06:07:08.776-07:00</updated><title type='text'>Marhaban Ya, Ramadhan</title><content type='html'>&lt;font style="font-family: comic sans ms;" size="3"&gt;Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat. Oleh itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF jika saya ada berbuat kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja , semoga kita dapat menjalani ibadah puasa .. SELAMAT BERPUASA.. &lt;/font&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-3742772251217634779?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/3742772251217634779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=3742772251217634779&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3742772251217634779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3742772251217634779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/marhaban-ya-ramadhan.html' title='Marhaban Ya, Ramadhan'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1273433123580456115</id><published>2008-08-16T00:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T04:27:12.452-07:00</updated><title type='text'>Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Konon, jauh sebelum munculnya peradaban Yunani, dunia mengenal sebuah negeri adidaya yang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Negeri panutan bernama “Atlantis” itu, menurut beberapa ahli sejarah, berada di semenanjung Asia lama, yang kemudian dikenal dengan kawasan Nusantara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Mitos kejayaan nusantara lama itu, pernah diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqie, dalam peringatan “Hari kebangkitan Nasional” beberapa waktu lalu. Nusantara memang kaya dengan kegenda, yang bercerita tentang majunya peradaban sebuah Negeri yang tersebar di seantero wilayah yang subur dengan ekonomi agrarian, kelautan dan perdagangan. Tarumanagara, Samudera Pasai, Padjajaran, Majapahit, Demak Bintoro, Mataram, Banten, dan Cirebon, adalah sebagian dari ribuan kerajaan yang tercatat dalam tinta emas sejarah, pada rentang waktu sekitar 700-1700 Masehi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Tiga abad lebih setelahnya, kejayaan negeri yang dikenal &lt;i&gt;gemah-ripah loh jinawi&lt;/i&gt; itu kemudian sirna, karena perang saudara dan rakusnya penjajahan. Setelah melepas diri dari penjajahan, dan membentuk Negara Republik, bernama Indonesia, sejak 63 tahun lalu, bangsa ini tak kunjung beranjak dari penrjajah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Kerdilnya jiwa bangsa ini tercermin dalam pertentangan ideologis yang terjadi di negeri ini, sejak awal kemerdekaan. Dan pertentangan ideologis itu, ternyata tak pernah sepi dari kepentingan pihak asing. Dulu, Soekarno merangkul Komunisme, sebagai strategi pendekatan terhadap Uni Sovyet dan China. Pahlawan Proklamasi itu, kemudian mengusung Nasionalisme,Agama dan Komunis (Nasakom), sebagai ideology cultural. Sebuah &lt;i&gt;Ambivalensi&lt;/i&gt; yang berbuah perpecahan bangsa. Soeharto, juga mengadopsi ideologi pembangunan Amerika, dengan wacana &lt;i&gt;Development&lt;/i&gt;asi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yang kemudian kandas sebelum tinggal landas. Kebijakan ekonomi yang diambil Soeharto, tak terhindar pula dari intervensi asing, yang menghasilkan setumpuk hutang kepada IMF dan Bank Dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Kini, setelah hampir sepuluh tahun rezim orde baru terguling, pemerintah Indonesia tak pernah sampai hati menepis intervensi asing. Terlepasnya Timor-Timor, penguasaan &lt;i&gt;blok &lt;/i&gt;Cepu, hingga direbutnya Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran, dan pembangunan pangkalan udara Malaysia di wilayah perbatasan yang mestinya dinetralkan, sampai surat dari Senat Amerika terhadap Presiden, yang meminta dilepasnya para sparatis Papua, menjadi bukti betapa lemahnya kita di mata negara-negara lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Ironisnya, tak hanya pemerintah yang kini dikuasai Bangsa Asing. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagmaan, hingga partai politik, juga terjerat untuk memperjuangkan kepentingan pihak asing. Neo Liberalisme, sparatisme serta Terorisme dan Fundamentalisme agama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang semakin marak, konon dibiayai berbagai perusahaan dan organisasi transnasional yang memilih budaya dan ideology sebagai jalur penjajahan untuk kemudian mengeruk keuntungan kelompoknya. Yang lebih mengerikan, cengkerman kapitalisme juga tak mampu ditepis oleh pemerintah, memilih berpihak pada pengusaha, ketimbang kepada rakyat jelata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Globalisasi, memang sulit dihindari, tetapi seharusnya bangsa ini sadar, bahwa kita memiliki akar kebudayaan dan ideologis serta tradisi ekonomi yang telah merakyat sejak berbad lalu. padahal sesungguhnya, para pendiri republik ini sadar akan hal tersebut, mereka merangkumnya dalam Pancasila. Jika saja Pancasila diterapkan dalam setiap aspek kebijakan pemerintah, maka bangsa ini dapat berkompetisi dengan peradaban dunia lainnya. Ya, globalisasi tak perlu dihindari, kita tinggal menggali kearifan lokal yang terdapat dalam ribuan tradisi dan budya yang terdapat di negeri ini, untuk kemudian dikembangkan sebagai kekayaan pariwisata yang akan menarik minat wisatawan asing. Kekayaan alam yang tersisa juga akan bermanfaat untuk kemakmuran rakyat, jika manajemen ekonomi kerakyatan yang terkonsep dalam koperasi dan prinsip ekonomi pancasila dijalnkan dengan baik. Perpecahan bangsa karena beragam ideology juga tentu akan dihindari dengan falsafah yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sayangnya, para pemimpin negeri ini, hanya pandai bicara tentang tingginya nilai-nilai pancasila, tanpa mau mengimplementasikan dalam praktik yang nyata. Jika kedaan ini terus berlangsung, maka sampai kapanpun, bangsa ini selalu terjajah! &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1273433123580456115?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1273433123580456115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1273433123580456115&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1273433123580456115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1273433123580456115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/nusantara-yang-selalu-terjajah-kado.html' title='Nusantara Yang Selalu Terjajah (kado untuk Hari Kemerdekaan Ri ke 63)'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-42339880736930216</id><published>2008-08-12T23:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T03:51:59.937-07:00</updated><title type='text'>Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.</title><content type='html'>oleh : Abdul Malik  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;“Sebagai bagian dari strategi aksi, sedikit huru-hara kadang diperbolehkan, demi didengarnya issu yang diusung!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Begitu kira-kira doktrin yang pernah saya dapatkan dalam materi strategi dan aksi, yang biasa disingkat stratak, di sebuah organisasi kemahasiswaan (ormawa) ekstra kampus. Ketika issu yang diangkat dihiraukan, seolah tak memiliki &lt;i&gt;selling point, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka aksi radikal menjadi solusi praktis yang super instant , sebagai sarana potong kompas, agar issu dilirik dan aksipun terpublikasikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Demonstrasi, makar dan pemberontakan terhadap rezim, seakan identik dengan gerakan mahasiswa. Padahal, terlepas dari represifitas aparat, huru-hara dan anarkhisme hampir selalu dianulir dalam setiap agenda rapat tekhnik lapangan (kajian &amp; rapat persiapan demonstrasi). Setiap koordinator lapangan sebuah aksi, pasti mewanti-wanti timnya untuk tidak bertindak anarkhis. Dalam hal ini, setiap aksi mahasiswa, biasanya mengusung moral sebagai basis ideologi gerakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Namun sayang, dengan hadirnya berbagai organisasi berlabel kemahasiswaan –baik resmi, maupun taktis,-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat ini, demonstrasi kadang hanya menjadi arena pengukuhan eksistensi ormawa. Lihat saja dalam beragam aksi yang diberitakan, kibaran bendera dan panji-panji keorganisasian seakan berebut mencari tempat, agar disorot kamera. Fenomena tersebut, memunculkan asumsi tentang disorientasi gerakan ormawa saat ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Meningkatnya jumlah ormawa di era reformasi, menandakan adanya keragaman ideologi, pola dan orientasi gerakan mahasiswa saat ini. Ditambah lagi dengan kebijakan otonomi daerah, yang menyebabkan semakin terpecahnya fokus kontrol mahasiswa terhadap sebuah rezim pemerintahan. Ini saya buktikan ketika mengikuti sebuah forum yang mempertemukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara nasional. Berkali forum hampir pecah, karena ketidak sepahaman agenda dan issu yang diusung. Hampir semua BEM berkeinginan agar issu di daerahnya diangkat bersama, menjadi issu nasional. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Di level daerah, egosentris masing-masing ormawa juga tak bisa dihindari. Dalam sebuah aksi, kadang ada saja ormawa yang enggan untuk bergabung dengan ormawa lain, meski issu yang diusung seragam, dan obyek yang menjadi target juga sama. Kbesaran bendera dan panji ormawa kadang membuat seorang dan sekelompok aktivis besar kepala, dan mengindahkan peningnya kebersamaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Di internal kampus, egosentris ormawa seakan bermuara. Lihat saja dalam setiap perhelatan Pemilu Raya Mahasiswa, sebuah agenda tahunan untuk suksesi kepemimpinan BEM dan setingkatnya, semua ormawa –ekstra maupun intra kampus- berebut tempat di hati mahasiswa, agar dipilih menjadi presiden mahasiswa, senat, maupun anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Lucunya, dalam agenda yang biasanya berlangsug hanya sebulan itu, teman satu &lt;i&gt;kosan&lt;/i&gt; bisa menjadi musuh yang paling gila. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;Padahal, jika menilik sejarah Pergerakan Nasional, dinamika peolitikan Indonesia tak pernah lepas dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cerita heroik tentang idealisme anak-anak muda yang turun ke jalan sambil membawa panji-panji kebesaran Kampus atau organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Keragaman itu telah ada sejak lahirnya Boedi Otomo (1902), dan hanya dengan &lt;i&gt;ghirah&lt;/i&gt; persatuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta kesadaran moral untuk melawan segala bentuk penindasan, kesewenangan dan penyimpangan saja, yang mampu menorehkan sejarah, itu pun hanya bisa dilakukan bersama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di tanah pertiwi, hingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bermunculannya tuntutan pengusutan korupsi dan penolakan atas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai daerah di Nusantara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-42339880736930216?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/42339880736930216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=42339880736930216&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/42339880736930216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/42339880736930216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/narsisme-dan-gerakan-mahasiswa-yang_1512.html' title='Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4592615130521301600</id><published>2008-08-12T23:41:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T03:41:46.811-07:00</updated><title type='text'>Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,</title><content type='html'>Oleh : Abdul Malik&lt;br&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;‘Kegenitan’ berpolitik yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!-- &lt;/    &gt; --&gt; eberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski &lt;span style=""&gt; &lt;!-- &lt;/    &gt; --&gt; emampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. &lt;i&gt;Politic education&lt;/i&gt; yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai &lt;i&gt;agent of control,&lt;/i&gt; yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format &lt;i&gt;good government&lt;/i&gt; yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya &lt;i&gt;deidiologisasi&lt;/i&gt; pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;"&gt;Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh.. &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4592615130521301600?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4592615130521301600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4592615130521301600&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4592615130521301600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4592615130521301600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/dari-politisi-genit-hingga-oposan-yang_4300.html' title='Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6822642672325130099</id><published>2008-08-12T15:05:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T15:09:06.407-07:00</updated><title type='text'>Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Oleh : Abdul Malik&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;‘Kegenitan’ berpolitik yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kemampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. &lt;i&gt;Politic education&lt;/i&gt; yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai &lt;i&gt;agent of control,&lt;/i&gt; yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format &lt;i&gt;good government&lt;/i&gt; yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya &lt;i&gt;deidiologisasi&lt;/i&gt; pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh.. &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6822642672325130099?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://malikmughni.multiply.com' title='Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6822642672325130099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6822642672325130099&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6822642672325130099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6822642672325130099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/dari-politisi-genit-hingga-oposan-yang.html' title='Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif,'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1000215346809692714</id><published>2008-08-12T15:03:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T15:09:37.510-07:00</updated><title type='text'>Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;oleh : Abdul Malik  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;“Sebagai bagian dari strategi aksi, sedikit huru-hara kadang diperbolehkan, demi didengarnya issu yang diusung!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Begitu kira-kira doktrin yang pernah saya dapatkan dalam materi strategi dan aksi, yang biasa disingkat stratak, di sebuah organisasi kemahasiswaan (ormawa) ekstra kampus. Ketika issu yang diangkat dihiraukan, seolah tak memiliki &lt;i&gt;selling point, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka aksi radikal menjadi solusi praktis yang super instant , sebagai sarana potong kompas, agar issu dilirik dan aksipun terpublikasikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Demonstrasi, makar dan pemberontakan terhadap rezim, seakan identik dengan gerakan mahasiswa. Padahal, terlepas dari represifitas aparat, huru-hara dan anarkhisme hampir selalu dianulir dalam setiap agenda rapat tekhnik lapangan (kajian &amp;amp; rapat persiapan demonstrasi). Setiap koordinator lapangan sebuah aksi, pasti mewanti-wanti timnya untuk tidak bertindak anarkhis. Dalam hal ini, setiap aksi mahasiswa, biasanya mengusung moral sebagai basis ideologi gerakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Namun sayang, dengan hadirnya berbagai organisasi berlabel kemahasiswaan –baik resmi, maupun taktis,-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat ini, demonstrasi kadang hanya menjadi arena pengukuhan eksistensi ormawa. Lihat saja dalam beragam aksi yang diberitakan, kibaran bendera dan panji-panji keorganisasian seakan berebut mencari tempat, agar disorot kamera. Fenomena tersebut, memunculkan asumsi tentang disorientasi gerakan ormawa saat ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Meningkatnya jumlah ormawa di era reformasi, menandakan adanya keragaman ideologi, pola dan orientasi gerakan mahasiswa saat ini. Ditambah lagi dengan kebijakan otonomi daerah, yang menyebabkan semakin terpecahnya fokus kontrol mahasiswa terhadap sebuah rezim pemerintahan. Ini saya buktikan ketika mengikuti sebuah forum yang mempertemukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara nasional. Berkali forum hampir pecah, karena ketidak sepahaman agenda dan issu yang diusung. Hampir semua BEM berkeinginan agar issu di daerahnya diangkat bersama, menjadi issu nasional. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Di level daerah, egosentris masing-masing ormawa juga tak bisa dihindari. Dalam sebuah aksi, kadang ada saja ormawa yang enggan untuk bergabung dengan ormawa lain, meski issu yang diusung seragam, dan obyek yang menjadi target juga sama. Kbesaran bendera dan panji ormawa kadang membuat seorang dan sekelompok aktivis besar kepala, dan mengindahkan peningnya kebersamaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Di internal kampus, egosentris ormawa seakan bermuara. Lihat saja dalam setiap perhelatan Pemilu Raya Mahasiswa, sebuah agenda tahunan untuk suksesi kepemimpinan BEM dan setingkatnya, semua ormawa –ekstra maupun intra kampus- berebut tempat di hati mahasiswa, agar dipilih menjadi presiden mahasiswa, senat, maupun anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Lucunya, dalam agenda yang biasanya berlangsug hanya sebulan itu, teman satu &lt;i&gt;kosan&lt;/i&gt; bisa menjadi musuh yang paling gila. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Padahal, jika menilik sejarah Pergerakan Nasional, dinamika peolitikan Indonesia tak pernah lepas dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cerita heroik tentang idealisme anak-anak muda yang turun ke jalan sambil membawa panji-panji kebesaran Kampus atau organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Keragaman itu telah ada sejak lahirnya Boedi Otomo (1902), dan hanya dengan &lt;i&gt;ghirah&lt;/i&gt; persatuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta kesadaran moral untuk melawan segala bentuk penindasan, kesewenangan dan penyimpangan saja, yang mampu menorehkan sejarah, itu pun hanya bisa dilakukan bersama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di tanah pertiwi, hingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bermunculannya tuntutan pengusutan korupsi dan penolakan atas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai daerah di Nusantara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1000215346809692714?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://malikmughni.multiply.com' title='Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1000215346809692714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1000215346809692714&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1000215346809692714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1000215346809692714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/narsisme-dan-gerakan-mahasiswa-yang.html' title='Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-9209935282870689586</id><published>2008-08-12T11:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T15:14:42.443-07:00</updated><title type='text'>Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh : Abdel Malik Mughni*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;“Sebagai bagian dari strategi aksi, sedikit huru-hara kadang diperbolehkan, demi didengarnya issu yang diusung!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Begitu kira-kira doktrin yang pernah saya dapatkan dalam materi strategi dan aksi, yang biasa disingkat stratak, di sebuah organisasi kemahasiswaan (ormawa) ekstra kampus. Ketika issu yang diangkat dihiraukan, seolah tak memiliki &lt;i&gt;selling point, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka aksi radikal menjadi solusi praktis yang super instant , sebagai sarana potong kompas, agar issu dilirik dan aksipun terpublikasikan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Demonstrasi, makar dan pemberontakan terhadap rezim, seakan identik dengan gerakan mahasiswa. Padahal, terlepas dari represifitas aparat, huru-hara dan anarkhisme hampir selalu dianulir dalam setiap agenda rapat tekhnik lapangan (kajian &amp; rapat persiapan demonstrasi). Setiap koordinator lapangan sebuah aksi, pasti mewanti-wanti timnya untuk tidak bertindak anarkhis. Dalam hal ini, setiap aksi mahasiswa, biasanya mengusung moral sebagai basis ideologi gerakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Namun sayang, dengan hadirnya berbagai organisasi berlabel kemahasiswaan –baik resmi, maupun taktis,-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat ini, demonstrasi kadang hanya menjadi arena pengukuhan eksistensi ormawa. Lihat saja dalam beragam aksi yang diberitakan, kibaran bendera dan panji-panji keorganisasian seakan berebut mencari tempat, agar disorot kamera. Fenomena tersebut, memunculkan asumsi tentang disorientasi gerakan ormawa saat ini. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Meningkatnya jumlah ormawa di era reformasi, menandakan adanya keragaman ideologi, pola dan orientasi gerakan mahasiswa saat ini. Ditambah lagi dengan kebijakan otonomi daerah, yang menyebabkan semakin terpecahnya fokus kontrol mahasiswa terhadap sebuah rezim pemerintahan. Ini saya buktikan ketika mengikuti sebuah forum yang mempertemukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara nasional. Berkali forum hampir pecah, karena ketidak sepahaman agenda dan issu yang diusung. Hampir semua BEM berkeinginan agar issu di daerahnya diangkat bersama, menjadi issu nasional. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Di level daerah, egosentris masing-masing ormawa juga tak bisa dihindari. Dalam sebuah aksi, kadang ada saja ormawa yang enggan untuk bergabung dengan ormawa lain, meski issu yang diusung seragam, dan obyek yang menjadi target juga sama. Kbesaran bendera dan panji ormawa kadang membuat seorang dan sekelompok aktivis besar kepala, dan mengindahkan peningnya kebersamaan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Di internal kampus, egosentris ormawa seakan bermuara. Lihat saja dalam setiap perhelatan Pemilu Raya Mahasiswa, sebuah agenda tahunan untuk suksesi kepemimpinan BEM dan setingkatnya, semua ormawa –ekstra maupun intra kampus- berebut tempat di hati mahasiswa, agar dipilih menjadi presiden mahasiswa, senat, maupun anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Lucunya, dalam agenda yang biasanya berlangsug hanya sebulan itu, teman satu &lt;i&gt;kosan&lt;/i&gt; bisa menjadi musuh yang paling gila. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;Padahal, jika menilik sejarah Pergerakan Nasional, dinamika peolitikan Indonesia tak pernah lepas dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cerita heroik tentang idealisme anak-anak muda yang turun ke jalan sambil membawa panji-panji kebesaran Kampus atau organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Keragaman itu telah ada sejak lahirnya Boedi Otomo (1902), dan hanya dengan &lt;i&gt;ghirah&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta kesadaran moral untuk melawan segala bentuk penindasan, kesewenangan dan penyimpangan saja, yang mampu menorehkan sejarah, itu pun hanya bisa dilakukan bersama.&lt;/font&gt; persatuan&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di tanah pertiwi, hingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bermunculannya tuntutan pengusutan korupsi dan penolakan atas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai daerah di Nusantara.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;font-family: arial,helvetica;" class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                                          &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;*Mahasiswa Jinayah Siyasah -Pidana&amp;politik Islam-&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;Fakultas Syari’ah IAIN Banten, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa SiGMA &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;IAIN Banten&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-9209935282870689586?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/9209935282870689586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=9209935282870689586&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/9209935282870689586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/9209935282870689586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/narsisme-dan-gerakan-mahasiswa-yang_12.html' title='Narsisme dan Gerakan Mahasiswa Yang Kehilangan Orientasi.'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-3545351191859849208</id><published>2008-08-12T11:12:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T15:12:09.666-07:00</updated><title type='text'>Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh : Abdel Malik Mughni*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;font-family: comic sans ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pemilu 2009 mendatang, memang memberi ruang yang cukup luas bagi kaum muda dan mahasiswa. Semangat kaum muda yang menggebu, kini banyak dipertontonkan oleh banyak tokoh, yang tiba-tiba bermunculan di media, dengan jargon yang hampir seragam; “perlunya kaum muda memimpin!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;‘Kegenitan’ berpolitik yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka tampilkan dalam iklan yang menghabiskan dana tak sedikit itu, bagi saya, adalah euphoria demokrasi yang terlambat. Seperti telatnya pubertas, yang dialami remaja tua. Semangat yang mereka tunjukkan, tak sejalan dengan sikap masyarakat umum, yang kini terlihat jenuh dengan hingarnya dunia politik (lihat saja besarnya persentase golongan putih, dalam setiap pemilihan kepala daerah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;Munculnya beberapa partai baru yang menargetkan kaum muda sebagai konstituen, juga membuat kelompok intelektual muda –baca: Mahasiswa- tergoda untuk terjun dalam pesta demokrasi, tak cuma sebagai tim sukses, apalagi hanya tim penggembira, kini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mahasiswa punya kesempatan menjadi calon legislatif di usia muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang teman perempuan saya yang berniat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif daerah misalnya, teman sekelas saya itu, kini menjadi pengurus salah satu partai baru, bentukan seorang Jendral. Teman saya yang lain, juga perempuan, kini menjadi fungsionaris sebuah partai yang selalu didera konflik internal, Adik kelas saya ini juga punya niat yang sama, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang. Satu lagi teman saya –satu angkatan- yang hendak maju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pemilu mendatang, dia dicalonkan oleh salahsatu partai berbasis organisasi mahasiswa kegamaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keberanian tiga teman sekampus saya itu, tentu dialami dan dilakukan oleh sebagian mahasiswa di kampus lain. Salahkah? Tidak juga. Semua berhak dipilih dan berhak memilih. Meski &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kemampuan, kematangan dan komitmen mereka pada masyarakat pemilihnya belum teruji, tapi kesempatan terlibat langsung dalam pemilu legislative, memberi peluang bagi mahasiswa untuk memberikan pencerahan langsung ke tengah masyarakat. &lt;i&gt;Politic education&lt;/i&gt; yang efektif, dapat dilakukan sambil mengampanyekan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;Dan jika terpilih, kemudian mampu bertahan dan memperjuangkan idealisme kemahasiswaanya, mereka tentu akan eksis sebagai kelompok muda progressif di gedung dewan nanti. Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jika setelah terpilih, dan -seperti yang biasa terjadi- mereka terjebak dalam system yang korup, kekhawatiran akan hadirnya kaum birokrat muda yang prematur dan karbitan, juga terulangnya tragedi angkatan ‘66’ yang dikenal opportunis, bisa jadi terulang kembali. Mahasiswa yang seharusnya bersikap sebagai &lt;i&gt;agent of control,&lt;/i&gt; yang bersikap kritis terhadap sebuah rezim, kini berebut tampil menjadi legislator.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;Bagi saya, sikap terbaik bagi mahasiswa saat ini, adalah mengkaji lagi format &lt;i&gt;good government&lt;/i&gt; yang tepat bagi bangsa ini. Besaran golput yang tidak sedikit, otonomi daerah, yang menyisakan sengketa dan perebutan wewenang antara pusat dan daerah, bermunculannya sparatisme lokal dan upaya &lt;i&gt;deidiologisasi&lt;/i&gt; pancasila, dan membesarnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi, adalah tugas berat yang mesti dituntaskan, dicarikan solusi, baik dalam tataran wacana, maupun tataran praktis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;font-family: comic sans ms;"&gt;Mahasiswa juga dapat memilih untuk menjadi oposan sejati dengan konsisten mengkritik sekaligus menawarkan solusi bagi pemerintah, kemudian konsentrasi dalam memberdayakan masyarakat sekitarnya, melalui berbagai program yang progressif. Dan sesekali, memprovokasi masyarakat untuk bergerak menetang kebijakan yang korup, juga boleh.. &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-3545351191859849208?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/3545351191859849208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=3545351191859849208&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3545351191859849208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/3545351191859849208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/dari-politisi-genit-hingga-oposan-yang_12.html' title='Dari politisi genit, hingga oposan yang provokatif'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6583850828201801737</id><published>2008-08-02T06:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-02T07:25:54.234-07:00</updated><title type='text'>Aku Kecewa Sebagai Konsumen</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku kecewa terhadap minimnya perlindungan terhaap konsumen. Hidup di era super &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hedonis  &lt;/span&gt;telah menggiringku untuk menjalani -dan menikmati- tradisi konsumtif di negeri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gemah- ripah  &lt;/span&gt;tapi tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;loh jinawi  &lt;/span&gt;ini. dan sebagai penganut konsumerisme praktis, aku tentu berhadapan dengan berbagai produk yang ternyata tidak sepenuhnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bikin puass&lt;/span&gt;! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa beberapa produsen, dan  pedagang saat ini, tidak menghargai hak-hak konsumen sepenuhnya. Kebanyakan dari mereka adalah penipu! berkali ku alami ketidaknyamanan atas pelayanan sebuah produk jasa. Dan ironisnya, kebanyakan produk yang tidak mengutamakan kenyamanan konsumen itu adalah produk yang benar-benar vital dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pengguna Listrik Negara, cerita yang tak pernah digubris para pengelola layanan jasa ini tentu sudah basi. Ya, secara pribadi aku sering kesal dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;byar-pret &lt;/span&gt;nya listrik. ketika menulis tugas kuliah atau beberapa catatan penting, tiba-tiba saja listriknya mati, ketika butuh penerangan, juga sama (ini juga konon merugikan banyak pengusaha rumahan), maka saya pikir, buat apa PLN keluarkan banyak iklan dan -kadang- beasiswa, jika pengelolaan usaha listrik itu tak kunjung baik?&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pengguna seluler Excelcom, tentu juga mengalami hal serupa dengan saya : banyak mengalami kesulitan dalam menelpon atau mengirim pesan singkat, dan parahnya itu sering terjadi pada jam-jam kerja! percuma XL berikan layanan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gratis sampe puass&lt;/span&gt;, jika hanya berlaku di malam hari, sebab ini tentu mengganggu pola kerja dan pola hidup para penikmatnya. saya pikir, ini merupakan tradisi yang tidak mendidik.. teman-teman di kampusku, kini banyak yang menjadi 'para peronda malam' hanya untuk bertelepon ria, yang kadang untuk memuaskan keisengan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda pengguna angkutan umum yang disingkat Angkot,  -khususnya- di Serang, Banten, jangan heran bila sering diturunkan sebelum tempat tujuan, hanya karena sang sopir, di tengah jalan, mendapat banyak penumpang lain yang arahnya berbeda dengan tujuan kita. dan jangan berharap lebih, bahwa angkutan di Serang akan memberi tarif sesuai aturan DisHub, sebab jika tidak ada uang pas, maka tanpa kembalianpun, bisa dianggap impas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku jadi bertanya, sejauh-mana kesadaran dan komitmen para perodusen layanan &amp;amp; jasa, terhadap pemenuhan hak-hak konsumen?     &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6583850828201801737?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6583850828201801737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6583850828201801737&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6583850828201801737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6583850828201801737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/08/aku-kecewa-sebagai-konsumen.html' title='Aku Kecewa Sebagai Konsumen'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5115155686410742918</id><published>2008-07-10T07:44:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T02:41:40.888-07:00</updated><title type='text'>Perempuan dan kebebasan berpendapat</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sore itu, sekretariat kami di lantai dua gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN “SMH” Banten menerima kunjungan dua siswi SMA dari Pandeglang, mereka sedang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kami yang saat itu baru menyelesaikan proyeksi penerbitan bulletin SiGMA edisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juni-Juli, yang -rencananya- bertema “Generasi Nyontek” memanfaatkan situasi ini untuk sekaligus mewawancarai keduanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Fina dan Dini, demikian nama tokoh kita ini. Fina, berjilbab gaul dan sedikit cuek dan terkesan jutek ketika kami beronondong dengan pertanyan seputar Ujian Nasional, sementara Dini, terlihat lebih kalem dengan kacamata dan jilbab lebarnya. Sejam berlalu, wawancarapun usai. Namun obrolan masih berlanjut dan beralih menjadi kenalan. Dini yang mengaku tak mampu menolak tradisi nyontek yang didukung sistem (guru dan sekolahnya) bertanya tentang fakultas dan jurusan kuliah yang saya ikuti di Kampus IAIN Banten, dengan jujur saya menjawab kuliah di Fakultas Syari’ah, jurusan Jinayah Siyasah (Pidana &amp;amp; Politik Islam). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tanpa diduga, mereka kemudian bertanya banyak hal, tentang hukum Islam. Seolah ingin membalas dendam atas jebakan wawancara kami, beragam pertanyaan mereka lontarkan, bergantian. Terus terang, saya merasa dites oleh keduanya. Sesaat, pendapat yang saya lontarkan dapat mereka terima. sayangnya, saya lupa sedang berhadapan dengan Fina, yang pernah tinggal di Pesantren dan Dini, yang sedang bersemangat mengikuti kajian di salh-satu &lt;i&gt;harokah&lt;/i&gt; Islamiah, ketika berpendapat bahwa Jilbab adalah tradisi, bukan bagian dari Syari’ah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berkali mereka menentang dan mencoba mematahkn pendapat saya. Sampai saya harus mengeluarkan refferensi sebuah Tafsir lama (Jalalain) dan sebuah terjemahan Al-Qur’an terbitan Bandung. Sya mencoba mengurai kata &lt;i&gt;jalaba, khumur,&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;aurat.&lt;/i&gt; Magrib pun menjelang, mereka pamit untuk pulang. Ketika bersalaman, Dini meminta saya untuk meralat pendapat, dan bertaubat. Dengan snyum terkulum (mengingat tingkah mereka, yang kukuh dengan pendapat sendiri), saya menjawab “ ya, Saya akan merubah pandangan saya, jika ada pendapat yang lebih kuat, dan dalil yang lebih sahih”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fina yang sedari awal terlihat kurang ramah menimpali “nanti fina &lt;i&gt;bawain &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;buku yang &lt;i&gt;bilang &lt;/i&gt;berjilbab itu wajib!”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Saya tunggu” kata Saya singkat, menutup pertemuan kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebulan berlalu, saya pun hampir lupa dengan kejadian itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ujian pengesahan judul skripsi, membuat lelah, dan saya berniat rehat di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA, belum sampai di pintu ‘dapur’ redaksi SiGMA, saya terkagetkan dengan sapaan seorang gadis berkerudung penuh dan berjubah, tangannya yang menggenggam sebuah buku., membuat saya berasumsi bahwa gadis ini adalah mahasiswi baru atau teman sekelas dari salahseorang &lt;i&gt;Crew&lt;/i&gt; SiGMA. Sya menjawab sapaanya sekedarnya, dan masuk ke ruang redaksi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tak lama kemudian, Nining, salah satu &lt;i&gt;Crew&lt;/i&gt; SiGMA yang konon satu kosan dengannya, meminta saya keluar dan menemui gadis itu, kemudian mengenalkan -lagi-, bahwa gadis itu bernama Fina, “Siswi yang dulu berdebat tentang Jilbab, dengan Kaka” ungkap Nining.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya yang baru &lt;i&gt;ngeh&lt;/i&gt; kemudian mencoba berramah-tamah dengannya, dan menyatakan permohonan maaf, atas &lt;i&gt;kepanglingan&lt;/i&gt; saya yang sempat lupa karena perubahan penampilannya. “&lt;i&gt;Makasih,&lt;/i&gt; Ka, &lt;i&gt;udah ngebangkitin&lt;/i&gt; keberanian Fina &lt;i&gt;buat&lt;/i&gt; lebih &lt;i&gt;Syar’I&lt;/i&gt;” kata Fina, membuat saya sedikit limbung dengan segala kejutan yag terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Setelah berbincang dan mengingat lagi perdebatan kami tempo lalu, Fina menyerahkan lembaran kertas yang ia keluarkan dari ransel. “ini saya tuliskan dalil-dalil tntang wajibnya berjilbab, tapi dibacanya nanti, kalau Fina &lt;i&gt;udah&lt;/i&gt; pulang” ungkap Fina, lagi. &lt;i&gt;Ending&lt;/i&gt; dialog bulan lalu, terngiang dalam benak saya. Belum saya terima lembaran kertas itu, fina menariknya lagi. Kelucuan khas gadis tanggung, pikir saya. Agak lama kami berbincang, dan mungkin akan lebih lama lagi, jika saja seorang teman tak mengingatkan saya untuk segera mencari data di Warnet. Saya pun pamit. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sepulang dari Warnet, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tohir, Pemred kami menyerahkan lembaran kertas bergulung, “Nih, titipan dari Fina” kata Tohir, “Apaan seh isinya, &lt;i&gt;Gue&lt;/i&gt; kok gak boleh liat?” kata Tohir lagi. Saya membuka lembar pertama, dan menyerahkan lembaran lainnya untuk dibaca Tohir. Saya terhenyak, seorang Siswi menganggap perbincangan singkat tentang jilbab, sebagai hal yang begitu serius, sampai haru mengunmpulkan puluhan dalil dan seperangkat logika untuk menerangkan wajibnya berjilbab, bagi muslimah. Kubaca sekilas lembaran kertas itu dan kuhitung, -jika tak salah hitung, lembaran kertas itu kini hilang- tujuh halaman &lt;i&gt;folio&lt;/i&gt; tulisan berspasi satu setengah, dengan &lt;i&gt;font&lt;/i&gt; 12,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan tipe huruf &lt;i&gt;Times news roman&lt;/i&gt;. Dibuka dengan pernyataan maaf atas tindakan –yang menurutnya, lancang- “saya tidak bermaksud menggurui, sekedar mengungkap kebenaran yang saya dapat dan kemudian saya yakini” paparnya setelah salam dan ungkapan &lt;i&gt;say hello,&lt;/i&gt; khas remaja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lima halaman setelahnya berisi kutipan ayat Qur’an dan hadist tentang aurat perempuan, serta logika “buah yang -&lt;i&gt;steril- &lt;/i&gt;ditutup plastik, dibandingkan dengan buah tanpa kemasan, banyak disentuh, dan kadang dikerubung lalat.” Logika semacam ini pernah aku baca dalam salahsatu tulisannya Habiburrahman Eshirazy.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu halaman terakhir, berisi doa dan harapan agar saya menemukan jalan yang benar, juga sedikit nasihat tentang pernikahan (dia bermaksud melucu, mungkin. Karena setelah nasihat ditutup dengan “he.he.”). Haru dan kagum sempat terbenak, dia meluangkan waktu untuk mencari dalil, meyakininya, kemudian menerapkannya. Siang itu, dia memang berubah, sikapnya tidak lagi &lt;i&gt;lenje&lt;/i&gt;, dan agak dewasa. Pandangannya pun menunduk ketika berbincang, tidak menantang, seperti bulan lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Saya melihat ada semangat menggebu dalam tulisan teman baru saya itu. Ternyata seorang perempuan bias begitu menggebu dalam merespon perbedaan pendapat, apalgi menyangkut keyakinan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini mengingatkan saya pada kisah pertentangan Aisyah dengan Ali Bin Abi Thalib, yang sempat menuai perang bertajuk perang Unta. Ya, sepeninggal nabi, Aisyah adalah salahsatu rujukan utama ummat Islam, bahkan ia dikabarkan pernah menjadi hakim pada tiga masa kekhalifahan (Abu Bakar, Umar, dan Ustman). Sementara &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ali Bin Abu Thalib, sejak muda dikenal sebagai intelektual sejati yang menjunjung tinggi idealisme. Mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pernah berbeda pendapat, dandalam sebuah pertemuan yang diketahui khalayak, Aisyah berkata, “Wahai anakku, hendaknya kalian tidak saling bermusuhan. Demi Allah, antara aku dan Ali tidak pernah ada permusuhan, hanya pertengkaran antara seorang Ibu dan anak asuhnya, dalam pandanganku, Ali adalah orang yang baik”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ali menyambut pernyataan itu dengan berkata, “demi Allah tidak ada apa-apa antara aku dengannya, kecuali hanya itu. Sungguh dia adalah Istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5115155686410742918?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5115155686410742918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5115155686410742918&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5115155686410742918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5115155686410742918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/07/perempuan-dan-kebebasan-berpendapat.html' title='Perempuan dan kebebasan berpendapat'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-8398770736905600809</id><published>2008-07-10T07:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T11:42:38.790-07:00</updated><title type='text'>Kesetaraan Berpendapat Dalam Musyawarah</title><content type='html'>  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;line-height: 150%;" align="center"&gt;“Adikku melanggar hukum, Aku yang menjadi saksi, Paman penuntut umum, Ayah yang menghakimi, walau Ibu terus membela, yang salah diputus salah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Begitu kira-kira penggalan lagu kasidah yang populer di tahun 90-an, bercerita tentang proses musyawarah di tingkat keluarga, yang menempatkan Ibu sebagai pembela. Syair tersebut menjadi cermin realitas tradisi masyarakat kita kala itu. Ayah menjadi pemimpin keluarga, dan dituntut bertindak logis. Sementara Ibu menjadi pendamping Ayah yang memberi pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pertimbangan Ibu dianggap selalu mengutamakan perasaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Tradisi Islam mengenal musyawarah sebagai sarana berembuk untuk mengurai dan memecahkan persoalan bersama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Konsep musyawarah dalam Al-Qur’an terdapat dalam dua ayat popular; “&lt;i&gt;Dan urusan mereka diputuskan secara musyawarah dintara mereka&lt;/i&gt;” (Q.S: As-Syura, 38) dan “&lt;i&gt;Bermusyawarahlah (Ya Muhammad) dalam segala urusan&lt;/i&gt;” (Q.S: Ali Imran, 159).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;line-height: 150%;"&gt;Kedua ayat tersebut, dengan terang mengungkap musyawarah sebagai media komunikasi verbal antar komponen masyarakat dalam segala urusan. Rasulullah SAW sangat menjunjung musyawarah, beliau menghargai pendapat siapapun tanpa membedakan jenis kelamin, agama, dan suku. Pada masa awal kenabian misalnya, beliau mendiskusikan wahyu pertama yang diterimanya kepada Khadijah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dijumpainya Khadijah sambil ia berkata: “selimuti aku!” ia segera diselimuti…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;text-align: justify;"&gt;“Khadijah, kenapa aku?” katanya. Kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa kekuatirannya akan terperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti juru nujum saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;text-align: justify;"&gt;…Khadijah, tanpa kuatir atau curiga berupaya menentramkan hati Muhammad, dengan pandangan penuh hormat khadijah berkata: “Wahai putra pamanku,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bergembira dan tabahkanlah hatimu, demi Dia Yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkan kau…” (Muhammad Hussain Haikal, dalam buku:&lt;i&gt; Sejarah hidup Muhammad).&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;    Musyawarah dalam keluarga tercermin dalam konspesi pernikahan dalam Islam, yang dipandang sebagai sesuatu yang luhur dan suci. Selain bertujuan untuk melanggengkan kehidupan manusia (melalui proses reproduksi) pernikahan juga menjadi sarana penyatuan dua orang dewasa yang didasari oleh kemauan bersama, demi mencapai keharmonisan spiritual dan emosional. Dengan menikah, dua keluarga menjadi satu dan dua kaum yang berbeda menjadi saling kenal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ulama fiqih merumuskan &lt;i&gt;khitbah&lt;/i&gt; sebagai bagian dari prosesi &lt;i&gt;pra&lt;/i&gt;nikah. &lt;i&gt;Khitbah&lt;/i&gt; dalam tradisi masyarakat kita dikenal dengan istilah pertunangan. Sebelum bertunangan, dua insan berlainan jenis dihadapkan pada proses &lt;i&gt;ta’aruf &lt;/i&gt;atau perkenalan. Dalam &lt;i&gt;ta’aruf&lt;/i&gt; dan pertunangan inilah, proses musyawarah terjadi. Musyawarah yang menghargai kebebasan berpendapat bagi masing-masing pasangan. Seorang perempuan boleh memilih sendiri calon suaminya, begitupun sebaliknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Dan hal yang paling agung dalam etika musyawarah –dalam keluarga islami- tersirat pada larangan berkata “ah”, larangan bertindak kasar dan tidak sopan kepada Ibu dan kemudian Bapak. Nabi pernah bersabda, bahwa kebaikan utama yang pertama adalah menghormati Ibu, kedua juga Ibu, dan ketiga pun Ibu, baru selanjutnya menghormati Ayah. Meski demikian, orang tua tidak diperkenankan memaksakan pendapatnya dalam urusan nikah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Nabi pernah mendobrak tradisi kawin paksa yang biasa terjadi di tanah Arab kala itu. Ibnu Abbas pernah menceritakan bagaimana nabi bereaksi ketika mendengar pengaduan dari seorang gadis yang dipaksa untuk menikah dengan seorang lelaki yang tidak dikehendaki oleh sang gadis yang bernama Khansa itu. Nabi menghargai keinginan Khansa untuk menikah dengan lelaki pilihannya sendiri. (cerita ini dimuat dalam berbagai kitab hadist yang diriwayatkan oleh &lt;i&gt;Imam Ahmad, Abu Daud, Daruquthni, dan Ibnu Majah&lt;/i&gt;). “Seorang gadis tanpa ditanyai persetujuannya terlebih dahulu, dan tanda persetujuannya adalah diamnya.” Hadist lain mengungkap hal ini secara eksplisit, bahwa “Jangan dinikahkan perempuan janda tanpa diajak bermusyawarah, dan perawan tanpa dimintai izinnya” (Hadist Riwayat &lt;i&gt;Jama’ah &lt;/i&gt;ahli Hadist, dari &lt;i&gt;Abu Hurairah&lt;/i&gt;. R.A.).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Dalam pergaulan rumah tangga, seorang suami dituntut menghargai istrinya dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an mengajarkan hak suami-istri dengan perimbangan yang setara. Keduanya dituntut untuk saling melayani. Jika istri solehah ditandai dengan baktinya kepada suami, maka lelaki yang baik dalam sabda Nabi adalah “Suami yang paling baik terhadap istrinya” (H.R &lt;i&gt;Tirmidzi&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;line-height: 150%;"&gt;Dalam konteks yang lebih luas, sejarah Islam banyak bercerita tentang kesetaraan perempuan dan lelaki dalam bermusyawarah. Sepeninggal nabi, Aisyah adalah salahsatu rujukan utama ummat Islam, bahkan ia dikabarkan pernah menjadi hakim pada tiga masa kekhalifahan (Abu Bakar, Umar, dan Ustman). Ali Bin Abu Thalib pernah berbeda pendapat dengan Aisyah, dalam sebuah pertemuan yang dilketahui khalayak, Aisyah berkata, “Wahai anakku, hendaknya kalian tidak saling bermusuhan. Demi Allah, antara aku dan Ali tidak pernah ada permusuhan, hanya pertengkaran antara seorang Ibu dan anak asuhnya, dalam pandanganku, Ali adalah orang yang baik”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Ali menyambut pernyataan itu dengan berkata, “demi Allah tidak ada apa-apa antara aku dengannya, kecuali hanya itu. Sungguh dia adalah Istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 0.5in;line-height: 150%;"&gt;Sirah nabawiyah juga menceritakan, bagaimana nabi mengikuti pendapat Umar bin Khattab untuk berdakwah secara &lt;i&gt;dzahir&lt;/i&gt;. Ketika &lt;i&gt;Khandaq&lt;/i&gt; terjadi, Nabi juga menerapkan saran Salman Al-Farisi untuk menggali parit di sekitar madinah, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tempat nabi dan para sahabatnya bertahan. Dalam berpolitik, Piagam madinah menjadi saksi sejarah bagaimana nabi bersikap toleran dan partisipatif dalam membangun masarakat madani bersama umat Yahudi dan Nasrani. Kala itu, sejarah berkata, bahwa tiga ummat berdampingan dengan damai dalam satu &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;Maka tidaklah mengherankan, jika Abu hurairah beriwayat, bahwa “Tidak ada seorangpun yang lebih rajin bermusyawarah, selain Rasulullah sendiri.”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt; (Wallahul muwaafiq ila aqwamittharieq).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-8398770736905600809?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/8398770736905600809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=8398770736905600809&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8398770736905600809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/8398770736905600809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/07/kesetaraan-berpendapat-dalam-musyawarah.html' title='Kesetaraan Berpendapat Dalam Musyawarah'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-788337977698521457</id><published>2008-07-08T09:25:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T07:32:35.872-07:00</updated><title type='text'>Ziarah Pesantren</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_adWHQ5D2ia8/SISdvM9CZxI/AAAAAAAAAGI/hTmYPvGPMDM/s1600-h/Nusantaraku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_adWHQ5D2ia8/SISdvM9CZxI/AAAAAAAAAGI/hTmYPvGPMDM/s400/Nusantaraku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225474901913265938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;Kemarin lalu (24/06), aku bareng beberapa teman di SiGMA berziarah ke makam Abuya Dimyati, salah seorang Ulama legendaris Banten, beliau dikenal mengamalkan nilai sufisme dalam hidupnya. Banyak tokoh,  pejabat,  santri,  kiai dan masyarakat umum yang berguru kepadanya. Hingga beliau wafat pada tahun 2003 lalu, kami yang berangkat saat itu, tak satupun yang sempat bertatapmuka dengan ulama ternama itu.&lt;br /&gt;Rabu malam itu kami beranjak dari rumah Diki yang letaknya tak terlalu jauh dengan kompleks pesantren Cidahu (tempat tinggal dan peristirahatan terakhir Abuya Dimyati). Cidahu yang merupakan daerah pegunungan, membuat kami betah menikmati hamparan sawah yang berundak. 'Drainase' dan sistem pengairan yang tradisional, ditambah deretan gubug pesantren yang berjajar di sepanjang jalan beraspal (hotmix,bro!)  semakin menyejukkan pandangan. Tidak ada gerbang atau lawang sketeng yang bertuliskan "selamat datang di komplek pesantren Cidahu",&lt;span style="font-style: italic;"&gt; banner&lt;/span&gt;,  plang dan papan nama pesantren pun tidak terlihat. Yang tampak hanya kibaran empat pasang bendera jumbo ukuran sekitar 1x2m, dengan warna biru dongker, terpancang di atap lantai tiga sebuah rumah, yang sedang dibangun. Rumah itu tampak anggun, dengan posisinya yang tertinggi diantara rumah lainnya, tapi tidak tampak mewah dan glamour. "itu rumah Abah Mur (K.H. Murtadlo) putra ke dua Abuya Dimyati" ujar Diki bertingkah selayak 'guide'. Rumah tingkat tiga ini agak kontras dengan majelis di seberangnya. kontras, karena majelis tersebut justru lebih layak di sebut villa.&lt;br /&gt;Suasana nyaman langsung menyergap kala ku masuki area majelis bertingkat dua itu. Keramik putih nan licin, dihampari karpet berpola kubah, menguatkan kesan bahwa rumah ini adalah tempat 'ibadah' bukan villa tempat berlibur!&lt;br /&gt;Interior di dalamnya membuatku terhenyak, sebuah&lt;span style="font-style: italic;"&gt; globe&lt;/span&gt; dan kitab kuning tertata di atas meja setengah kaki. Lemari kayu berukir rajawali penuh kitab, menyambut kami ketika melewati ruang tengah, yang bagiku lebih mirip ruang keluarga. Lukisan Abuya Dimyati yang sedang bersarung dan menggenggam tasbih, ditambah sebuah Photo pemilik majelis yang sedang menuntun Abuya, seakan ingin memperkuat genealogi pesantren penghuni tempat ini.&lt;br /&gt;Tak ada gorden yang menghalangi pandangan kami ke luar villa ini, hijaunya sawah mengitari rumah ini. Sunyi, senyap dan sepoinya angin membuatku betah untuk berlama-lama di lantai dua bangunan ini. Rangkaian kaligrafi 'ayat kursi' melengkapi ornamen yang ada di sana. Sejenak, anganku melayang, andai ku berkesempatan lebih, andai ku berdana lebih, andai ku tak dibebani tanggung jawab lebih, andai ku dapat  menikmati indahnya menjadi santri, di tempat ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-788337977698521457?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/788337977698521457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=788337977698521457&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/788337977698521457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/788337977698521457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/07/ziarah-pesantren.html' title='Ziarah Pesantren'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_adWHQ5D2ia8/SISdvM9CZxI/AAAAAAAAAGI/hTmYPvGPMDM/s72-c/Nusantaraku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1949853828096341231</id><published>2008-06-18T23:53:00.000-07:00</published><updated>2008-06-19T00:43:59.591-07:00</updated><title type='text'>Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SFoN0MTg3lI/AAAAAAAAAF4/H2M_A_ZsfkQ/s1600-h/S6300309.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SFoN0MTg3lI/AAAAAAAAAF4/H2M_A_ZsfkQ/s400/S6300309.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213494708942200402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;Prof. Quraish: &lt;i style=""&gt;“Otentitas&lt;/i&gt; Al-Quran bagian dari kausalitas” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;tag&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kamis (19/06) Ruang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banten berubah fungsi menjadi tempat diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Diskusi yang dipandu oleh Meutia Hafidz (Reporter Metro TV) itu menghadirkan Prof.Dr. M. Quraish Syihab, MA, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjend Bimas Islam) Departemen Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar,MA, dan Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, MA,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah tut hadir untuk membuka acara diskusi, sekaligus mencanangkan Gerakan Wakaf Al-Quran untuk Pondok Pesantren di Provinsi Banten. Dalam kesempatan itu, telah terkumpul 2661 &lt;i style=""&gt;Mushaf&lt;/i&gt;, seratus diantaranya disumbangkan oleh Ketua DPRD Banten, Adi Surya Dharma.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekitar 700 peserta,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;begitu antusias mendengar uraian dari ketiga penceramah. Peserta terdiri dari pelajar Madrasah Aliyah (MAN Insan Cendikia, MAN 1 &amp;amp; 2 Serang serta lainnya), Mahasiswa dan perwakilan dari 33 Kafilah peserta MTQN ke-22. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Prof.Dr. M. Quraish Syihab, yang menjadi penceramah pembuka mengungkapkan tentang Sejarah pengkodifikasian Al-Quran sebagai bagian dari kausalitas yang dikehendaki Allah. Bermula dari pemilihan tokoh yang menyampaikan wahyu (malaikat Jibril) tokoh yang mengemban amanat untuk menyampaikan wahyu (Nabi Muhammad saw), tempat dan waktu penyampaian, hingga redaksi yang dipilih, merupakan bagian dari seba-sebab yang dipersiapkan-Nya untuk tujuan terpeliharanya Al-Quran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lebih jauh, penulis Tafsir Al-Mishbah dan buku fenomenal “membumikan Al-Quran’ itu juga memastikan bahwa Al-Quran yang dibaca pada saat ini adalah sama dengan Al-Quran yang dibaca oleh Nabi Muhammad Saw. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan ini ditegaskan oleh Rif’at Syauqi dengan mengungkapkan bahwa orisinalitas Al-Quran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semestinya mendorong umat Islam untuk mengamalkan dalam hidup keseharian. Rif’at sebagai salah satu putra daerah Banten, mempertanyakan kemampuan &lt;i style=""&gt;home industri&lt;/i&gt; dan wisata kuliner Banten, untuk bersaing dengan produk daerah lain, sebagai bagian dari pengamalan essensi Al-Quran. “di Medan ada &lt;i style=""&gt;mika Ambon,&lt;/i&gt; sebagai makanan khas daerah, bagaimana di Banten, seharusnya Banten mampu mengembangkan &lt;i style=""&gt;home industri&lt;/i&gt;?” menurutnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serius mengembangkan industri juga bagian dari perintah Al-Quran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara Prof.Dr. Nasaruddin Umar, lebih membahas tentang pentingnya perumusan ulang tafsir yang disesuaikan dngan kebutuhan jaman. “Saat ini, Tim penafsir Al-Quran perlu melibatkan ekonom, ahli kesehatan hingga ahli kimia dan fisika” tuturnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada sesi pertanyaan, sempat terjadi kericuhan. Beberapa peserta sempat berebut untuk bertanya, beruntung, Meutia dapat menenangkan kericuhan sesaat itu. Seorang peserta sempat muncul pertanyaan bernada menggugat, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; keputusan bersama 3 menteri berkaitan dengan Ahmadiyah di Indonesia . menanggapi pertanyaan tersebut, semua pembicara mengaskan bahwa keyakinan Ahmadiyyah Qadiyan yang tergabung dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jaringan Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah sesat, tetapi sebagai warga Negara, mereka tetap berhak untuk mendapat perlindungan Negara (** Malik/SiGMA IAIN Banten)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1949853828096341231?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1949853828096341231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1949853828096341231&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1949853828096341231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1949853828096341231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/06/laporan-dari-diskusi-publik-tentang.html' title='Laporan dari Diskusi Publik tentang “Tinjauan Sejarah Al-Quran -Upaya Membumikan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari-”'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SFoN0MTg3lI/AAAAAAAAAF4/H2M_A_ZsfkQ/s72-c/S6300309.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-6429639918993883913</id><published>2008-06-16T05:50:00.000-07:00</published><updated>2008-06-16T05:54:12.878-07:00</updated><title type='text'>Drama Panjang di sela-sela UAS ganjil 2006</title><content type='html'>&lt;p class="Style" style="margin: 2.4pt -0.05pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 13.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Persiapan Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil 2006/2007, memperpadat kesibukan yang ada di kampus. Di luar itu, ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;obrolan menarik dari warung kopi &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Alay&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. yang letaknya tepat di seberang gerbang barat kampus. Membahas pelantikan Rektor yang seakan dirahasiakan. Rasa penasaran pun menghinggapi sebagian mahasiswa. Beragam pamflet ucapan selamat yang bernada sindiran terhadap Rektor bertebaran di ruang publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Seiring berjalannya UAS obrolan warung kopi semakin intensif diIakukan, tanpa rencana dan tidak dijadwalkan. Agenda pemilihan Pembantu Rektor (PUREK) yang awalnya hanya diketahui segelintir mahasiswa menjadi rahasia umum dengan adanya perbincangan kecil dari pojok-pojok kantin &lt;/span&gt;tag//  &lt;p class="Style" style="margin: 0.45pt 0.9pt 0.0001pt 0.75pt; text-align: justify; text-indent: 12.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.45pt 0.9pt 0.0001pt 0.75pt; text-align: justify; text-indent: 12.45pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mahasiswa dilibatkan enggak ya? ungkap beberapa mahasiswa yang rindu akan perubahan di kampus ini. Pertanyaan ini senada dengan rasa penasaran yang ditunjukkan pada tahun laIu menjelang pemilihan Rektor &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;st1:date year="2006" day="23" month="3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;23/03/2006&lt;/span&gt;&lt;/st1:date&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;). &lt;span style=""&gt;Beherapa aktivis berinisiatif untuk mendiskusikan STATUTA (pedoman pelaksanaan administrasi) STAIN,karena STATUTA IAIN belum terbit hingga saat ini. Sebagian mahasiswa lain memilih Keputusan Menteri Agama (KMA) no. 45 tahun &lt;/span&gt;2006 &lt;span style=""&gt;sebagai rujukan diskusi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 8.85pt 0.2pt 0.0001pt 0.75pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Percikan aksi menyulut emosi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 5pt 0.2pt 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 20.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dari warung kopi, BEMI berinisiatif me­ngadakan dialog yang melibatkan semua unsur KBM: UKM, BEM Fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Kosma, pada tanggai 6 Januari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.45pt 0in 0.0001pt 0.2pt; text-align: justify; text-indent: 20.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Format dialog tersebut." tidak beda dengan diskusi pada tahun-­tahun sebelumnya setiap menjelang dan Pasca Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM). Dengar pendapat tentang kondisi kampus yang konon tidak pernah membaik sejak tahun 1997. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.45pt 0in 0.0001pt 0.2pt; text-align: justify; text-indent: 20.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Padahal, dari segi fisik,. bangunan gedung kampus ini mengarah pada kata megah. Namun beberapa aktivis masih menilai banyaknya penyimpangan yang sulit terusut. Beragam keluhan terlontar dari kajian yang diadakan &lt;u&gt;tangga1 &lt;/u&gt;6 Januari di aula Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) itu. Semua bersepakat untuk mengadakan aksi demonstrasi di depan ruangan Senat lantai II gedung Rektorat lAIN SMH Banten. Rabu,10 Januari aksi digelar mengiringi berlangsungnya rapat Senat guna Pemilihan PUREK.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 5pt 0in 0.0001pt 0.2pt; text-align: justify; text-indent: 20.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pgs. Purek III bidang kemahasiswaan saat itu, Prof Dr. FauzuI Iman menerima 19 tuntutan mahasiswa yang menurutnya akan menampung aspirasi saudara-saudara sekalian katanya sambil mengeluarkan daIil-daIil tentang demokrasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada tanggal 12 Januari 2006, Purek I,II,III dan IV terpilih oleb Senat" tanpa penentuan calon Purek oleh Rektor definitive. Padahal, dalam KMA/26/&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;2006 &lt;span style=""&gt;dijelaskan bahwa mekanisme pemilihan Purek adaIah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-right: 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rektor menyampaikan calon pembantu rektor kepada Senat (pasa I4 ayat I). “Ini &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; lebih demokratis dan mengbindari dugaan nepotisme" ungkap salah seorang anggota Senat ketika ditanya tentang hal ini. Sementara dalam &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; tuntutan yang telah disampaikan pada aksi pertama (10/01), KBM dengan tegas menuntut agar Rektor &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;merealisasikan &lt;span style=""&gt;VISI misi&lt;/span&gt;nya, mengganti PUREK dan merombak total struktural lembaga lAIN. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-right: 0.45pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sehari Pasca pemilihan Purek, BEMI menggagas penemuan pertemuan KBM di wulandira&lt;span style=""&gt;, &lt;/span&gt;membahas hasil pemilihan Purek yang dinilai tidak memuaskan mahasiswa "Purek terpilih, cacat hukum dan moral” Ujar Sg, salah seorang peserta diskusi Wulandira. Kh, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA), angkatan 2004 menyesalkan kurangnya keterlibatan mahasiswa angkatan 2004 dan 2005. "Mestinya yang banyak menuntut itu, &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; kita yang semester tiga dan semester satu. Karena yang banyak dirugikan, sebenamya kita Bayaran enam ratus ribu, ditambah dana praktikum 200 ribu, tapi fasilitas yang diterima sama seperti senior kita yang bayarnya cuma tiga ratus ribu," kata Kh. Kh juga Mengaku kesal karena dana praktikum ternyata hanya untuk praktik ibadah yang tanpa dana pun bisa dilakukan. Dan yang paling menggelikan menurutnya, praktik komputer yang materinya sama dengan di SMP. &lt;i&gt;" &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;Makenya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;juga harus bergantian. &lt;i&gt;Afasa' &lt;/i&gt;satn pesawat komputer &lt;i&gt;dipake &lt;/i&gt;sama dua sampe empat orang?" tambahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-right: 0.45pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Minusnya pelayanan akademik ini kemudian dikaitkan dengan kesibukan beberapa pejabat kampus di luaran. Kurikulum yang tidak jelas dan terkesan acak-acakan disinyalir merupakan imbas dari budaya rangkap jabatan yang sejak lama terjadi di kampus ini. &lt;i&gt;"Sampe &lt;/i&gt;ada yang mengemban enam jabatan strategis sekaligus," ungkap AI, mahasiswa Tarbiyah semester akhir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-right: 0.45pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Analisa tentang moralitas para pejabat kampus, yang dianggap tidak sesuai dengan nilai ideal akdemis, menambah ragam keluhan klasik tentang kelembagaan lAIN "SMH Banten. Dialog yang berlangsung selama hampir enamjarn itu, sempat ditunda untuk solat Ashar berjamaah. Dialog kemudian mengerncut ke arah aksi. Hampir terjadi &lt;i&gt;deadlock &lt;/i&gt;dalam dialog sesi kedua itu. Beberapa peserta berpendapat, aksi yang dilakukan akan sia-sia karena &lt;i&gt;moment &lt;/i&gt;yang telat "Toh para purek telah dipilih, nanti kita malah dianggap &lt;i&gt;aksipesanan &lt;/i&gt;dari purek tidak terpilih" kata seorang peserta dari semester IV~ Pendapat ini kemudian diklarifikasi oleh Ks. Mahasiswa Syariah yang juga menjabat kementrian di &lt;span style=""&gt;BEM!. &lt;/span&gt;"Bodohlah kita jika mau ditunggangi kepentingan perorangan maupun kelompok. Bukankah kita disini telah sepakat bahwa &lt;i&gt;kezaliman &lt;/i&gt;kampus harns diakhiri:' la juga menegaskan bahwa aksi yang berlangsung tidak demi keuntungan siapapun. tapi merupakan kepedulian mahasiswa terhadap kampusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.7pt 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. Memasuki waktu magrib, dialog ditunda lagi. Beberapa pesena memiWn pu)ang, sebagian lain, sepakat untuk kemball ke karnpus dan memulai aksi. Pukul 19.00, tiga angkutan &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; beriringan mengantarkan &lt;span style=""&gt;puluhan mahasiswa dari taman wisata &lt;/span&gt;Wulandira ke kampus lAIN "SMH" Banten. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sesampainya di kampus--meski hari telah beranjak maIam--mereka memulai aksi. Berbagai tugas telah dibagikan. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; yang membuat pamflet berisi tuntutan, dan ada juga yang menyegel kelas dengan bangku-bangku yang dikeluarkan. Kesepakatan di Wulandira adalah "pemboikotan &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;UAS". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pukul sepuluh pagi, di depan gedung rektorat, ratusan mahasiswa terbakar semangatnya. Orasi bemada protes terhadap ragam kebijakan rektorat, terus berkumandang sejak pagi hingga matahari naik sepenggalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Semua menuntut hal yang sama; 1. Ganti Dosen yang masih S 1 sesuai dengan UU Guru dan Dosen, 2. Selektif dalam menentukan PUREK. 3. Pelabelan mobil operasional milik lAIN, 4. Profesionalisme dan akuntabilitas Dosen dalam kegiatan belajar mengajar, 5.Adakan secepatnya BIS KA.MPUS, 6. Perbaiki Tata ruang perpustakaan, kantin, kebersihan kampus, 7. Lengkapi fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mahasiswa (Lab sesuai Jurusan, Perpustakaan, olahraga), 8.Lembaga harus memberikan dukungan terhadap kegiatan mahasiswa dan meningkatkan pembinaan terhadap mahasiswa tanpa tebang pilih, 9.Tingkatkan pelayanan PRPS, keuangan, administrasi, I0. Seret oknum komersialisasi KTM, 11. Gunakan fasilitas kampus dalam pelaksanaan wisuda, 9.Gratiskan KUKERTA, 10.Tingkatkan Gaji Satpam dan cleaning service, II.Transparansi dana wisuda, 12.Transparansi dana praktikum, 13.Realisasikan visi misi Rektor, ganti Purek bermasalah dan rombak total struktural Lembaga lAIN. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Namun, tidak satu pun pejabat Rektorat yang bersedia menanggapi aksi massif itu. Padahal sejak pagi para pembantu rektor mondar-mandir mengamati aksi. Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Prof H.M.A. Tihami, Rektor lAIN Banten, mengungkapkan bahwa hari itu ia ada acara di Cilacap, Jawa Tengah. "Sayang. saat demo besar terjadi, saya sedang ada di Cilacap menghadiri pernikahan keponakan saya," sesalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.7pt 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para purek terpilih juga enggan menemui demonstran, karena merasa belum dilantik “Saya Kan baru &lt;span style=""&gt;dipilih, belumdilantik,”ujar &lt;/span&gt;Drs. Zakaria Syafei, Pembantu rektor III terpiIih, yang menggantikan Dr. Fauzul Iman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di tengah orasi berlangsung &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;sekelompok mahasiswa membakar jas almamater yang sedianya dikenakan saat &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;UAS. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;"Kampus ini sudah tidak membanggakan lagi buatku," tutur Md, saat ditanya tentang manuvemya membakar Jas Almamater, yang menjadi lambang kebesaran sebuah kampus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Melihat suasana mulai kacau, para pimpinan BEM1, &lt;span style=""&gt;UKM&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;BEMF, DPM1, MPMI dan HMJ memisahkan diri dari kerumunan demonstran merumuskan rencana aksi selanjutnya. Tiba-tiba terdengar opsi-opsi radikal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-left: 1.9pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;"Kita duduki Rektorat!" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-left: 1.9pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;"Sweeping para pejabat, dosen dan staff di lembaga," seru yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mereka lantas memasuki gedung rektorat. Ratusan mahasiswa lainnya turut maju mengikuti para pimpinan organisasi intra kampus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin-left: 1.9pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;"Jangan anarkhi!" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 30.2pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;"Yang lain di luar gedung saja dulu!" Ragam teriakan sHih bersahutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sementara orasi terus berJanjut di lantai dasar gedung Rektorat dengan peserta yang dibatasi. genderang musik yang dinyanyikan oleh seniman Gesbica dapat meredam panasnya suasana ratusan demonstran lainya menunggu di luar gedung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Satu jam berlalu. Aksi di dalarn gedung pun tidak mendapat respon. Puluhan aktivis ini kemudian beranjak naik ke lantai dua rektorat. T anpa komando, demonstran di luar gedung merangsek ke dalam gedung Rektorat. Pegawai akademik disuruh keluar dari gedung Rektorat, para dosen juga diharuskan meninggalkan ruangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.7pt 0.45pt 0.0001pt 1.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 5.75pt 3.8pt 0.0001pt 2.15pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Meskijam kerja belum berakhir, gedung rektorat ditutup rapat. Dikunci. Sebagian mahasiswa memilih bubar. Sebagian yang lain beJjaga-jaga di tiga penjuru pintu gedung rektorat. Aksi ini berlangsung hingga pukul tiga sore. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.2pt 3.8pt 0.0001pt 1.65pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Malam harinya, rapat tekhnis Iapangan (tddap) kembali digeIar di kampung peradaban, saung diskusi yang bersebelahan dengan kantor REM! dan berada tepat di depan gedung PKM Rapat teklap menghasilkan kesepkatan untuk me&lt;u&gt;ng~l{t3lran &lt;/u&gt;aksi lanjutan dengan lebih radikal. Kampus ini akan disegel! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.2pt 3.8pt 0.0001pt 1.65pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;·Tenda besar milik dinas sosial Banten, yang biasa digunakan untuk pos penanggulangan bencana, atau kegiatan sosial lainya, kini dijadikan marka jalan. Gerbang utama rektorat tidak bisa dilewati kendaraan, karena terhalang tenda berukuran sekitar 4x5 meter itu. Tenda kecil juga didirikan di luar gerbang utama, sebagai posko penjaga gerbang. Sedangkan gerbang barat dan utara, masih ditutup bangku, lemari dan karpet, sejak malam tanggal 16 januari . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.2pt 3.8pt 0.0001pt 1.65pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kamis pagi, 18 januari 2007, para dosen, staff pegawai dan beberpa mahasiswa yang belum mengetahui rencana aksi lanjutan merasa kaget dengan suasana tersebut. Walaupun jadwal UAS telah berakhir sejak kemarin, hari itu, semestinya dilakukan ujian susulan, mengingat ujian tanggal 17 lanuari gagal dilaksanakan karena demonstrasi yang cukup menggerahkan tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.2pt 3.8pt 0.0001pt 1.65pt; text-align: justify; text-indent: 15.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Beberapa dosen memaksa mahasiswa untuk membuka gerbang utama yang terkunci sejak semaIam. Merasa dihiraukan, Dr. Mufti Ali, luIusan Universitas Leiden, yang mengajar di kampus ini, dibantu beberapa dosen dan pegawai berusaha menjebol pagar pintu gerbang utama. "Ayo semua pada masuk. Kalian harus ikut ujian!” teriak Mufti sambil menaiki pagar. Merasa dikomando beberapa mahasiswa turut membantu membukakan gerbang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 1.9pt 0.2pt 0.0001pt 2.4pt; text-align: justify; text-indent: 14.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Insiden pun terjadi. Muhktar, mahasiswa jurusan TBI, yang berniat membantu Mufti Ali untuk mencabut spanduk berisi tuntutan KBM yang terpancang di pintu pagar, melipat spanduk dan tanpa sengaja membuat spanduk tejatuh ke dalam comberan yang berada di dekat pagar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0.2pt 0.45pt 0.0001pt 5pt; text-align: justify; text-indent: 34.8pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Melihat hal itu, beberapa demonstran tersulut emosinya. "Itu spanduk perjuangan! Kenapa dibuang ke comberan?" teriak Awang, kordinator lapangan, setengah menangis. Sulaeman, Wakil Presiden BEMI histeris. la menjatuhkan diri, sambil menangis, setelah sebelumnya beradu argumen dengan para dosen yang ngotot ingin membubarkan aksi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 35.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; demonstran semakin tidak terkendali. Mereka mengejar Mukhtar dan beberapa temannya yang membantu mencabut spanduk. Sementara tiga ternan lainya berIarian. Mukhtar justru menghampiri demonstran, "saya hendak minta maaf saat itu" akunya kepada SiGMA saat diwawancara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 35.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tindakan Mukhtar berakibat fatal. &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; demonstran tahu bahwa semalam Mukhtar mengikuti teklap (rapat teknis lapangan, sebuah persiapan akhir Pra Demonstrasi) dan tentu mengetahui rencana aksi tersebut. Bahkan, dalam aksi sebelumnya anggota DPMl dari Fraksi Partai Mawar ini sempat berorasi dan mendukung aksi ini. Salah paham terjadi. Mukhtar harns rela terpukul &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;massa&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; yang emosi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 17pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pintu pagar telah terbuka, tapi pintu gedung rektorat masih terkunci. Beruntung, salah satu pintu yang terbuat dari kaca telah rusak sejak sebelum aksi berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; dosen dan pegawai masih bisa masuk ke gedung rektorat. Namun sayang, dua pintu kaca di penjuru lain yang menghubungkan gedung rektorat ke Fakultas Syariah dan gedung F akultas Dakwah masih utuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 17pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Insiden pagi tadi membuat aksi melemah. Beberapa mahasiswa yang masih kecewa meneari pelaku peneabutan spanduk. Selebaran bernada hasutan memperkeruh suasana. Ditambah lagi dengan issu tentang reneana aksi tandingan yang dihembuskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 17pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Titik sentral demo tidak lagi satu lini. Jika sebelumnya mahasiswa terpusat di lapangan parkir, depan Rektorat, kini mahasiswa berkelompok di beberapa titik yang berbeda. Di depan gedung Syari'ah, di kantin, di masjid, di gerbang utama, dan di depan gedung PKM. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 2.4pt; text-align: justify; text-indent: 15.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Empat mahasiswa yang sempat membantu insiden pencabutan spanduk dan sempat menjadi korban pemukulan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyadari kesalahanya dan meminta maaf atas kekeliruannya. Meski begitu, rasa kecewa tidak dapat disembunyikan dari wajah para demonstran. Aksi menuntut perbaikan tercoreng dengan insiden yang tidak direncanakan. Kesolidan pun hampir terpecah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 17pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Menjelang sore, suasana berangsur membaik. Salah-paham antar mahasiswa pun telah terjembatani. Seiring dengan itu, perwakilan KBM kembali berkumpul merumuskan rencana kunjungan ke &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Depag&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;RI&lt;/span&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. Malam sebelumnya, pasca aksi 17 januari, KBM lAIN Banten telah mengajukan &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; tuntutan kepada Direktur Diktis (baca boks tuntutan KBM), &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Via &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;e­mail. Pejabat Diktis kemudian merespon tuntutan tersebut dengan menelpon Presiden dan wakil Presiden mahasiswa. "Semalam kita ditelpon oleh kepala Bagian Kemahasiswaan, Dr. Nurul Huda," kata Sulaeman Rusmana mengurai rencana kunjungan ke &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Depag&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;RI&lt;/span&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 17pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Jumat pagi, 19 januari 2006, 12 mahasiswa mewakili KBM berangkat ke kantor Diktis yang terletak di lantai delapan gedung &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Depag&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;RI&lt;/span&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. Dalam dialog KBM lAIN Banten Diktis itu, Dr. abdurrahman Mas'ud, Direktur Diktis, berjanji akan menindaklanjuti tuntutan KBM lAIN Banten dengan menurunkan tim pemeriksaan khusus (riksus) dari Inspektorat 1endral (Irjend) &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Depag&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;RI&lt;/span&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 0.7pt; text-align: justify; text-indent: 17pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Namun sampai berita ini ditulis, tim riksus yang dijanjikan belum terlihat realisasinya. Padahal, satu minggu setelah dialog KBM lAIN Banten-Diktis, KBM lAIN Banten, diundang kembali untuk berdialog dengan Direktur Jendral (Dirjend) Pendidikan Islam, atasan Diktis, lembaga . yang setingkat dibawah kementerian &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Agama&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;RI&lt;/span&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; (baea Harnskah lAIN Banten Turun Status?). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Style" style="margin: 0in 0.2pt 0.0001pt 2.4pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dr. Abdurrahman Mas'ud, ketika ditanya tentang janjinya tersebut menyatakan bahwa kelambatan realisasi tersebut lebih karena mekanisme birokrasi yang ada membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Dirjen telah menu lis &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; kepada Irjen. Selanjutnya, lrjen mempelajari permohonan terse but. Irjen membentuk tim pemeriksa. Tim ditugaskan untuk memeriksa. Tim melaporkan kepada Inspektur 1enderal, Irjen menyampaikan temuan kepada Dirjen Pendidikan Islam dan Dirjen mengambil langkah perbaikan terhadap masalah yang terjadi. Semua itu bukan keinginan dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, tetapi mengikuti aturan main yang ada," paparnya saat diwawaneara melalui e-mail pribadinya. (wawancara lengkap, baca Reportase Diktis). &lt;span style=""&gt;**&lt;/span&gt;(Abdul Malik/SiGMA).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-6429639918993883913?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/6429639918993883913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=6429639918993883913&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6429639918993883913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/6429639918993883913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/06/drama-panjang-di-sela-sela-uas-ganjil.html' title='Drama Panjang di sela-sela UAS ganjil 2006'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4403609992092327156</id><published>2008-06-03T03:02:00.001-07:00</published><updated>2008-06-04T07:33:03.730-07:00</updated><title type='text'>Polisi Perlakukan FPI seperti Warga Kelas Satu</title><content type='html'>tag&lt;div class="fullpost"&gt;Senin, 2 Juni 2008 - 13:05 wib  Anggi Kusumadewi - Okezone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VIII DPR bidang keagamaan, Said Abdullah menilai polisi seakan menempatkan Front Pembela Islam (FPI) seperti warga kelas satu. Pasalnya mereka hanya diam dan seakan membiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk kesekian kalinya FPI melakukan tindakan tidak patut, di luar akal sehat, dan melanggar hukum," tegas Said dalam pesan singkatnya kepada okezone di Jakarta, Senin (2/5/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota FPDIP ini mengatakan, selama ini masyarakat menghormati FPI sebagai Front Pembela Islam (FPI). Namun dalam prakteknya kenapa menjadi Front Preman Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ormas apapun yang melakukan kekerasan, hendaknya pemerintah tidak ragu untuk membubarkannya," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melanjutkan, jika pemerintah membiarkan masalah ini tanpa proses hukum atas kekerasan terhadap AKKBB, berarti pemerintah ikut menimbulkan benih-benih kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(uky)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4403609992092327156?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/02/1/114708' title='Polisi Perlakukan FPI seperti Warga Kelas Satu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4403609992092327156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4403609992092327156&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4403609992092327156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4403609992092327156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/06/polisi-perlakukan-fpi-seperti-warga.html' title='Polisi Perlakukan FPI seperti Warga Kelas Satu'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-491343101734564133</id><published>2008-06-03T02:58:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T07:38:50.440-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi menulis'/><title type='text'>Penyerangan FPI Digalang di Masjid Istiqlal</title><content type='html'>tag&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;JAKARTA - Aksi penyerangan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) ternyata telah direncanakan Front Pembela Islam (FPI). Bahkan rencana terakhir dimatangkan di Masjid Istiqlal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata aksi itu sudah direncanakan FPI. Sebelumnya, mereka briefing di Masjid Istiqlal," kata Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy, di kantornya, Jalan Taman Amir Hamzah No 8, Matraman, Jakarta, Senin (2/6/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad menyesalkan sikap anarkis yang dilakukan massa FPI dan HTI pada Minggu 1 Juni lalu. Apalagi, perencanaan serangan itu dilakukan di dalam masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba anda pikirkan, untuk menyerang kebebabasasn umat beragama dimulai dari masjid," sesalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan itu, lanjutnya, sungguh tidak berdasar karena dilakukan saat AKKBB tengah memperingati hari Pancasila. Tidak ada muatan apapun dalam aksi damai itu. "Ini sebuah gerakan anti-Pancasila. Aksi kemarin untuk peringati Pancasila, tidak ada muatan lain," tandasnya.  ( Senin, 2 Juni 2008 - 13:59 wib  Sandy Adam Mahaputra - Okezone)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-491343101734564133?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/02/1/114735' title='Penyerangan FPI Digalang di Masjid Istiqlal'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/491343101734564133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=491343101734564133&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/491343101734564133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/491343101734564133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/06/penyerangan-fpi-digalang-di-masjid.html' title='Penyerangan FPI Digalang di Masjid Istiqlal'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5282980098707474415</id><published>2008-06-03T02:47:00.000-07:00</published><updated>2008-06-11T06:46:53.516-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi islam'/><title type='text'>Political Violence dan Fundamentalisme Islam (Oleh Abdul Malik)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SEUVe-PYwTI/AAAAAAAAAFw/6RsCH4-l0T8/s1600-h/religion.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SEUVe-PYwTI/AAAAAAAAAFw/6RsCH4-l0T8/s400/religion.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207592165971640626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada penghujung Mei 2008 kemarin, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berbagai kabar yang kurang nyaman. Dari rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tak mempan ditentang, bentrokan polisi dan Mahasiswa  demonstran yang menolak kenaikan BBM, hingga penyerangan Front Pembela Islam (FPI) terhadap aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama (AKKBB) yang sedang memperingati hari kesaktian Pancasila, 1 Juni kemarin. Serangan FPI telah mengakibatkan puluhan orang terluka, satu diantaanya anak-anak dan beberapa orang Kiai Pimpinan Pondok Pesantren dari Jawa Barat. Mengapa berbagai kekerasan ini berulang -dan seakan dibiarkan- terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak asumsi yang bermunculan ketika bangsa ini dihantui berbagai kekerasan dengan tiada henti. Dan dari sekian asumsi yang ada, penulis mencoba menyoroti dari sisi political violence (konflik politik dengan cara kekerasan) dan sudut pandang ideologis kegamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Political violence dapat terjadi pada pelbagai institusi dan organisasi –negara termasuk diantaranya- yang menurut Ramlan Surbakti (Memahami Ilmu Politik, 1992: 150) pada umumnya terjadi pada masyarakat-negara yang belum memiliki konsensus dasar mengenai dasar dan tujuan Negara dan mekanisme penyelesaian konflik yang melembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tag&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semestinya berbagai kekerasan tidak lagi –selalu- terjadi di negeri ini. Karena Negara Indonesia, sejak lama telah memiliki consensus dasar mengenai dasar dan tujuan Negara, Indonesia juga telah sejak lama memiliki lembaga yang berkewenangan menangani konflik di tengah masyarakatnya, yang dikenal dengan Catur Wangsa: Kepolisian, Kejaksaan, Pengacara dan Kehakiman, yang kesemuanya  berujung pada lembaga pengadilan. Tetapi fenomena yang ada mengatakan sebaliknya. Political Violence justru sering terjadi dan kadang malah dilakukan dan diamini oleh lembaga Negara, diantaranya kepolisian (lihat tragedy penyerangan Polisi terhadap kampus Universitas nadional dan berbagai penyerangan lain yang dilakukan masyarakat atas nama agama). Fenomena ini setidaknya menunjukkan telah melemahnya pemahaman terhadap con&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sensus bersama mengenai dasar dan tujuan Negara yang telah disusun oleh para pendiri Negara ini. Fenomena ini juga menunju7kkan lemahnya lembaga pengaturan dan penyelesaian konflik yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menurut Ziegenhagen, pemerintah dapat melakukan tiga kebijakan intervensi dalam upaya mengendalikan konflik yang ada, yakni; 1. kemampuan pemaksaan secara fisik (coercive capacity) dan ancaman penggunaanya -anehnya, ini justru dilakukan hanya untuk meredam para demonstran yang mengkritik kebijakan pemerintah saja- 2. penggunaan sanksi negative atas salah satu atau kedua pihak yang berkonflik , dengan kewenangan semacam ini, pemerintah tentu dapat menghukum bahkan membubarkan organisasi yang dianggap menebar keresahan, - sayangnya, kewenangan ini kemudian hanya diberlakukan jika ada tekanan dari pihak yang mendominasi Negara-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang selalu dibiarkan terjadi ini juga bisa jadi merupakan strategi politik dalam rangka pengalihan isu kenaikan BBM, satu diantara pihak yang beronflik, entah FPI ataupun AKKBB, bisa jadi berkonspirasi dengan pemerintah, untuk tujuan pengalihan issu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang ideologis keagamaan, fenomena kekerasan ini merupakan bagian dari doktrin ideologis fundamental yang menghalalkan penggunaan kekerasan fisik (baca: Jihad) untuk menegakkan doktrin ideologis yang diyakininya.  (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5282980098707474415?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5282980098707474415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5282980098707474415&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5282980098707474415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5282980098707474415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/06/political-violence-dan-fundamentalisme.html' title='Political Violence dan Fundamentalisme Islam (Oleh Abdul Malik)'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SEUVe-PYwTI/AAAAAAAAAFw/6RsCH4-l0T8/s72-c/religion.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-9147695442074965136</id><published>2008-05-22T05:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T05:20:14.225-07:00</updated><title type='text'>Masih adakah nalar &amp; moral akademis saat ini?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah catatan kecil tentang realitas kampus yang lucu.&lt;br /&gt;(Oleh : Abdul Malik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maunya selalu memberantas kemiskinan, tapi ada yang selalu kuras uang rakyat//Ada yang sok aksi buka mulut, protas-protes, tapi mulutnyaselalu beraroma Alkohol//Maunya selalu menegakkan keadilan, tapi masih saja ada sisa hukum rimba//Ada yang coba-coba sadarkan penguasa, tapi sayang yang coba sadarkan, sadar aja gak pernah//Setiap hari mabok mengoceh soal politik// setiap hari korup, mengoceh soal krisis ekonomi//Perutnya kekenyangan bahas soal kelaparan//Selalu monopoli, mengoceh soal pembantaian//Setiap hari mengomel soal kebobrokan//Yang muda mabok, yang tua korup//Jayalah negeri ini// jayalah negeri ini!&lt;br /&gt;(Distorsi,Ahmad Band)&lt;br /&gt;Penggalan lirik karya Ahmad Dhani itu ditulis di awal era reformasi. Cerita yang mencerminkan realitas bangsa Indonesia saat itu. Hedonisme, Politik berpanglima uang dan kekuasaan untuk kerabat segolongan. Realitas yang masih terjadi hingga saat ini (dan tahun ini menjalar di kampus IAIN Banten). Wacana yang kurang, diskusi yang jarang, ancaman dan kekerasan atas sikap kritik, sampai dengan budaya magis yang mistis tak pernah menjadi soal yang dipikirkan untuk segera dituntaskan. Yang sering jadi bahan diskusi Cuma politik, uang, cinta berbau seks, dan kekuasaan kelompok dan primordialis.&lt;/div&gt;Padahal, jika saja para aktifis Mahasiswa membaca Catatan Seorang Demonstran dari Soe Hok Gie, saya yakin lima puluh persen, saya -dan mungkin mereka serta kita semua- bakal merasa betul-betul terpuruk dan inferrior. Gie, seorang WNI keturunan Tionghoa, begitu bangganya menuliskan realita perjuangan para mahasiswa tahun 60 -an dalam melawan kedzaliman para penguasa. Dia menikmati keterasingannya. Dan seolah menjadi The Hero melalui tulisan dan gerakannya. Ia rela terpinggirkan demi idealisme.&lt;br /&gt;tag&lt;br /&gt;Bandingkan dengan keadaan sekarang; demo bayaran, atau demi kepentingan kelompok (baca: si pembayar). Diskusi yang seremonial tanpa substansi, seminar dan penelitian yang berbasis proyek, kajian garing yang dilakukan sekadar penggugur kewajiban, perjuangan yang hanya jadi lipstik kepentingan pribadi. Salahkah? Sebenarnya orientasi pribadi dan golongan bukanlah dosa, yang jadi problem adalah ketika tenaga, fikiran dan dana yang dihabiskan, ternyata hanya menghasilkan wacana kosong yang riaknya hanya menghasilkan lelah dan cibiran.&lt;br /&gt;Padahal, mahasiswa dulu, begitu dipercaya dan diagungkan sebagai super hero. Sebenarnya, tidak hanya Soe Hok Gie yang mengabadikan heroisme mahasiswa, Habiburrahman Eshirazy, dan Andrea Hirata, berhasil memotret perjuangan segelintir kaum muda di tengah arus keterpurukan ekonomi. Tapi karya-karya monumental itu hanya segelintir! Bandingkan dengan potret lain tentang dunia kampus saat ini, tawuran, kekerasan sampai pembunuhan yang terjadi di Kampus, sudah tidak lagi menjadi hal yang lucu. Karena terlalu sering terjadi. Ayam kampus, tidak lagi fenomenal, karena sudah menjadi rahasia umum. Korupsi di kalangan cendekiawan kampus, bukan hal tabu lagi, karena para pejabat dan akademisi kampus telah mulai ngantri di ciduk KPK. Dan tak ada lagi yang heran bahwa berbagai kecurangan terjadi di kampus, dunia akademis yang dulu seperti menara gading, karena begitu menjunjung moral dan etika yang eksklusif .&lt;br /&gt;Kultur di kampus ini (IAIN Banten) lebih menggelikan. Mahasiswa didoktrin untuk bersikap arif, menjunjung nilai-nilai dan moral akademis, serta menyepi dari dunia politik. Sementara sebagian pejabat Rektorat dan Fakultas, tak henti berakrobat mencari celah demi mengejar jabatan, hinga aturan yang dibuat tak segan tuk dilanggarnya sendiri. Bahkan tak jarang, para pejabat yang jadi senior di berbagai organisasi, berupaya menggolkan yuniornya untuk duduk di tampuk kepemimpinan Mahasiswa. Dan gilanya, meski ketika menjabat tak mampu berbuat maslahat, subsidi dan kucuran dana terus mengalir, nalar akademis telah sekarat (bukan?).&lt;br /&gt;Belum lagi upaya mengelabui mahasiswa dengan fatsoen Ta’limul Muta’alim, dibumbui beragam janji manis, seolah membuat para aktifis merasa tak layak –lagi- bersikap kritis terhadap ’orang tua’ dan guru di Kampus ini. Kapitalisme global yang meniscayakan sikap hedonis, berhasil membuat moral akdemis semakin terpuruk. Mark-up dana kegiatan, ’mengutip’ dana proposal, hingga penggelapan dana kegiatan, hampir sulit dipisahkan dari obrolan tentang para eksekutif (dan legislatif) mahasiswa IAIN Banten.&lt;br /&gt;Sikap anti kritik, berebut kuasa, kesewenang-wenangan, korupsi dan kolusi, premanisme, hingga percintaan gaya ABG, telah ngetrend, dan layak jadi menu pesta Keluarga Besar Mahasisa IAIN Banten di seratus tahun kebangkitan Nasional ini.&lt;br /&gt;Maka tak perlu protes jika novel dan film tentang dunia kampus saat ini lebih memotret dunia kelamnya (Baca saja Sex in the Kostnya Iip Wijayanto, Jakarta Under Cover-nya Moammar Emka, ’Mereka bilang aku Monyet’ Djenar Mahesa Ayu dan puisi-puisi ’terbuka’ gaya Binhard Nurrahmat yang begitu vulgar –konon menjijikan, tapi nyatanya tetap laris-. Lihat juga Film XL, DO hingga ML –yang meski gagal tayang, tetap dicari bocorannya-). Dan karena kelamnya itu lah, para siswa berlomba masuk Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;Jangan heran pula, ketika para musisi kini banyak bernyanyi tentang ambivalensi yang terjadi, Iwan Fals bahkan berani melarang bicara moral, idealisme dan perdebatan tentang keadilan dan kemakmuran, karena Om Iwan melihat empat hal fundamental itu telah habis bersama hilangnya suara nurani hampir setiap insan di Indonesia, tak terkecuali kaum akademisinya.&lt;br /&gt;Kondisi yang menghiasi Kampus ’Jingga’ saat ini, bisa jadi menambah tumpukan pesimisme bagi semua kalangan di Serang, apalagi ada issue adanya riset tentang ’Ayam kampus di Serang’ yang sedang dilakukan oleh lembaga independen. Bandingkan pula, sementara Mahasiswa di Kampus lain bergeliat menentang kenaikan BBM, dan mengenang lagi kegagalan reformasi di tahun yang kesepuluh, KBM IAIN ”SMH” Banten malah kisruh mengurusi Pemilu mahasiswa (PUM), ini tentu menguatkan anggapan bahwa harapan, perubahan dan perbaikan hanyalah sebuah mimpi.&lt;br /&gt;Meski demikian, kaum progressif mestinya tidak bersikap pesimistis atas kenyataan yang ada. Relatifitas kebenaran tak lantas menghilangkan hubungan sebab akibat (kausalitas). Konsep yang nyata ini semestinya menjadi pegangan kaum terpelajar dalam mengawali, memulai, melakukan dan melanjutkan setiap aktiftasnya. Konsep ini jugalah yang seharusnya menjadi ruh sebuah gerakan, agar selalu dinamis tanpa mudah patah, tetapi juga tidak ekstrim , penuh emosi yang anarkhi.&lt;br /&gt;Saya yakin, tradisi kajian akan menghasilkan sepercik pemikiran untuk melakukan perubahan. optimisme itu akan muncul dan menggerakkan pelakunya untuk segera bangkit dari keterpurukan, ya, di seratus tahun Kebangkitan Nasional, saya teringat sebuah kejadian yang sempat saya tulis di catatan harian pribadi :&lt;br /&gt;“Malam itu, dua kerupuk kaleng tamani obrolanku dengan Aloy, si penjaga warung saderek (yang ada tepat di seberang gerbang barat Kampus IAIN Banten), tempat mangkal para aktifis. Dia bertanya tentang arti ‘Dialektis’ kuterangkan sedikit hal yang ku tahu, dan merembet pada kata kritis, yang kemudian harus kujabarkan lagi. Meski hanya lulus SMP, pergaulan Aloy dengan para mahasiswa membuatnya harus beradaptasi. Maka kukisahkan tentang Joni Ariadinata, tukang becak yang berhasil menjadi penulis handal. Aloy tertarik dengan ceritaku, tangannya terlihat mencorat-coret buku hutang pelanggan, kudekati dia sambil meminta empat batang rokok, ternyata Aloy mencoba tuliskan Syair puitis. “Harus ada perubahan!” bisiknya. Aku tersenyum, puas.&lt;br /&gt;Meski setelahnya, hati kecilku berkata “kalimat yang terucap dariku ini belum sepenuhnya kupraktekkan!”.&lt;br /&gt;Dapatkah kita bersikap Optimis seperti Aloy? tag&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-9147695442074965136?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/9147695442074965136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=9147695442074965136&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/9147695442074965136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/9147695442074965136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/05/masih-adakah-nalar-moral-akademis-saat.html' title='Masih adakah nalar &amp; moral akademis saat ini?'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5388028705102101986</id><published>2008-05-08T10:58:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T11:37:32.063-07:00</updated><title type='text'>Jubah berbalut darah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SCNHzng8atI/AAAAAAAAAEU/miGX0sFL3u4/s1600-h/pieta.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SCNHzng8atI/AAAAAAAAAEU/miGX0sFL3u4/s320/pieta.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198077347021744850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/root/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;negeriku kini ramai dikunjungi para peziarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;suci,  berjubah  tapi haus darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;jubahnya yang selayak zirah&lt;br /&gt; tak mempan ditebas pisau logika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;peluru rasio tak mampu tembus kulit nalar mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;bermodal Jubah berhias janggut dan surban yang dibalut,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;mereka datang , menjadi begawan, menculik muda-mudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:georgia;" &gt;kaumku punah dijajah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tag&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5388028705102101986?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5388028705102101986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5388028705102101986&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5388028705102101986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5388028705102101986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/05/jubah-berbalut-darah.html' title='Jubah berbalut darah'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SCNHzng8atI/AAAAAAAAAEU/miGX0sFL3u4/s72-c/pieta.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-2067560858956306758</id><published>2008-05-08T10:40:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T10:50:49.048-07:00</updated><title type='text'>kontemplasi</title><content type='html'>sepi&lt;br /&gt;sendiri&lt;br /&gt;tata hati&lt;br /&gt;dengar nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan semua sirna&lt;br /&gt;ditelan fana yang nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tag&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-2067560858956306758?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/2067560858956306758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=2067560858956306758&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/2067560858956306758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/2067560858956306758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/05/kontemplasi.html' title='kontemplasi'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4928186190388635381</id><published>2008-04-09T06:30:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T06:40:18.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi menulis'/><title type='text'>Laporan Investigasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.blogger.com/www.loftwork.com/Upload/%20user/6657/public/042d.."&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/www.loftwork.com/Upload/%20user/6657/public/042d.." border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Apakah semua wartawan menjalankan investigasi? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oleh : Andreas Harsono (dari www,Pantau.or.id)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawabnya bisa ya bisa tidak. Sebagian wartawan mengatakan setiap reporter seorang investigator. Namun ada yang mengatakan tidak. Wartawan yang ikut pertemuan pers, menyodorkan tape recorder dan kadang-kadang terima amplop, pasti bukan seorang investigator. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada juga yang berpendapat setiap wartawan seyogyanya menjadi seorang investigator. Atau dipertajam lagi, ada yang mengatakan bahwa setiap wartawan harus bisa menjadi seorang investigator. Entah itu wartawan liputan kota atau reporter bisnis. Bahkan wartawan yang bertugas meliput mode juga bisa jadi investigator. Logikanya, kejahatan tak mengenal bidang-bidang liputan. Di mana-mana bisa terjadi kejahatan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebagian wartawan juga mengatakan bahwa investigasi adalah pekerjaan jurnalisme yang dikaitkan dengan upaya membongkar apa-apa yang kesalahan dan dirahasiakan. Namun apakah membongkar skandal antara seorang redaktur dengan mantan sekretarisnya juga dikategorikan investigasi? Apakah membongkar skandal seorang politikus dan seorang aktivis perempuan bisa dikategorikan investigasi? Berhakkah media masuk hingga ke ruang pribadi ini? Apa beda investigative reporting dan in-depth reporting? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;DARI MUCKRAKING HINGGA INVESTIGATIVE REPORTING &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebelum masuk ke perdebatan-perdebatan tersebut, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi di negara-negara lain yang tradisi persnya, lebih tua dari Indonesia. Di Amerika Serikat, istilah investigative reporting mulai populer pada 1975 ketika di Columbia didirikan Investigative Reporters and Editors Inc. Sebelumnya ada istilah muckraking journalism, antara 1902 hingga 1912, ketika majalah McClure's menerbitkan laporan-laporan yang membongkar politik uang elite Washington. Sekarang IRE jadi salah satu organisasi terkemuka dalam masalah investigasi dengan anggaran $800,000 per tahun[2]. Setiap tahun IRE mengadakan seminar teknik-teknik baru dalam investigasi, baik dalam pengelolaan database maupun spesialisasi tertentu (lingkungan hidup misalnya), serta memberikan hadiah buat karya-karya investigasi yang bagus di seluruh Amerika Serikat. Ia memperkenalkan sistem riset lewat internet maupun pemakaian penginderaan jarak jauh. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di Asia saya kira Filipina yang pertama kali memiliki organisasi. Philippines Center for Investigative Journalism didirikan sekelompok wartawan muda pada 1989, sesaat setelah diktator Ferdinand Marcos melarikan diri dari Manila. Direktur PCIJ Sheila Coronel datang ke Indonesia dan memberikan ceramah di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Ujungpandang pada 1-11 Oktober 1999[3]. Menurut Coronel, mereka mendirikan PCIJ karena media di mana mereka bekerja tak menyediakan suasana yang memungkinkan bagi wartawan-wartawan muda itu untuk membuat in-depth reporting maupun investigative reporting. Budaya newsroom di Filipina lebih banyak dihabiskan untuk meliput breaking news daripada analisa yang mendalam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada November 1998 di Cambridge, Amerika Serikat, juga diadakan pertemuan perdana dari International Consortium of Investigative Journalists yang memberikan penghargaan buat wartawan-wartawan yang berkarya dengan baik di bidang investigasi. Untuk pertama kali penghargaan ini diberikan kepada Nate Thayer dari mingguan Far Eastern Economic Review Hongkong atas jerih-payah Thayer mewawancarai tokoh Khmer Merah Pol Pot[4]. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di Indonesia sendiri kurang jelas mulai kapan istilah liputan investigasi mulai populer. Namun setidaknya ada beberapa majalah yang secara eksplisit pada 1990-an menggunakan kata "investigasi." Dwi-mingguan Tajuk yang didirikan tahun 1996 memposisikan dirinya sebagai majalah "berita, investigasi dan entertainmen". Majalah Tempo juga menambahkan satu rubrik "Investigasi" ketika terbit kembali 6 Oktober 1998[5]. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun apa yang dinilai sebagai “investigasi” yang mungkin paling terkenal di Indonesia adalah liputan harian Indonesia Raya atas kasus korupsi di Pertamina dan Badan Logistik antara 1969 dan 1972. Harian itu melaporkan dugaan korupsi besar-besaran di Pertamina dengan memanfaatkan sumber-sumber anonim dari dalam perusahaan negara tersebut. Pertamina dan Presiden Suharto menolak adanya korupsi. Walaupun Indonesia Raya terkesan agak crusading dalam liputannya namun beberapa tahun kemudian terbukti bahwa Pertamina memang penuh dengan korupsi hingga hampir membangkrutkan pemerintahan Suharto. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam lima tahun terakhir ini, saya pikir liputan investigasi skala internasional yang dilakukan oleh wartawan Indonesia adalah investigasi tentang skandal emas Busang yang dibuat oleh wartawan lepas Bondan Winarno. Ia melanglang buana, pergi ke Calgary dan Toronto di Kanada, Manila di Filipina serta hutan rimba Busang di Kalimantan untuk menelusuri investigasinya yang dituangkan dalam bentuk sebuah buku.[6] Bondan juga menelusuri berbagai dokumen tentang pertambangan mineral dan cara-cara untuk "meracuni" mata bor dengan "emas luar" sedemikian rupa sehingga dibuat kesimpulan ada cebakan emas yang luar biasa besarnya di bawah permukaan hutan Busang. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Intinya Bondan menganggap Michael de Guzman, geolog senior Bre-X, "meracuni" sample hasil pemboran mereka dan melakukan kejahatan canggih untuk memperkaya diri mereka. Bondan secara mengejutkan juga memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Bondan melaporkan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan Busang itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti yang dimiliki de Guzman. Geolog Filipina ini juga mempunyai gaya hidup mewah, suka berfoya-foya, main perempuan, yang tidak cocok dengan tipe orang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Aneh juga bahwa de Gusman tidak duduk di samping pilot helikopter namun di belakang. Bondan mewawancarai dua orang dokter yang melakukan autopsi terhadap jasad tersebut serta seorang dari empat isteri de Guzman. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dari gambaran sekilas atas pekerjaan Bondan maupun Nate Thayer sudah bisa kita ketahui bahwa investigative reporting memang lebih berat dari rata-rata pekerjaan jurnalisme sehari-hari. Bondan butuh waktu dua bulan penuh untuk mengerjakan investigasinya. Thayer bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyakinkan Khmer Merah bahwa ia layak untuk mewawancarai Pol Pot. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Goenawan Mohamad dari majalah Tempo menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme "membongkar kejahatan." Ada suatu kejahatan yang biasanya ditutup-tutupi. Wartawan yang baik akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar keberadaan tindak kejahatan di belakangnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun pemahaman ini perlu dibedakan antara investigasi yang dikerjakan oleh seorang wartawan atau sebuah tim wartawan dengan liputan media atas hasil investigasi pihak lain. Ketika mingguan Panji Masyarakat memuat rekaman pembicaraan antara Presiden B.J. Habibie and Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada pertengahan Februari 1999, banyak pengamat media yang mengatakan bahwa itulah investigative reporting. Ahli hukum media Abdul Muis dari Universitas Hasanuddin mengatakan secara etis Panji tidak bisa disalahkan karena pemuatan itu bagian dari investigative reporting.[7] Muis mengatakan bahwa Panji melakukan investigasi. Terlepas dari keberanian Panji dalam menurunkan pembicaraan itu dengan pertimbangan adanya public interest dalam perbincangan tersebut, Prof. Muis lupa bahwa rekaman tersebut bukan dikerjakan Panji sendiri. Yang melakukan investigas bukan Panji karena majalah itu hanya mendapatkan kaset rekamannya saja. Bukan menyadap pembicaraan telpon itu sendiri. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Robert Greene dari Newsday --sering sebagai "Bapak Jurnalisme Investigasi Modern"-- membatasi liputan investigasi sebagai karya seorang atau beberapa wartawan atas suatu hal yang penting buat kepentingan masyarakat namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: bahwa liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindaklanjuti oleh media; bahwa subyek investigasi merupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan; bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik.[8] &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;DUA BAGIAN DARI PROSES INVESTIGASI &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mula-mula seorang wartawan investigator adalah wartawan yang tidak menerima mentah-mentah pernyataan sumber-sumber resmi. Seorang wartawan yang mau melakukan pekerjaan riset yang dalam, tekun merekonstruksi suatu kejahatan dan tidak kenal lelah untuk mengejar sumber-sumber yang penting, kira-kira itulah bayangan pekerjaan dalam jurnalisme investigasi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sumber-sumbernya banyak. Dokumen-dokumennya bertumpuk. Jelas bahwa sebuah karya investigasi tidak bisa dibuat hanya dengan mengandalkan sebuah laporan pemeriksaan polisi atau keterangan pers sebuah lembaga swadaya masyarakat. Walaupun ukuran waktu bersifat sangat nisbi, namun sebuah laporan investigasi biasanya makan waktu cukup lama. Bisa setengah tahun namun bisa juga setahun tergantung pada ukuran dan cakupan investigasi tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menyelidiki perdagangan senjata antar-negara dan penggunaannya oleh para serdadu bayaran tentu lebih lama daripada investigasi penyalahgunaan dana pembangunan Pasar Pagi di kota Tegal. Perdagangan senjata biasanya melibatkan kejahatan terorganisasir di beberapa negara. Serdadu bayaran juga beroperasi lintas batas. Namun ukuran waktu memang nisbi. Kalau mereka yang dianggap melakukan penyalahgunaan renovasi Pasar Pagi ternyata sudah melarikan diri ke luar negeri, tentu waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada sekedar mengejar sumber-sumber antara Tegal dan Jakarta (dalam negeri). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam skala internasional, investigasi memang kebanyakan berkaitan dengan perdagangan senjata, operasi militer rahasia, operasi kelompok-kelompok bisnis raksasa berbau korupsi-kolusi, penyelundupan obat bius maupun penyelundupan tenaga manusia secara global (baik dalam bisnis pelacuran maupun perbudakan modern). Bondan menyelidiki manipulasi contoh emas Busang hingga ke kantor Bre-X di Calgary maupun situs Busang di dalam hutan-hutan Kalimantan Timur. Bondan juga pergi ke Manila untuk menemui saudara perempuan Michael de Guzman untuk mencari jejak ke arah dental record geolog Bre-X tersebut. Thayer harus mondar-mandir antara Bangkok, Phnom Penh dan hutan-hutan perbatasan Thailand-Kamboja untuk mengejar sumber-sumbernya di kalangan Khmer Merah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi: &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagian Pertama &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;• Petunjuk awal (first lead) &lt;br/&gt;• Investigasi pendahuluan (initial investigation) &lt;br/&gt;• Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis) &lt;br/&gt;• Pencarian dan pendalaman literatur (literature search) &lt;br/&gt;• Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts) &lt;br/&gt;• Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail) &lt;br/&gt;• Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Petunjuk awal bisa berupa apa saja. Ia bisa berupa sebuah berita pendek di suratkabar. Ia juga bisa berupa sebuah surat kaleng yang menunjuk adanya ketidakberesan dalam suatu lembaga tertentu. Ia juga bisa berupa telpon dari seseorang tak dikenal. Atau petunjuk ini juga bisa berupa suatu peristiwa besar yang sudah banyak diberitakan media massa namun masih menyimpan teka-teki yang kelihatannya menarik untuk dikejar. Teka-teki ini bakal menarik kalau si investigator menemukan sumber penting yang bisa membuka ke arah terbongkarnya teka-teki tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Indonesia memiliki banyak sekali peristiwa-peristiwa menarik untuk diselidiki. Katakanlah mulai dari isu keterlibatan oknum-oknum berseragam dalam huru-hara 14-16 Mei 1998. Sebuah petunjuk bisa saja muncul dari berbagai arah yang bisa dipakai untuk menyelidiki peristiwa tragis tersebut. Atau pembunuhan mereka yang dituduh sebagai dukun santet di daerah Banyuwangi dan Jember. Mengapa tiba-tiba bupati yang memerintahkan pendaftaran para dukun santet diganti sebelum masa jabatannya berakhir? Huru-hara juga meledak di mana-mana. Dari Ketapang di Jakarta hingga Karawang hingga Kupang dan Ambon. Benarkah ada provokator dan kejahatan terorganisir di balik huru-hara tersebut? Seorang investigator seyogyanya sudah mengetahui latar belakang suatu kasus sebelum bisa mencium adanya petunjuk yang berharga. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Investigasi pendahuluan bisa berupa penggalian data lebih jauh, wawancara maupun peninjauan lapangan. Riset dikerjakan dengan teliti sebelum hipotesis ditetapkan. Pekerjaan yang terarah dan tajam praktis baru dikerjakan setelah hipotesis terbentuk. Bondan Winarno menggunakan metode deduksi untuk mencari data dan membuktikan hipotesisnya. Mula-mula dengan pencarian dan pendalaman literatur. Lantas dikombinasi dengan wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli agar si investigator mendapatkan latar-belakang teknik yang memadai sebelum melangkah lebih jauh. &lt;br/&gt;Coronel menekankan pentingnya pencarian dokumen-dokumen maupun wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi. Dokumen ini penting karena di sanalah biasanya ketentuan-ketentuan yang mengikat bisa dijadikan barang bukti. Dokumen juga bisa dipakai untuk mempertentangkan pernyataan-pernyataan nara sumber yang berbohong. Di Indonesia banyak sekali pejabat atau pemimpin perusahaan yang setengahnya "berbohong" dengan cara menjawab pertanyaan wartawan secara diplomatis atau bahkan dengan memutar-balikkan logika. Keberadaan dokumen tertulis dengan mudah akan membantah semua kebohongan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pekerjaan terakhir dalam tahap pertama ini adalah wawancara dengan orang-orang kunci. Pekerjaan ini seringkali makan waktu lama karena jarak maupun waktu. Orang-orang kunci tidak harus orang-orang dengan jabatan tinggi. Seorang tukang perahu dekat Samarinda bisa menjadi sumber penting dalam investigasi Bre-X untuk membuktikan bahwa "peracunan emas" tidak dilakukan di gudang Loa Duri (seperti dilaporkan Asian Wall Street Journal). Atau seorang isteri yang bisa menegaskan bahwa suaminya memiliki gigi palsu di rahang atas. Memang sumber-sumber kunci dalam Bre-X juga termasuk John Felderhof, geolog senior yang juga atasan Michael de Guzman, namun yang seringkali terjadi orang-orang macam ini keberatan untuk bicara dengan wartawan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagian Kedua &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;• Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation) &lt;br/&gt;• Pengorganisasian file (organizing files) &lt;br/&gt;• Wawancara lebih lanjut (more interviews) &lt;br/&gt;• Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data) &lt;br/&gt;• Penulisan (writing) &lt;br/&gt;• Pengecekan fakta (fact checking) &lt;br/&gt;• Pengecekan pencemaran nama baik (libel check) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengamatan langsung di lapangan seyogyanya dilakukan dengan berbekal peta geografis dari lokasi di mana investigasi dipusatkan. Wartawan seringkali melupakan tinjauan dari aspek geografis. Padahal banyak keputusan militer maupun dagang yang dibuat berdasarkan pertimbangan geografis. Ahli penginderaan jarak jauh Christopher Simpson dari American University berpendapat bahwa 80 persen keputusan bisnis maupun dagang ditentukan oleh pertimbangan geografis[9]. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengorganisasian file akan mempermudah investigator untuk menganalisai dan mencari benang merah atau pola dari berbagai data temuannya. Investigasi akan pembunuhan dukun santet, misalnya, akan lebih mudah bila dibuat matriks yang mencatat kecenderungan-kecenderungan korban pembunuhan. Entah lokasinya, metode pembunuhan atau pola penyebaran desas-desus. Dalam kasus korupsi yang canggih yang melibatkan banyak orang juga akan terbentuk suatu pola bisa semua data yang ada dimasukkan dalam database dengan rapi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Penulisan laporan merupakan teknik tersendiri yang tentu tidak meninggalkan teknik pembuatan angle, focus dan outline. Data yang sedemikian banyaknya tentu memerlukan seleksi yang ketat untuk memilih mana yang perlu dan mana yang kurang perlu. Walaupun media elektronik di Indonesia belum pernah punya reputasi harum dalam hal investigasi, namun ini lebih disebabkan masalah sejarah dan kepemilikan media elektronik. Cepat atau lambat, investigasi juga akan masuk ke media yang pengaruhnya luas sekali ini. Alat-alatnya pun menjadi lebih rumit. Entah dalam bentuk kamera tersembunyi atau alat rekam ultra sensitif. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengecekan fakta (fact checking) sangat penting walau banyak diremehkan wartawan. Apalah arti kerja keras berbulan-bulan bila seorang sumber dengan enteng mengatakan, "Investigasi apa itu? Menulis ejaan nama saya saja salah!" Banyak sekali kesalahan yang kelihatannya remeh namun bisa merusak penilaian orang akan laporan tertentu. Nama orang, tanggal kejadian, hubungan darah antar satu sumber dengan yang lain, jumlah anak, nilai transaksi dan sejuta data lain, harus disisir satu demi satu agar semua data akurat. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wartawan Richard Lloyd Parry dari harian Independent (London) membuat laporan yang luar biasa soal terjadinya pembunuhan orang-orang Madura oleh orang Dayak di Kalimantan Barat antara Desember 1996 hingga Januari 1997. Parry menulis laporan sepanjang 40 halaman pada majalah Granta terbitan London. Data-datanya luar biasa. Peristiwa penjagalan manusia digambarkan dengan detail. Kuburan-kuburan dibongkar dan tengkorak-tengkorak dihitung. Namun pada halaman awal karangannya, Parry membuat kesalahan kecil: Partai Demokrasi Indonesia disebutnya sebagai partai dengan nomor kontestan dua sedangkan Golongan Karya nomor tiga![10] &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengecekan fakta ternyata tidak cukup. Dalam jaman di mana kebebasan pers makin terbuka, ancaman seringkali datang dari tuntutan dengan dasar pencemaran nama baik (libel check). Bondan mengatakan bahwa ia digugat pencemaran nama baik masing-masing Rp 1 triliun oleh mantan menteri pertambangan Ida Bagus Sudjana dan putranya Dharma Yoga Sudjana. Hingga kini kasus itu masih ada dalam proses hukum. &lt;br/&gt;Kedua belah pihak tidak mau mundur atau melakukan penyelesaian di luar hukum. Bondan harus membayar pengacara untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Namun ongkos pengacara tidak murah bukan? Bahkan menurut Bondan, biaya untuk melalang buana ke Kanada dan Filipina masih lebih murah dibanding biaya yang sudah dikeluarkannya untuk membayar pengacara. Sebuah penerbitan bisa bangkrut bila tuntutan pencemaran nama baik terbukti benar. Sementara buat wartawan semacam Bondan, mundur berarti membiarkan reputasinya sebagai wartawan dipertanyakan. Jadi sama-sama sulit. Maju kena mundur kena. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kesimpulannya, tak ada cara lain yang bisa dilakukan seorang wartawan daripada melakukan konsultasi hukum dengan ahli hukum perdata secara benar sebelum laporannya naik cetak atau disiarkan. Editor juga banyak berperan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gugatan pencemaran nama baik. Prinsip cover both side seringkali sangat membantu untuk menghindar dari jeratan tuntutan pencemaran nama baik. Dalam kasus Bondan, ia memang beberapa kali mencoba mewawacarai Sudjana, namun kurang berhasil hingga naik cetak. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;HIPOTESIS DAN TEKNIK &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Salah satu hal yang banyak membedakan antara in-depth reporting dan investigative reporting adalah ada atau tidaknya hipotesis dalam penelusuran tersebut. Saya berpendapat bahwa dalam batasan tertentu investigative reporting adalah fase kelanjutan dari in-depth reporting. Majalah Panji Masyarakat jelas tidak memiliki hipotesis ketika mereka menurunkan laporan pembicaraan telpon Habibie-Ghalib. Namun keadaan ini akan berbeda bila Panji memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan itu dan melakukan investigasi sendiri. Dalam melakukan in-depth reporting seorang wartawan bisa berangkat praktis dari nol atau dari sekedar membaca kliping-kliping koran. Ketika wartawan itu sudah jauh lebih banyak mengetahui duduk persoalan sebenarnya --setelah melakukan banyak wawancara, membaca tumpukan dokumen serta mendatangi tempat-tempat yang berhubungan dengan liputannya-- saat itulah ia pada titik hendak melakukan kegiatan lanjutan atau tidak. Liputan lanjutan inilah yang lebih bersifat investigatif. Membongkar kejahatan. Mencari tokoh-tokoh jahat dan merekonstruksi kejahatan-kejahatan mereka. Hipotesis sangatlah penting untuk membantuk wartawan memfokuskan dirinya dalam suatu investigasi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jakob Oetama dari harian Kompas mengatakan kepada saya bahwa salah satu halangan kegiatan investigasi di harian tempatnya bekerja adalah iklim ewuh-pekewuh terhadap mereka yang dianggapnya terlibat dalam kejahatan tersebut. Keadaan ini yang membuat harian terbesar di Indonesia ini mengalami kesulitan untuk mengejar dan menyelidiki hipotesis-hipotesis yang mereka pikirkan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bondan Winarno dalam investigasinya soal Busang mengajukan hipotesis bahwa kematian Michael de Guzman tidak wajar dan aneh. Ia juga curiga bahwa de Guzman adalah otak dari "peracunan" sample emas Busang sehingga harga-harga saham Bre-X naik berkali-kali lipat di mana de Guzman juga sangat diuntungkan. Bondan curiga bahwa mayat yang ditemukan di hutan Busang itu bukanlah mayat de Guzman. &lt;br/&gt;Bagaimana mungkin mayat orang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki masih utuh? &lt;br/&gt;Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Bondan mula-mula bicara dengan dokter-dokter yang memeriksa jasad tersebut. Ia menemukan bahwa para dokter Indonesia yang mengatakan bahwa mayat itu mayat de Guzman hanya mendasarkan pengamatannya dari pakaian yang dilaporkan dikenakan oleh de Guzman. Sementara itu dari salah seorang isteri maupun teman-temannya, Bondan menemukan bahwa de Guzman memiliki gigi palsu. Sementara mayat itu tidak ada gigi palsunya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bondan juga terbang ke Filipina untuk mencari saudara-saudara de Guzman maupun mantan pembantu-pembantunya di Busang --Cesar M. Puspos dan Jerome Alo-- yang semuanya menolak menemui Bondan. Keluarga de Guzman bahkan menolak untuk memberikan alamat dokter gigi yang biasa merawat Michael. Sementara pembantu-pembantunya seolah-olah raib tertelan bumi. Tidakkah ini indikasi bahwa ada yang aneh dengan "kematian" Michael de Guzman? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bondan memakai seperangkat teknik untuk membuktikan hipotesisnya. Selain wawancara panjang lebar di beberapa sudut dunia, ia juga mengadakan riset yang panjang, bahkan belajar tentang teknik pertambangan, untuk mendukung investigasinya. Salah satu kelebihan Bondan adalah sikapnya yang sopan. "Sikap santun itu penting. Ini sikap yang penting dalam investigasi," ujarnya. Dengan modal sopan-santun ini pula Bondan menegaskan prinsipnya bahwa ia tidak mau mencuri. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Soal mencuri atau tidak memang jadi isu yang sulit sekali. Banyak wartawan yang berpendapat bahwa dalam investigasi, segala cara dibenarkan, termasuk mencuri dana, mencuri pembicaraan orang maupun mencuri informasi. Panda Nababan, wartawan senior majalah Forum Keadilan, berada pada kubu yang membenarkan pencurian data[11]. Nababan memakai teknik apa saja untuk mendapatkan data. Ia pernah "menipu" petugas bandara Jakarta dengan mengaku dirinya sebagai seorang pejabat tinggi militer dalam kasus pembajakan pesawat Garuda Woyla. Dalam kesempatan lain Nababan juga pernah mencuri dokumen di mobil seorang pejabat tinggi yang hendak menyerahkan dokumen itu kepada Presiden Suharto. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perdebatan antara boleh tidaknya mencuri data ini memang sangat erat terkait dengan masalah etika dan hukum. Namun secara umum ada beberapa teknik yang biasanya dipakai seorang investigator: &lt;br/&gt;• Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis; &lt;br/&gt;• Paper trail (pencarian jejak dokumen) yang berupa upaya pelacakan dokumen, publik maupun pribadi, untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis; &lt;br/&gt;• Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi; &lt;br/&gt;• Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas. Metode ini termasuk melakukan penyamaran. Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera tersembunyi atau alat-alat komunikasi elektronik untuk merekam pembicaraan pihak-pihak yang dianggap tahu persoalan tersebut. Ini memang mirip kerja detektif; &lt;br/&gt;• Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hipotesis biasanya disusun dengan beberapa pertanyaan dasar. Pertama-tama adalah pertanyaan tentang aktor pelaku kejahatan. Siapa yang bertanggungjawab atas penyalahgunaan dana masyarakat tersebut? Siapa yang memicu huru-hara? Siapa yang mula-mula menyebarkan sentimen anti-etnik atau anti-agama tertentu? Siapa yang melakukan insider trading? Siapa yang mula-mula berkepentingan agar dukun-dukun santet dibunuh? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam investigasi Bondan, ia berteori bahwa kasus Bre-X itu dilakukan oleh Michael de Guzman dan anak-anak buahnya yang dari Filipina. Bukan oleh almarhum David Walsh, orang nomor satu Bre-X, maupun John Felderhof, geolog senior Bre-X yang juga atasan de Guzman. Walaupun kedua orang itu juga diuntungkan oleh ulah de Guzman, namun mereka tidak terlibat dalam skandal ini. Felderhof boleh jadi mengetahuinya namun tidak mencegahnya. Bondan mendapatkan jawaban tertulis dari Felderhof. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selain hipotesis tentang aktor pelaku, juga perlu ditanyakan cara-cara suatu kejahatan dilakukan. Bagaimana penyalahgunaan itu dilakukan? Bagaimana cara sample mata bor lubang-lubang Busang dicampur dengan emas luar agar ada kesan temuannya memang besar sekali? Bagaimana cara Michael de Guzman menipu sekian banyak konsultan independen yang memperkuat hasil temuan Bre-X? Apa konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hipotesis ini yang terus-menerus diteliti, diuji dan disimpulkan benar-tidaknya. Kalau kemudian terbukti bahwa hipotesis itu salah, seorang investigator harus dengan besar hati mengakui bahwa tidak terjadi kejahatan di sana. Kasus ditutup. Setiap investigasi memang mengandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Dan hasil yang negatif ini juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kesannya memang sia-sia. Mungkin biaya besar dan waktu lama juga sudah dikeluarkan. Selain itu, seringkali pekerjaan investigasi ini memancing mereka yang dirugikan untuk mengajukan tuntutan hukum. Alasannya pencemaran nama baik. Hipotesis Bondan, misalnya, bisa saja salah kalau suatu saat ia menemukan bukti baru bahwa mayat itu ternyata benar mayat de Guzman. Bondan tentu tidak bisa dibenarkan bila salahnya hipotesis itu tidak diungkapkan namun fakta-fakta yang menyesatkan yang justru dipakai. Padahal ia sudah bekerja keras dan mengeluarkan uang cukup banyak untuk melakukan investigasi itu. Ironisnya, dalam kasus buku "Sebungkah Emas di Kaki Langit" ini Bondan justru tidak mendapat gugatan hukum dari keluarga de Guzman. Ia justru mendapat gugatan pencemaran nama baik dari keluarga Ida Bagus Sudjana. Bondan masih beruntung! Dalam banyak kasus, taruhannya bahkan nyawa. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;PENULISAN DALAM SISTEM MEMO &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Investigasi yang baik perlu didukung oleh sistem pelaporan yang baik pula. Apalah artinya investigasi yang mahal dan makan waktu bila hasil akhirnya disajikan dengan buruk? Penulisan perlu dibuat menarik. Untuk itu metode penulisan dari pekerjaan besar ini harus didukung oleh sebuah sistem memo. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sistem ini pada dasarnya adalah sebuah alat bantu buat wartawan untuk mengatur pekerjaan mereka secara lebih sistematis. Sistem ini membantu reporter bekerja lebih mudah dan lebih cepat untuk mencari data dan menyusun arsip. Sistem memo terutama sangat berguna untuk membantu sebuah tim (bahkan seorang wartawan) untuk bekerja sama secara rapi dalam mengerjakan proyek mereka. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seorang koordinator tim juga bisa memetik keuntungan dari sistem ini. Ia bisa mengetahui setiap perkembangan dari proyek yang sedang dipimpinnya. Ia misalnya dengan teratur bisa membaca laporan-laporan dari anggota-anggota timnya dan dengan cepat bisa memutuskan materi apa yang harus dikembangkan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sistem memo ini juga mempermudah penulisan draft final. Alasannya sederhana saja. Dengan secara teratur dan disiplin membuat memo, proses penulisan investigasi menjadi sebuah proses yang dinamis. Penulisan laporan final, entah dalam bentuk buku atau artikel, menjadi sebuah proses kerja yang lebih sederhana karena semua bahan sudah tersedia dan secara teratur diperbarui terus-menerus. Pekerjaan final hanya tinggal dilakukan dengan menyusun blok demi blok sesuai dengan outline laporan yang hendak dibuat. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sistem memo lagi-lagi diperkenalkan oleh BOB GREENE (dob 6/5/1930) dari Newsday. Ia pada mulanya membuat sistem ini untuk keperluan investigasi di mana pengecekan data-data dibuat dengan sangat hati-hati dan menyeluruh. Sistem memo yang diperkenalkannya sekarang diadopsi oleh banyak organisasi berita di seluruh dunia termasuk International Consortium of Investigative Journalists. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pertama-tama, ada dua tip yang diperkenalkan oleh GREENE. Nama orang senantiasa diketik dengan huruf besar. Hal ini akan mempermudah editor, koordinator tim atau reporter dalam membaca memo-memo yang berdatangan setiap hari. Seperti tertera dalam artikel ini, penyebutan nama pertama kalinya senantiasa ditambah dengan date of birth (dob). Ini penting karena sebuah sumber boleh jadi baru berumur 68 tahun ketika diwawancarai. Namun ketika naskah diterbitkan umurnya sudah 69 tahun. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memo ini pada dasarnya adalah produk kerja seorang wartawan; ia merupakan kompilasi dari apa yang dilihat sang wartawan, didengarnya, dibacanya, dibauinya, dirasakannya dan dicicipinya. Seorang wartawan harian atau wire service tidak memakai memo. Laporan harian itu sendiri sudah merupakan kumpulan memo. Mereka yang pernah bekerja di Reuters atau Associated Press tentu mengetahui bagaimana rasanya membuat berita yang diturunkan hampir setiap hari kalau tidak setiap jam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memo hanya dipakai untuk mereka yang bekerja dalam periode waktu yang panjang. Bisa mingguan dan yang penting yang terlibat dalam penulisan buku atau investigasi skala besar. Cara tradisional untuk menggunakan jolt note sebelum seorang wartawan menulis laporannya jelas tidak efisien. Ini cara yang kuno. Berapa dari kita yang masih bisa membaca tulisan tangan kita sendiri setelah seminggu? Dan berapa banyak orang yang bisa mengerti tulisan tangan kita? Apabila seorang koordinator membutuhkan jolt note anggotanya, seberapa besar kemungkian bagi si koordinator untuk memahami semua coretan tangan reporternya? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalau anggota tim hanya dua orang, dengan mudah keduanya bisa duduk berdua dan membandingkan jolt note. Namun kalau anggota lebih dari empat dan tinggal di tempat-tempat yang berbeda? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sekedar contoh. Investigasi huru-hara Kebumen. Ada cukup banyak reporter yang bekerja dari Kebumen. Namun mereka merasa tidak cukup. Perlu ada pekerjaan yang dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Ambarawa. Bahkan mereka membutuhkan bantuan tenaga luar untuk terjun di Kebumen. Berapa dana yang harus dikeluarkan bila setiap kali semua anggota tim harus rapat dan diskusi bersama? &lt;br/&gt;GREENE membagi memo dalam dua macam: "copy ready" dan "procedural." &lt;br/&gt;Memo copy ready meliputi semua fakta yang sudah diverifikasi dan bisa diatribusikan dengan jelas (bedakan antara 'off the record' atau 'background' dengan 'attribution' and 'not to be quoted' dan beri kotak dalam jolt note). Memo jenis ini disusun dalam blok-blok yang kelak bisa dipakai dengan mudah dalam sebuah laporan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memo ini jelas bukan cerita. Ia bukan cerita jadi karena blok-blok tersebut masih harus diatur dalam komposisi yang siap untuk publikasi. Ia belum memiliki jembatan, lead atau detail lain. Namun memo juga tidak perlu mengikuti aturan 'awal, tengah dan akhir.' Memo ini secara sederhana hanya sekumpulan blok-blok yang dibuat berdasarkan perkembangan harian atau dua harian untuk dipakai dalam konstruksi laporan lebih lanjut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ia juga bukan sekedar pemindahan dari jolt note ke komputer. Saya mengambil asumsi bahwa wartawan yang sudah terlibat dalam proyek-proyek skala besar tentu bukan wartawan pemula. Memo ini disusun tidak dengan urutan kronologi dari mulut sang sumber namun berdasarkan subyek. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memo prosedural meliputi semua fakta yang belum diverifikasi. Teori, spekulasi dan tip termasuk dalam kategori ini. Sebuah sumber bisa menghasilkan dua macam memo. Dalam kasus Kebumen misalnya. Seorang perwira militer mengatakan bahwa Prabowo Subianto ada di Kebumen pada saat yang hampir bersamaan dengan terjadinya huru-hara untuk menengok kuburan kakeknya. Ini fakta yang sudah diverifikasi. Namun ketika perwira ini berspekulasi bahwa Prabowo terlibat kerusuhan, kita harus memasukkannya dalam memo prosedural. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semua memo ini disentralisasikan pada suatu lokasi yang disepakati bersama. Karena ini sudah jaman internet, memo sebaiknya dikirimkan lewat internet kepada koordinator tim bersangkutan. Ia akan mengeditnya menjadi memo 'copy ready' yang lebih baik dan nantinya akan menyimpannya di database. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengiriman memo harus memenuhi jadwal yang telah ditentukan bersama. Bersama dengan datangnya memo-memo ini, koordinator tim bisa melakukan diskusi dengan anggota-anggota timnya. Kalau perlu ada perbaikan atau pengejaran hal tertentu bisa segera diputuskan. Syukur bila database memo ini bisa diletakkan dalam web server yang dilengkapi dengan password. Server ini sebaiknya dilengkapi dengan search engine sehingga bisa diakses oleh semua anggota tim tanpa harus menerima email setiap hari. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bila semua bahan sudah lengkap dan penulisan final sudah siap dilakukan, wartawan yang bertugas menulis dengan mudah bisa memanfaatkan memo-memo tersebut. Kalau ia harus menulis laporan sepanjang 10,000 kata, katakanlah, ia harus membaca memo-memo sepanjangan 100,000 kata. Sistem ini juga dengan mudah bisa mengatasi proyek yang terbengkalai gara-gara reporternya mengundurkan diri. Seorang anggota tim baru atau koordinator baru akan memiliki kemudahan untuk melanjutkan proyek yang terganggu jalannya itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Database ini sebaiknya disimpan. Database ini jangan dibuang setelah proyek berakhir. GREENE memiliki database sejak tahun 1972. Dan dalam banyak hal, blok-blok yang semula tidak kita pakai, lima atau sepuluh tahun lagi, ternyata menjadi sangat berguna. &lt;br/&gt;Investigasi memang akhirnya menjadi sebuah pekerjaan yang bukan saja makan waktu, sulit, penuh disiplin tapi juga berbahaya. Namun resiko besar ini yang tampaknya justru membuat investigasi makin diminati oleh wartawan yang suka tantangan, maupun masyarakat pembaca suratkabar, pendengar radio maupun pemirsa televisi. Kompetisi media yang makin ketat membuat kemungkinan untuk membuat investigasi makin meningkat. Namun kompetisi ini bisa jadi lunak apabila pola kepemilikan media justru didominasi kelompok-kelompok bisnis yang lebih cenderung mengejar hardnews daripada analisa dan kedalaman suatu berita. Apapun yang terjadi, investigative reporting adalah salah satu pengembangan jurnalisme yang paling memikat, paling menantang, paling mahal dan paling tinggi resikonya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Singkat kata, selamat berpetualang dan bersenang-senang dengan investigasi! &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Serpong, 8 Februari 1999 &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Andreas Harsono &lt;br/&gt;Institut Studi Arus Informasi &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[1] Makalah untuk pelatihan investigative reporting yang diadakan oleh tabloid mahasiswa Bulaksumur, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 20-24 Februari 1999. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[2] Lihat: "Search opens for IRE executive director", IRE Journal, November-December 1996. IRE juga memiliki website http://www.ire.org yang memiliki link dengan situs-situs riset lewat internet buat para wartawan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[3] Sebagian ceramah Sheila Coronel dalam perjalanannya itu juga dipakai di sini terutama yang berkenaan dengan hipotesis dan proses investigasi. Coronel datang ke Indonesia atas undangan dari Institut Studi Arus Informasi yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y) serta Lembaga Pers Dr. Soetomo mengadakan program pelatihan investigative reporting selama enam bulan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Ujungpandang Oktober 1998 hingga April 1999. Saya juga mengadakan wawancara lewat internet dengah Coronel [22/1/1999]. Lihat juga http://www.pcij.org.ph. Sedangkan hasil pelatihan bisa dilihat pada http://crashprogram.cjb.net. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[4] Lihat: situs http://www.icij.org yang juga memiliki link dengan berbagai organisasi pers di seluruh dunia termasuk mereka yang memberikan beasiswa buat wartawan. ICIJ juga memberikan bantuan riset internet buat wartawan lewat situsnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[5] Tempo bahkan menjadikan laporan investigasi mereka atas wanita Indonesia keturunan Cina sebagai korban pemerkosaan huru-hara Mei 1998 sebagai laporan kulit depan perdana mereka. Tempo menemui mereka yang membantu korban-korban pemerkosaan. Namun Tempo lebih banyak memfokuskan dirinya pada kontroversi ada tidaknya, atau jumlah, perempuan Cina yang diperkosa, daripada mencari siapa yang melakukan pemerkosaan. Lihat: TEMPO, 6-12 Oktober 1998, "Pemerkosaan: Cerita dan Fakta." &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[6] Lihat: Bondan Winarno, "Bre-X Sebungkah Emas di Kaki Langit," Penerbit Inspirasi Indonesia, Jakarta, 1997. Saya juga melakukan wawancara dengan Bondan Winarno lewat telpon Minggu, 24 Januari 1999 untuk mengetahui metode dan hipotesisnya dalam investigasi Busang ini. Ia juga memberikan ceramah mengenai bukunya di Institut Studi Arus Informasi Kamis, 7 Februari 1999. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[7] Lihat: "Prof. Dr. Haji Andi Abdul Muis, SH", Kompas, 21 Maret 1999. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[8] Lihat: John Ullmann, "Investigative Reporting: Advanced Methods and Techniques," St. Martin Press, Inc., New York, 1995, hal. 2. Robert Greene adalah salah satu wartawan terkemuka di Amerika Serikat. Pada tahun 1967 ia mendirikan unit investigasi Newsday yang memenangkan dua Pulitzer Prize pada tahun 1970 dan tahun 1974. Greene pula untuk memiliki ide untuk mengumpulkan puluhan wartawan Amerika Serikat untuk datang ke Arizona menyusul terjadinya pembunuhan terhadap wartawan Arizona Republic Don Bolles tahun 1976. Wartawan-wartawan itu datang untuk bekerja lebih giat membongkar apa yang diliput Bolles dan menyebabkan kematiannya. Bolles dan Greene ikut mendirikan IRE pada tahun 1975. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[9] Christopher Simpson dalam ceramah ICIJ 7 November 1998 di Cambridge. Lihat juga "Journalists' Guide to Experts in Remote Sensing" [Spring 1997] dan "Journalists' Guide to Remote Sensing Resources on the Internet" [Spring 1997]. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[10] Richard Llyod Parry, "When Young Men Die," Granta No. 62, London, Summer 1998. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[11] Panda Nababan bercerita tentang caranya "mencuri" laporan Dirjen Perhubungan Laut Fanny Habibie dari mobil Habibie ketika pejabat ini hendak berangkat menemui Presiden Suharto dalam masalah tenggelamnya kapal Tampomas II. Nababan mengatakan ini semua dalam sebuah diskusi tentang investigasi di Institut Studi Arus Informasi Selasa 15 Desember 1998.&lt;br/&gt;tag&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4928186190388635381?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4928186190388635381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4928186190388635381&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4928186190388635381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4928186190388635381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/04/laporan-investigasi.html' title='Laporan Investigasi'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-578944435847641442</id><published>2008-04-03T09:36:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T06:19:42.562-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi sastra'/><title type='text'>mimpi  di bisu sahara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R_UINCqNjiI/AAAAAAAAAC8/8JREy3wF1g0/s1600-h/10-101.JPG"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R_UINCqNjiI/AAAAAAAAAC8/8JREy3wF1g0/s320/10-101.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185059566132235810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p align="left"&gt;Malam ini aku ingin bermimpi di bisu sahara,&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;sebab damai telah lama menghilang dari hatiku.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Beban, tanggung jawab, ambisi dan mimpi,  menggurita&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt; dihimpit asa yang kian lara &lt;br/&gt;hadapi nyata.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Aku benci melankoli yang menendang-nendang di hati dan otakku. Seperti onak &lt;br/&gt;duri yang menusuk&lt;br/&gt; luka.  &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Melankolisme melumpuhkan semua adrenalinku.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Lemah, putus asa dan seolah tak ada celah tuk berharap..&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Padahal aku sedang berada di persimpangan, yang penuh rambu-rambu.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;mestinya kusegera melangkah, tak terlena dalam gelapnya lorong yang sempat kulalui.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Mestinya aku menyapa jejak-jejak para pendahulu yang nyata di depan mata.&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Secercah cahaya di ufuk sana menebar harum kesturi, di ujung lain jejak-jejak itu janjikan taman surgawi.   &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Semangat itu telah pudar, meski mimpi-mimpi masih menghantu.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-578944435847641442?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/578944435847641442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=578944435847641442&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/578944435847641442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/578944435847641442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/04/mimpi-di-bisu-sahara.html' title='mimpi  di bisu sahara'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R_UINCqNjiI/AAAAAAAAAC8/8JREy3wF1g0/s72-c/10-101.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1514769512748538535</id><published>2008-04-03T09:28:00.003-07:00</published><updated>2008-04-09T06:22:07.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi sastra'/><title type='text'>Cinta Sedebur Ombak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sp1.yt-thm-a04.yimg.com/image/25/m1/1919096013"&gt;&lt;img src="http://sp1.yt-thm-a04.yimg.com/image/25/m1/1919096013" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Debur ombak tak lagi menepi,&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span lang="es-PA"&gt;Aku terjaga di&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-PA"&gt; tenangnya lautan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p lang="es-PA"&gt;Secercah sinar bangkitkan pesonaku Kala &lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p lang="es-PA"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p lang="es-PA"&gt;Hamparan cahaya di seberang karang&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Memaksaku tuk heningkan diri&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Terhenti bermain ombak&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Ingin ku raih cahaya itu&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Meski karang curam menghadang&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Ingin kurasa hangat sinarnya,&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Meski secercah&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Hembusan badai kabari aku tentangnya&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Sedia kugenggam dengan syarat;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Buatkan ia sebagan kasih&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Taklukkan jala &lt;i&gt;cintanya&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1514769512748538535?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1514769512748538535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1514769512748538535&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1514769512748538535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1514769512748538535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/04/cinta-sedebur-ombak.html' title='Cinta Sedebur Ombak'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4503602454860917600</id><published>2008-03-30T10:24:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T10:30:47.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi sastra'/><title type='text'>Swinger</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-_N4yqNjgI/AAAAAAAAACs/jmZb4FvOCb4/s1600-h/Frankenstein_Monster_woman_20.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-_N4yqNjgI/AAAAAAAAACs/jmZb4FvOCb4/s320/Frankenstein_Monster_woman_20.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183588071681920514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Tak ada maksud ku tuk duakan engkau&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Ku tak pernah berniat selingkuh&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Cinta ini murni&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Hanya untuk mu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Tentang godaan itu,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Hanya sebuah godaan !&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Yang tak tepat untuk di gugat&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Aku hanya menggoda tanpa mencinta&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Cinta sejatiku hanya untukmu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Walau banyak kumelirik bidadari&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Pandangan pertama bukanlah dosa&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Walau kadang mengundang hasrat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Jangan berpaling dari Sang Amor&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Kalau kau dambakan abadinya cinta&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Jangan turuti hawa cemburu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Hanya karena pandangan keliru&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kemesraan itu hanya sesaat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Sekedar petualangan hasrat&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Kalaupun ku tidur dengannya&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Tak berarti ku mencintainya&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Maka percayalah, cinta kita kan abadi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Karena kemesraan tak selalu bermakna cinta&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Kasih kita kan selalu bersanding&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Meski t&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;anpa komitmen setia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Kau pun boleh mencoba asal saling suka&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Rasakan sensasi yang tak terkira&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Jangan ragu tuk tebar birahi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;Hanya karena takut berdosa&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; tag&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4503602454860917600?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4503602454860917600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4503602454860917600&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4503602454860917600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4503602454860917600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/swinger.html' title='Swinger'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-_N4yqNjgI/AAAAAAAAACs/jmZb4FvOCb4/s72-c/Frankenstein_Monster_woman_20.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-2178227659628358215</id><published>2008-03-30T10:20:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T10:23:51.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi islam'/><title type='text'>Meninjau ulang perda syariat Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-_MmCqNjfI/AAAAAAAAACk/hQilmZB1RQE/s1600-h/Banten+Warna.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-_MmCqNjfI/AAAAAAAAACk/hQilmZB1RQE/s200/Banten+Warna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183586650047745522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tag &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Menjelang idul Adha Desember 2006 lalu  Ada sebuah pernyataan menarik dan aneh  tertera dalam spanduk  yang terpancang di pintu gerbang kampus IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; “Selamat Idul Adha &amp;amp; Tahun baru Islam 1428 H”.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menarik, karena&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; rentang waktu  antara perayaan haji dengan tahun baru Islam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, selalu terpaut hampir dua bulan lamanya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aneh, karena &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;antara hari raya Idul Adha 1427 H&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;dengan tahun baru Islam 1428 H&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; juga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; terdapat hari libur nasional yang diperingati  di seluruh dunia. yakni perayaan Tahun Baru 2007 masehi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Keanehan tersebut  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;-mungkin- dapat dikaitkan dengan seruan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; pemberlakuan Syariat Islam di provinsi Banten &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Majelis Ulama Indonesia  (MUI) Banten&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, pasca semiloka persiapan Kongres Umat Islam Banten (KUIB) yang diadakan pertengahan januari lalu. Kebetulan MUI Banten saat ini diketuai oleh Prof. Wahab Afif, salah seorang guru besar di IAIN “SMH” Banten, dengan empat puluh persen anggotanya adalah dosen di perguruan tinggi Islam tersebut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Tidak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;heran jika pernyataan selamat di spanduk tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; diasumsikan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; bernada tendensius dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menyiratkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;arogansi kelompok. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Seolah ada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; upaya menganulir adanya tahun baru masehi di sana. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Tulisan ini tidak bermaksud mempertentangkan esensi tahun baru masehi dengan tahun baru hijriah. Sekedar meng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;aji &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;fenomena politik dan hukum lokal yang cenderung berhiaskan semangat formalisasi ajaran agama, semacam pemberlakuan syariat islam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sebelumnya,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; kontroversi perda anti maksiat yang diberlakukan oleh Pemda &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;angerang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, Banten. Perda Tangerang  no. 7 dan 8 tahun 2005 tersebut, sempat mencuat di media nasional. Di daerah-daerah lain, seperti Di Garut Jawa Barat juga ada Surat Edaran Bupati Tahun 2000 tentang Jilbabisasi bagi Karyawan Pemda. Di Cianjur Jawa Barat ada Surat Edaran Nomor 025/3643/org tentang Anjuran Pemakaian Seragam Kerja (Muslim/Muslimah) pada Hari-hari Kerja; Surat Edaran Bupati Nomor 551/2717/ASSDA.I/9/2001 tentang Gerakan Aparatur Berakhlakul Karimah dan Masyarakat Marhamah. Di Tasikmalaya Jawa Barat ada Surat Edaran Bupati Nomor 451/SE/04/Sos/2001 tentang Peningkatan Kualitas Keimanan dan Ketakwaan yang Berisi Anjuran untuk Memakai Pakaian Seragam Sesuai dengan Ketentuan yang Menutup Aurat bagi Siswi SD, SLTP, SMU/SMK, Lembaga Pendidikan Kursus, dan Perguruan Tinggi yang Beragama. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Belum lagi di Sumatra Barat, beberapa Peda bernuansa syariat juga muncul antara lain : Perda Provinsi Sumatra Barat no 11/2001 tentang pemberantasan dan pencegahan maksiat; Perda Kabupaten Solok no 6/2002 tentang pakaian muslimah; Perda Kabupaten Padang Pariaman, n. 2/2004 tentang pencegahan, penindakan dan pemberantasan maksiat; Perda Kabupaten Solik tentang kewajiban membaca Al-quran bagi siswa dan pengantin; Perda Kabupaten Padang no. 3/2003 tentang kewajiban baca al-quran, dan beragam peraturan daerah lain yang mengarah pada formalisasi tradisi Islam, bertajuk syariat.  di manokwari papua mayoritas umat keristen juga mengusung....   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;eori pembentukan h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;kum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; men&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;jelas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; bahwa peraturan daerah dibuat untuk mendukung pelaksanaan peraturan-peraturan yang lebih tinggi derajatnya, yakni Peraturan pemerintah, UUD 45 dan Pancasila. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Sebagai bagian dari negara kesatuan republik Indonesia, tentunya Banten harus mengikuti peraturan hukum di Indonesia. Meski s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;istem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas, tetapi otda juga menyiratkan pentingnya pelaksanaan peraturan yang nyata dan bertanggung jawab. Dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;UU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; tersebut juga jelas tertera bahwa peraturan bidang politik luar negeri, hankam, peradilan, moneter dan fiskal serta agama adalah kewenangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah tidak berhak meregulasi peraturan keagamaan apalagi peraturan sepihak, yang menguntungkan kelompok atau komunitas tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;h1 class="western" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Dinamika Reaktualisasi hukum islam indonesia &lt;/span&gt; &lt;/h1&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Merujuk pada sejarah, Reaktualisasi hukum Islam di Indonesia, telah terjadi sejak awal kemerdekaaan. Tujuh kata dalam piagam Jakarta, yang kemudian gagal dimasukkan ke dalam Mukaddimah Undang-undang dasar 1945, kenyataan ini dapat dijadikan i’tibar (gambaran) betapa pendahulu kita rela menganulir kepentingan kelompoknya demi sebuah kata ‘nasionalisme’. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Tahun 1984, semangat itu kembali menyala. Tanjung priok menjadi saksi sejarah, betapa pemerintah tidak menginginkan perpecahan bangsa demi kepentingan kelompok yang ingin mengubah dasar negara Pancasila. endingnya, setiap organisasi wajib mencantumkan Pancasila sebagai dasar oragnisasi. pemerintah pusat saat itu menjadi resisten terhadap kelompok-kelompok pengajian dan dakwah serta harokah Islamiyah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Reaktualisasi hukum Islam, juga berkutat di tataran wacana. Mahsun Fuad dalam bukunya hukum Islam Indonesia (Yogyakarta; LKiS, 2005) menuliskan dinamika pemikiran hukum Islam Indonesia. menurutnya, Hasby Asshidiqy adalah cendekiawan pertama yang mendamaikan hukum Islam (baca Fiqih) dengan kepribadian Bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila. Hasbi menawarkan “fiqih Indonesia yng ditetapkan sesuai kepribadian Indonesia, sesuai dengan watak kepribadian dan tabi’at bangsa Indonesia”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Mahsun juga mengutip pernyataan Hazairin bahwa pertentangan antara sistem hukum adat, hukum positif dan hukum agama tidak perlu lagi, jika kita merujuk pada pasal 29 ayat 1 - pernyataan senada dilontarkan Suparman Usman, pakar hukum di Banten, untuk mendukung pemberlakuan Syarit islam-. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Pasca hasbi dan  hazairin, muncul ide munawir Sadzali pada tahun 1970an yang mencoba merekonstruksi humum waris dalam Islam di Indonesia. disusul kemudian dengan tawaran Pribumisasi Islam dari Gusdur –awal tahun 1980 an- yang cenderung mengangkat dan membela lokalitas keagamaan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Cendekiawan muslim lain yang menawarkan konsep keberislaman yang damai dengan tata hukum di Indonesia adalah  Masdar F. Masudi, dengan agama keadilan.  M.A. Sahal Mahfudz dan Ali Yafie (keduanya mantan ketua MUI) juga mengupayakan transformasi hukum Islam berkepribadian Indonesia dengan konsep Fiqih sosialnya. Dari sekian konsep yang ditawarkan, para cendekiawan musli&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; tersebut cenderung menginginkan pola keberislaman ala Indonesia, dengan tanpa meregulasi hukum Islam ke dalam hukum Positif. Karena secara substansial,  Syariat Islam telah terangkum dalam UUD 45 dan Pancasila.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;  Tanpa  mengutak-atik tata hukum kenegaraan, mereka berupaya  menawarkan  solusi terhadap permasalahan sosial masyarakat, tentang zakat dan pajak, sistem keluarga dan kewarisan Islam hingga bunga Bank dan hak-hak reproduksi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; Dalam ranah sosial Banten,  Alangkah bijaknya MUI berkonsentrasi mendukung penegakkan hukum tanpa tebang pilih dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengeluarkan fatwa yang peka sosial. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Sedangkan untuk  Pemerintah Provinsi,  sudah seharusnya mempertimbangkan keberadaan warga banten secara keseluruhan. Masyarakat  Baduy di wilayah Pandeglang, komunitas Tionghoa di Tangerang juga beragam komunitas lain  yang memiliki kesamaan hak untuk mendapat kesejahteraan dan perlindungan hukum. Ini lebih sesuai undang-undang otonomi daerah tahun 2004, yang dalam pasal 22 menyatakan kewajiban Pemda untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#696969;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara terminologis syariah mempunyai dua makna, makna unum dan khusus. Makna umum syariah dama dengan hukum islam (agama islam) yang mencakup agama dan syari’ah. Sedangkan makna khusus, ialah hukum syara’ tidak mencakup masalah akidah. Hukum syara’ adalah khithab asy-syai’ al-muta’alliqu bi af’al al-‘ibad (firman allah yang berkaitan dengan perbuatan hamba-Nya). Syari’ah menurut Muhammad Husain Abdullah (1995) mempunyai tiga cakupan: pertama, yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya (hukum-hukum ibadat); kedua, yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, yaitu hukum makan, minum, pakaian, dan akhlaq; ketiga, yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, yaitu muamalat dan ‘uqubat (sanksi-sanksi)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; widows: 2; orphans: 2;" lang="en-US"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Syariat islam secara harfiyah diartikan hukum islam. Artinya, semua hukum yang berasal dari ijtihad para ulama muslim, yang kemudian dikenal juga dengan fiqih, adalah syariat islam. Dan dari definisi inilah, syariat islam banyak diperdebatkan. Karena hukum fiqih selalu berubah di setiap daerah, menyesuaikan dengan situsi dan kondisi. Sebagai contoh saat Imam Malik, ulama masyhur yang fatwa-fatwanya  menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;panutan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; di beberapa daerah seperti arab saudi, memberikan fatwa yang berbeda di........dengan fatwa yang dikeluarkan sebelumnya saat masih berada di.......  maka pertanyaan yang muncul adalah hukum yang mana yang akan diterapkan di indonesia? Akan berpedoman pada ulama siapa nanti? Ini akan menjadi perdebatan yang panjang bagi kalangan umat islam sndiri karena setiap madzhab memiliki argumentasi masing2 dalam membuat hukum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; widows: 2; orphans: 2;" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;fenomena politik lokal yang ingin memakai Islam sebagai kekuasaan. Tak heran, Anda bisa lihat di daerah-daerah lain, seperti Di Garut Jawa Barat ada Surat Edaran Bupati Tahun 2000 tentang Jilbabisasi bagi Karyawan Pemda. Di Cianjur Jawa Barat ada Surat Edaran Nomor 025/3643/org tentang Anjuran Pemakaian Seragam Kerja (Muslim/Muslimah) pada Hari-hari Kerja; Surat Edaran Bupati Nomor 551/2717/ASSDA.I/9/2001 tentang Gerakan Aparatur Berakhlakul Karimah dan Masyarakat Marhamah. Di Tasikmalaya Jawa Barat ada Surat Edaran Bupati Nomor 451/SE/04/Sos/2001 tentang Peningkatan Kualitas Keimanan dan Ketakwaan yang Berisi Anjuran untuk Memakai Pakaian Seragam Sesuai dengan Ketentuan yang Menutup Aurat bagi Siswi SD, SLTP, SMU/SMK, Lembaga Pendidikan Kursus, dan Perguruan Tinggi yang Beragama  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-2178227659628358215?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/2178227659628358215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=2178227659628358215&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/2178227659628358215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/2178227659628358215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/meninjau-ulang-perda-syariat-islam.html' title='Meninjau ulang perda syariat Islam'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-_MmCqNjfI/AAAAAAAAACk/hQilmZB1RQE/s72-c/Banten+Warna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-7554343771015577850</id><published>2008-03-30T07:48:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T07:51:19.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi islam'/><title type='text'>Antara Islam Maniak dan Islam Phobia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--o0yqNjeI/AAAAAAAAACc/15MGVcWkjTI/s1600-h/BASMALAH.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--o0yqNjeI/AAAAAAAAACc/15MGVcWkjTI/s200/BASMALAH.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183547321032216034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Polemik tentang pemberlakuan syariat Islam  kembali mencuat di negri ini. Secara historis, hal  ini telah terjadi berabad-abad lalu. Kisah Wali songo, menyiratkan hal ini. Dalam berbagai babad disebutkan, sempat terjadi pertentangan antara Sunan Kudus, Sunan Giri dan beberapa muridnya dengan Sunan kalijaga, Sunan Gunung jati beserta pendukungnya. Pertentangan dipicu oleh pola penyebaran yang dipraktikkan oleh masing-masing kubu. Kubu sunan kudus berprinsip bahwa islam harus disampaikan sama persis dengan islam yang ada di timur tengah sehingga tradisi pribumi jawa harus di rubah. Kubu Sunan Kalijaga lebih akomodatif terhadap tradisi yang ada, mereka berdakwah lewat seni -diantara warisan sunan kalijaga adalah cerita wayang yang bernuansa islam-.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pertentangan ini ternyata berlanjut hingga sekarang. jika masa pra kemerdekaan hingga tahun 70-an ada Muhammadiyyah dan NU yang berbeda paham. Kini, muncul berbagai organisasi keislaman yang saling berbeda haluan. Berkaca pada sejarah, wacana pemberlakuan Syariat Islam sempat menimbulkan keresahan di awal kemerdekaan. &lt;span lang="pt-BR"&gt;Hasilnya, tujuh kata dalam ‘Piagam Jakarta’ harus rela terhapus dari dasar negara Indonesia. Era otonomi daerah mebuka peluang bagi sebagian muslim yang rindu  kejayaan masa lampau. Di pihak lain, merasa trauma terhadap wacana syariat yang dianggap mengancam keutuhan NKRI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Dua kubu tersebut memiliki dasar yang sama kuat. Kubu pertama merujuk –secara tekstual- pada ayat hegemoni islam (Ali Imran;19) dan hadist tentang keunggulan generasi Nabi Muhammad beserta para sahabat dibanding generasi selanjutnya. &lt;/span&gt;Seolah menolak realitas perlsilangan sosial dan budaya global, sehingga harus menggantinya dengan Islam ‘otentik’ -&lt;i&gt;Kaffah?-&lt;/i&gt;  Kubu ini memungut doktrin,keyakinan dan sikap serta praktik masa lalu yang ‘suci’. &lt;span lang="pt-BR"&gt;Puritanisme menjadi konsekuensi dalam mempertahankan identitas agama dan tatanan sosial yang terancam arus globalisasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify" lang="pt-BR"&gt;Kubu kedua lebih luwes terhadap pertukaran budaya selama tak mengikis islam secara substansial. Berpegang pada prinsip kebhinekaan yang diakui dalam Al-Quran (Al-Maidah; 48 dan Al-Haj; 67). Muhammad Abduh dan Jamluddin Al-Afghani bahkan berani berpendapat bahwa  mengikuti perintah al-Quran tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri (13;11), umat Islam memerlukan orientasi normativ baru. Dengan jalan ijtihad tentunya.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Arkoun sejarawan al-jazair, justru mengkritik para pemikir islam kontemporer yang berusaha mensubordinasi akal pada keimanan, dan menggunakanya sebagai alat klarifikasi, konfirmasi dan administrasi keyakinan. Arkoun juga menggugat barat yang telah menggunakan superioritasnya untuk mengkerdilkan umat islam. Sekularisme, rasionalisme dan universalisme yang mengukuhkan sperioritas akal. Ia juga risau  terhadap sebagian muslim yang, mengklaim adanya perbedaan antara muslim ‘sejati’ dengan islam ‘gadungan’, islam yang ‘benar’ dan&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;&lt;i&gt; kaffah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt; dengan islam yang ‘sesat’ dan salah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify" lang="pt-BR"&gt;Mahdiisme dan sikap apatis masyarakat&lt;/p&gt; &lt;p align="justify" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Selain dua kubu tersebut, terdapat kubu lain yang merupakan sintesa dari keduanya, Mahdiisme, dan apatisme terhadap agama. Mahdiisme berawal dari kerinduan yang sama terhadap kejayaan lampau. Keyakinan akan hadirnya seorang pemimpin yang akan membawa kejayaan baru. Dalam islam, pemimpin tersebut dijanjikan bernama Muhammad Al-Mahdi. Keyakinan ini merujuk pada hadist bahwa diakhir jaman akan muncul pemimpin baru yang akan mengikis ketidak adilan di muka bumi, setelah kemunculan &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;&lt;i&gt;Dajjal.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt; Sedang sikap apatis dari sebagian muslim, lebih diakibatkan oleh pengaruh tantangan globalisasi yang mengeliminir peran agama dalam kehidupan duniawi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p lang="pt-BR"&gt; Realitas tersebut memaksa umat islam untuk bergelut mencari solusi. Perebutan wilayah doktrinisasi melalui kendaraan politik kembali terulang. Hasilnya adalah polemik tentang pemberlakuan syariat di tingkat Perda. Ketidakberdayaan sistem yang dijalankan pemerintah, memperkuat wacana ini. Secara psikologis, Ketertinggalan di bidang ekonomi, sosial dan politik menjadi alasan tersendiri untuk berlari kepada Tuhan.  Sayangnya, syariat Islam yang  diperdakan masih berkutat pada masalah kesusilaan tanpa melihat akar permasalahan tersebut dari sisi sosiologis dan buadaya yang ada di tengha masyarakat. Pemahaman tentang syariat Islam pun masih berkisar pada teori sanksi hukum bagi pelaku maksiat. Bahkan bentuk negara dan perangkatnya pun harus senada dengan istilah dalam Al-Quran (berbentuk khilafah, atau imamah). Syari’at Islam, seolah satu makna dengan Arabisasi.&lt;/p&gt; &lt;p lang="pt-BR"&gt;Padahal, syariat islam dapat diberlakukan dalam bentuk peraturan ala Indonesia. Tanpa harus berkiblat pada negara-negara Timur tengah. Karena pada kenyataanya, Arab Saudi terkenal dengan otoritarianisme monarkinya, Iran terjebak dalam kepentingan satu kelompok muslim saja. Begitupun Irak yang harus hancur karena perang saudara.  &lt;/p&gt; &lt;p lang="pt-BR"&gt;Dan secara substansial, syariat islam telah berlaku di Indonesia sejak awal kemerdekaan, adanya sila Ketuhanan yang Maha Esa, UU perkawinan, UU KDRT, UU Perlindungan anak dan  UU anti korupsi secara substansial selaras dengan syari’at Islam.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Mengenai teori kepemimpinan Islam, Khilafah, Imamah dan sejenisnya, secara essensial  telah terbentuk dalam system politik di Indonesia. Presiden adalah khalifah, peran &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;&lt;i&gt;Wazir&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt; telah dipegang oleh menteri,&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;&lt;i&gt; Amirul Jihad &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;adalah tentara, dan 17 kewenangan lainnya yang terdapat dalam sistim khilafah  (versi Al-Mawardi dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;&lt;i&gt;Al-ahkam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt; assulthaniyyah), telah terrealisir meski dalam bentuk negara republik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p lang="pt-BR"&gt;Lantas mengapa syari’at dianggap menimbulkan polemik?  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify" lang="pt-BR"&gt;Dalam tingkatan wacana, polemik yang ada berimbas pada pencerdasan masyarakat. Tapi ketika polemik tersebut beralih pada orientasi politik dan kekuasaan, maka pertarungan yang terjadi tak hanya perang ideology dan pemikiran, tapi akan mengimbas pada pertentangan horizontal secara fisik. Tindakan anarkisme oleh segelintir umat atas nama islam tak dapat dibiarkan berlanjut.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Seharusnya, masing-masing kubu berupaya mengarahkan masyarakat pada peraduan wacana dulu, tanpa sikap doktriner yang menafikan kubu lain. Islam sebagai ideology yang diyakini kebenarannya oleh setiap muslim aalah niscaya. Tapi sikap berislam terbenar, tak ada yang dapat mebuktikannya.  Nabi Muhammad sendiri telah meramalkan tentang perbedaan antara ummat islam. Perbedaan ini akan menjadi rahmat manakala masing-masing kubu legowo bahwa ada kebenaran lain disamping kebenaran subjektif yang diyakininya. &lt;/span&gt;Karena kebenaran sesungguhnya adalah milik Allah. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;     &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-7554343771015577850?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/7554343771015577850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=7554343771015577850&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7554343771015577850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7554343771015577850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/antara-islam-maniak-dan-islam-phobia.html' title='Antara Islam Maniak dan Islam Phobia'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--o0yqNjeI/AAAAAAAAACc/15MGVcWkjTI/s72-c/BASMALAH.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-7930762529645431081</id><published>2008-03-30T07:38:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T07:47:54.042-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi berpikir'/><title type='text'>Obsesi dan pandangan*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--n6yqNjdI/AAAAAAAAACU/5d6oNbBLnYw/s1600-h/untitled-26.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--n6yqNjdI/AAAAAAAAACU/5d6oNbBLnYw/s200/untitled-26.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183546324599803346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya  kini mampu menembus ruang di luar diri, menatap waktu yang mengalir tanpa henti, perempuan tanpa busana, lelaki bertopi buaya, mobil berlumur darah, hilir mudik mengacak benak.&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Semenit lalu, saya melihat tas gendong penuh peluh, dijinjing penjaja koran berwajah cahaya,  Mungkin keningnya penuh susuk, batin saya menelisik, “tidak, ia pelaku wudu yang konsisten, setiap lima kali sehari ia membasuh mukanya, ditambah pembersih muka, mungkin” saya mencoba rasional dan religius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di depan sana, seorang perempuan setengah telanjang tengah berdiri, kini ia terlihat tanpa busana, ah, apa gerangan yang merusak pandangan ini, semua perempuan tiba-tiba terlihat telanjang!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Andai parmenides masih ada, mungkin ia akan menertawakan rivalnya, heraclius, yang begitu percaya pada pandangan mata. Betapa tidak? Saat ini banyak pandangan yang tertipu, bahkan sekelas ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Pentolan Pers nasional, hingga pakar hukum pun, terlena oleh kepingan koin yang dipandang berharga.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;       &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jika para tokoh nasional mudah tertipu pandangan, apakah rasionalitas bangsa ini kemudian diragukan? Mungkin benar apa yang dikatakan Permadi, S.H, saat berbincang tentang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Indonesia, bangsa Klenik?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Di sebuah stasiun televisi swasta nasional, bahwa kita sebagai bangsa Indonesia sudah harus kembali ke tradisi klenik, karena ternyata, para presiden Indonesia sejak awal merdeka hingga kini, masih percaya terhadap pandangan mistik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;  &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Naif memang, jika kita mengingkari pandangan ketimuran yang mendasari tradisi bangsa ini, lebih naif lagi kalau kita menentang globalisasi dengan menolak segala yang berbau barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Padahal, kalau mau dipertanyakan, sebenarnya paradoksial barat dan timur, berawal dari pandangan siapa ? kaum fundamentalis muslim, yang leterlek dalam menafsirkan kitab suci, akan dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut, barat dan timur telah ditetapkan oleh Tuhan! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt; Masyriq wal Maghrib, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;kata al-Qur’an, tapi apakah pandangan kita tentang posisi timur dan barat sudah benar sekali ?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tulisan ini tidak bermaksud menggugat persepsi indra, karena sebagai manusia, kita berhak mengambil manfaat dari  keberadaan diri dan alam, sebagai wujud syukur -bagi yang percaya akan anugerah sang pencipta-, juga sebagai bukti eksistensi diri –bagi yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;keukeuh&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; dengan kemandirian alam-.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sayangnya, pandangan yang membumbung kadang dianggap mengganggu stabilitas, karena  norma yang berlaku, memang sering memaksa penganutnya untuk membatasi pandangan. Simak saja penuturan sejarah tentang para tokoh yang terasing atau diasingkan, karena pandanganyamelampaui yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Padahal, Tuhan telah menganugrahkan  mata untuk menatap indahnya dunia, Tuhan juga telah memilih mata hati sebagai cermin pembenar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masalahnya, kadang sekelompok orang begitu percaya dengan kebenaran pandanganya, yang sering diklaim mewakili pandangan Tuhan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; *ulisan ini pernah dimuat di bulletin fresh!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-7930762529645431081?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/7930762529645431081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=7930762529645431081&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7930762529645431081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7930762529645431081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/obsesi-dan-pandangan.html' title='Obsesi dan pandangan*'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--n6yqNjdI/AAAAAAAAACU/5d6oNbBLnYw/s72-c/untitled-26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4659742603297420026</id><published>2008-03-30T07:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T07:38:11.905-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--lvSqNjaI/AAAAAAAAAB8/wFHVbRanJA4/s1600-h/02_102%7E1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--lvSqNjaI/AAAAAAAAAB8/wFHVbRanJA4/s400/02_102%7E1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183543928008052130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku  harus mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; mencari dan  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hingga lelah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Meski tak tahu  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; ku mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;apa yang harus dicari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku tertekan ragu  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Menikmati ragu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Menangisi ragu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku harus percaya sesuatu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Percaya seseorang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Meski sulit..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku mencoba mengerti&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Mencari pengertian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tapi sering ku paksakan  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Harus dimengerti&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Sok pengertian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Mencari perhatian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;topeng batu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;melekat erat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;sampai sulit kupastikan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;manakah wajah nurani&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;topeng –topeng bergentayang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;menadah darah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;menjilat ulat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;tengadah pongah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;bersilat pantat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4659742603297420026?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4659742603297420026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4659742603297420026&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4659742603297420026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4659742603297420026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/aku-harus-mencari-mencari-dan-mencari.html' title=''/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--lvSqNjaI/AAAAAAAAAB8/wFHVbRanJA4/s72-c/02_102%7E1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-4824362951582199623</id><published>2008-03-30T07:33:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T11:51:28.515-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku  harus mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; mencari dan  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hingga lelah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Meski tak tahu  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; ku mencari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;apa yang harus dicari&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku tertekan ragu  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Menikmati ragu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Menangisi ragu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku harus percaya sesuatu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Percaya seseorang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Meski sulit..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Aku mencoba mengerti&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Mencari pengertian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tapi sering ku paksakan  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Harus dimengerti&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Sok pengertian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Mencari perhatian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;topeng batu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;melekat erat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;sampai sulit kupastikan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;manakah wajah nurani&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;topeng –topeng bergentayang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;menadah darah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;menjilat ulat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;tengadah pongah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;bersilat pantat&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-4824362951582199623?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/4824362951582199623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=4824362951582199623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4824362951582199623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/4824362951582199623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/aku-harus-mencari-mencari-dan-mencari_30.html' title=''/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-7243047831351019600</id><published>2008-03-30T07:22:00.000-07:00</published><updated>2008-04-19T08:53:01.536-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi sastra'/><title type='text'>Ahh..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--kBCqNjYI/AAAAAAAAABs/yxhWAewS0GA/s1600-h/10-101.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--kBCqNjYI/AAAAAAAAABs/yxhWAewS0GA/s320/10-101.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183542033927474562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;span''awal&gt;T uhan, berkali ku menyebutmu&lt;/span''awal&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Berkali ku berpaling&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Di ramai canda  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Aku sepi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Di bising suasana  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Aku&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Sendiri&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;Merana&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-7243047831351019600?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/7243047831351019600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=7243047831351019600&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7243047831351019600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7243047831351019600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/ahh.html' title='Ahh..'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R--kBCqNjYI/AAAAAAAAABs/yxhWAewS0GA/s72-c/10-101.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-7000032910568769867</id><published>2008-03-29T12:03:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T12:12:14.826-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi menulis'/><title type='text'>sutra di kampung penuh luka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6UOyqNjWI/AAAAAAAAABc/k9EmjdE2v8Q/s1600-h/hidup+di+pinggir+jurang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6UOyqNjWI/AAAAAAAAABc/k9EmjdE2v8Q/s200/hidup+di+pinggir+jurang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183243202987920738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="" awal=""&gt;H&lt;/span&gt;ampir empat tahun aku tinggal di daerah yang penuh warna, dengan masyarakatnya yang penuh kebanggaan atas leluhur dan martabat daerahnya. Dengan kultur yang agak keras, fanatis, primordialis dan menghargai keagungan individu. Kalau anda berkunjung ke sini, akan mudah menemukan seorang yang selalu berkata dalam persfektif aku, keluargaku, dan masyarakatku.&lt;br /&gt;Untuk menjadi selebritis lokal di daerah ini, cukup bermodalkan keberanian menujukkan realitas masyarakat dalam subjektifitas objektif. Ribed?&lt;br /&gt;Tidak juga, anda cukup mengoarkan asumsi-asumsi pribadi atas realitas objektif di daerah tersbut. Apa pasal?&lt;br /&gt;Bersikap realistis di daerah ini bak menjadi pangeran di belantara. Untuk hidup di sini, anda tak perlu repot. Dekati penguasa, atau mereka yang punya uang, lantas jilatlah ia dari pantat hingga ujung kaki. Menjilat pantat adalah bentuk kesantunan di sini. Jangan banyak berkomentar tentang borok yang biasanya diderita para pembesar dan petinggi negeri ini. Sebab bau amis dari tubuh mereka sudah tak asing bagi sesama mereka. ”sebusuk apapun luka yang kau lihat, hiraukanlah, jangan kau berniat untuk mengobatinya!”&lt;br /&gt;”menutup borok adalah etika tertinggi di kampung ni!” begitu biasanya para tetua memperingatkan mereka yang terperangah atau termualkan oleh bau amis yang ada.&lt;br /&gt;Untuk membayar bau amis yang kau hirup, mereka kadang memberi lintingan tembakau atau sebutir permen loli.&lt;br /&gt;”Jangan kau tolak peberian ini meski murah, setidaknya dapat mengobati mualmu”&lt;br /&gt;aku pernah ditawari, beruntung aku membawa rokok di ransel, karena konon, menurut kawan-kawan yang pernah menyicip tembakau lintingan mereka, ”sekali hisap saja berkunanglah mata mu!” sedangkan lintingan tembakau itu tak cepat habis dalam sepuluh hisapan, maka dapat dibayangkan kau tak hanya akan berkunang-kunang kawan. kau akan berkunang berkunang dan berkunang sebanyak sepuluh kali.&lt;br /&gt;Permen lolinya pun punya aroma yang khas, dengan menghisapnya, kau akan ketagihan untuk menjulurkan lidah, menjilati bibir tebalmu sendiri. Hei... jangan salah kawan, permen loli ini konon berefek pada penebalan bibir, tak percaya?&gt;  kau pandanglah bibir penduduk sini, sebagian tebal sebagian lainnya menghitam dengan gigi kekuningan, tentu akibat tembakau yang membuat berkunang itu.&lt;br /&gt;para tetua, pembesar dan petinggi kampung ini berkantor di sebuah tenda besar berwarna jingga, dengan sekat lembaran-lembaran kain berbau amis diantara masing-masing ruangnya. Aku pernah bertanya mengapa sekat ruangan kantor ini berbau amis, tapi lagi-lagi juluran lidah dan pelototan mata yang kudapat, seorang kawan yang tak tega melihat ketakutanku berkata, ”pssst... jangan hiraukan bau amis yang ada!”&lt;br /&gt;”tapi ini mengganggu, kawan” bantahku, setengah berbisik.&lt;br /&gt;” kain-kain ini telah berjasa menutupi luka para tetua!”&lt;br /&gt;”so’?!”  tanyaku menggantung, betapa bingung aku! Mereka menyebut borok yang membusuk sebagai luka kecil yang perlu ditutupi?&lt;br /&gt;”ya kain-kain itu bekas pembalut luka para pembesar kampung, artistik kan? ” tanya kawanku,&lt;br /&gt;Seriuskah atau bercanda kau?” aku belum terlalu percaya padanya.&lt;br /&gt;”aku serius, kami adalah masyarakat yang menghargai sejarah!”&lt;br /&gt;Aku terhenyak. Penat dan mual melebur dalam senyum kecutku. Ya, getir,ketakutan, rasa jijik dan kelucuan membaur dalam benak.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Terik surya memperpengap suasana dalam tenda yang ”artistik” ini. Kali ini kata artistik itu bukan sebuah eupimisme belaka. Dari luar, tenda ini memang betul-betul artistik. Dengan warna jingga  berhiaskan totolan merah, sebagian menyerupai batik, sebagian lain mirip kaligrafi, di bagian dalam, totolan merah itu bercorak abstrak..&lt;br /&gt;Aku dipertemukan dengan tetua kampung, ”Kau yang berdagang sutra di tetajug1  kemarin?”&lt;br /&gt;” yupz, father!” jawabku penuh percaya diri, aku tahu sutra yang kubawa banyak diminati kaum muda di kampung ini, bukan tak mungkin pak tua ini juga tertarik.&lt;br /&gt;” kau tahu,, kampung ini bukanlah menara gading?!” tanyanya seperti berseru, dengan pelototan khas gaya kampung ini.&lt;br /&gt;” panggil dia bebaya!” bisik kawanku ditengahi cubitan halus.&lt;br /&gt;”maaf bebaya, bukankah kain sutra layak dipakai, saya hanya menawarkan”&lt;br /&gt;” Di kampung lain mungkin iya tapi kampung ini terbiasa dengan kesederhanaan, dan lagi kita dikelilingi kaum kumuh, kau lihat banyak pemulung di sekitar kampung?”&lt;br /&gt;Aku ingin melanjutkan peerdebatan, tapi bau amis dari mulutnya membuatku menyingkir dengan nyinyir.&lt;br /&gt;”baik, bebaya akan kusimpan kain sutra untuk sendiri saja”&lt;br /&gt;” ya dan jangan kau kenakan, sutra itu haram untuk para lelaki!”&lt;br /&gt;Ku lilirik lipatan sarungnya, cerah dan tampak halus.&lt;br /&gt;Tetua itu bergegas meninggalkanku, sibuk benar ruapanya ia.&lt;br /&gt;Sepeninggalnya, anyir tak menghilang dari hidungku, menahan mual, ku ludahi lantai bekasnya berdiri, ada ceceran darah di sana.&lt;br /&gt;Keluar dari tenda termegah di kampung itu, ku temui pimpinan pemuda kampung.&lt;br /&gt;Kanoman, demikian nama jabatan pemipin kaum muda di sana.&lt;br /&gt;Ia tidak bersarung, tapi celananya menggantung di atas mata kaki.&lt;br /&gt;Aku di bawa ke tenda berukuran sedang,  putih kainnya  seakan berpadu dengan warna kuning kecoklatan yang membias. ”warna putih tenda itu hampir pudar oleh nikotin dan tetesan permen loli yang mencair karna panas, kau lihatlah di bawah tikar, dibalik kain dan di belakang tenda ini!” temanku kembali menerangkan.&lt;br /&gt;Aku terdiam belum menvgerti. Sampai saat sang kanoman mempersilakanku memasuki tenda, kulihat lelinting tembakau dan puluhan loli di bawah tikar, ”silakan dicicipi!” sang kanoman sodorkan loli dan lintingan tembakau yang diambilnya dari dinding tenda bagian dalam. Ya tenda kain ini ternyata menyimpan loli dan tembakau!. ”tuan muda, kami senang dengan kehadiranmu, tetapi kelancanganmu menjual sutra, membuat sebagian kami muak”, sang kanoman membuka forum tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;Aku terhenyak mendengar sapaan tak ramah darinya. ”apa salah nanda, ketika ingin turut meringankan beban sesama di kampung ini? Bukankah sutra dapat mengobati luka, atau setidaknya menutupi bau menyengat dari tubuh penuh borok itu?” paparku menunduk lesu.&lt;br /&gt;” ah.. tau apa kau tuan muda?” uajr sang kanoman. ” kampung lami harum mewangi! Usah kau lihat borok yang ada, tapi lihat betapa indah kami menikmatinya. lebih baik, kau nikmati cerutu ini tuk hilangkan rasa mual yang mungkin kau rasa”. Teriaknya sambil sodorkan sebatang cerutu berisi tembakau khas kampung jingga.&lt;br /&gt;Ternyata, kampung ini memilih racun sebagai obat, kalian mual menghirup bau luka, tapi enggan mengakui borok yang ada.. malang nian saudaraku!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-7000032910568769867?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/7000032910568769867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=7000032910568769867&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7000032910568769867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/7000032910568769867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/sutra-di-kampung-penuh-luka.html' title='sutra di kampung penuh luka'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6UOyqNjWI/AAAAAAAAABc/k9EmjdE2v8Q/s72-c/hidup+di+pinggir+jurang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-5692664866014205618</id><published>2008-03-29T11:38:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T11:45:24.723-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi menulis'/><title type='text'>Literasi Banten saat ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6OOyqNjUI/AAAAAAAAABM/Yk7LSDWcXR8/s1600-h/ART2.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6OOyqNjUI/AAAAAAAAABM/Yk7LSDWcXR8/s200/ART2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183236605918154050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;M&lt;/span&gt;embaca dan menulis (literasi)  merupakan cerminan tingginya peradaban. Doktrin keagamaan dengan kitab sucinya, juga menekankan pentingnya tradisi literasi. Bahkan dalam Islam, tugas awal yang diemban Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Hal ini diperkuat dengan tradisi penulisan Al-Qur’an dan berbagai perangkat pendukungnya, seperti; hadist, tafsir, fiqh, tauhid dan tasawwuf juga diwariskan dengan jjalan literasi.&lt;br /&gt;Literasi pulalah yang mengantarkan Banten sebagai salah satu pusat peradaban di Nusantara. Keberadaan Syekh Nawawi  Al-Bantani yang dikenal produktif dalam menulis telah berjasa memperkuat icon Banten sebagai daerah yang berbasis  budaya akademis. Tak heran jika seorang Syekh yusuf Al-Makassari berkenan singgah dan turut serta membangun peradaban Banten pada era Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam catatan sejarah, masyarakat Banten telah mengenal beragam bentuk aksara pada kurun waktu 1500 -1800 Masehi. Dari berbagai naskah dan prasasti yang berasal dari kurun waktu yang sama, dapatlah diketahui masyarakat Banten telah menggunakan jenis huruf latin, Jawa dan Pegon, jenis huruf Arab yang disesuaikan dengan budaya jawa dan melayu, (Nina.H. Lubis, 2003; 122).&lt;br /&gt;Sayangnya, keruntuhan Kasultanan Banten seakan turut mengendapkan  nama Banten sebagai pusat peradaban, dan kemudian Banten lebih dikenal dengan ‘tradisi jawara’  ketimbang budaya akademis yang dibangun melalui tradisi menulis. Berbalik hampir seratus delapan puluh derajat dari tradisi leluhurnya, masyarakat terpelajar Banten saat ini, tidak sedikit yang masih gagap dalam menulis. Hal ini terbukti dengan selalu sepinya  event lomba karya tulis yang diadakan beberapa pihak, juga minimnya wacana tertulis yang ditelurkan para pelajar dan mahasiswa Banten. Padahal sejatinya,  teori tekhnis penulisan telah diajarkan sejak di sekolah dasar, lantas mengapa pelajar dan mahasiswa belum banyak yang mampu menelurkan wacananya dalam sebuah karya tulis?     &lt;br /&gt;Dua tahun  lalu, tradisi literasi juga sempat ramai dibicarakan lagi di media, seiring dengan berjalannya program “Banten Membaca” yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Banten. Program positif tersebut ditargetkan selesai tahun 2007 lalu. Jika Banten Membaca telah dianggap mencapai target di tahun lalu, bukankah tahun ini sudah saatnya Banten meningkat dalam tahap memasyarakatkan Budaya Menulis?&lt;br /&gt;dewasa ini para penulis lokal berhasil menggambarkan realitas lokal secara jujur, Moammar Emka, Andrea Hirata, dan mungkin akan banyak lagi para penulis yang berteriak tentang multikulturalisme dari sudut lokal. mampukah masyarakat Banten menerima tantangan ini ini?  semoga saja!&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-5692664866014205618?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/5692664866014205618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=5692664866014205618&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5692664866014205618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/5692664866014205618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/literasi-banten-saat-ini.html' title='Literasi Banten saat ini'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6OOyqNjUI/AAAAAAAAABM/Yk7LSDWcXR8/s72-c/ART2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-1670700859145781529</id><published>2008-03-29T11:33:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T11:37:23.031-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi berpikir'/><title type='text'>"Rindu Rasul", membuatku merindu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6MUyqNjTI/AAAAAAAAABE/_w751J4FRCM/s1600-h/10-5.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6MUyqNjTI/AAAAAAAAABE/_w751J4FRCM/s320/10-5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183234509974113586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;K&lt;/span&gt;emarin aku membaca salah satu bukunya Kang Jalal, berjudul 'Rindu rasul'. isinya sungguh mengahrukan dan Luarr Biasa..&lt;br /&gt;meski banyak muatan ideologi Syi'i didalamnya, tapi tak urung aku turut terhanyut untuk kembali mengagumi dan beranjak mencintai Sang Nabi, sungguh aku sampai menangis membacanya. betapa seorang Jalaluddin Rahmat yang -dari tulisan dan beberapa cerita tentang ceramahnya- dulu begitu gigih berjuang menolak tahayyul Bid'ah dan Churofat (TBC), kini malah berbalik 'membelanya'. aku teringat pamanku yang telah wafat, beliau juga seorang aktifiz pemud amuhammadiyah dan ikut tarekat, aku sempat bingung menyaksikan ini. tapi ternyata tak lama setelah bertarekat beliau meninggal. &lt;br /&gt;dan buku kang jalal ini nestinya dibaca oleh mereka yang 'pandai' dan terlalu berani menganggap pihak lain sesat.. &lt;br /&gt;andai aku tiggal di Bandung, ingin ku berguru pada kang Jalal, sayang aku hanya sempat bertemu beliau ketika berceramah di kampusku.. &lt;br /&gt;semoga beliau dipanjangkan usia dan aku sempat berguru kepadanya, kemudian, aku dapat mengikuti produktivitasya dalam menulis.. amin&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4618127211336296512-1670700859145781529?l=a-malikmughni.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/feeds/1670700859145781529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4618127211336296512&amp;postID=1670700859145781529&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1670700859145781529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4618127211336296512/posts/default/1670700859145781529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://a-malikmughni.blogspot.com/2008/03/rindu-rasul-membuatku-merindu.html' title='&quot;Rindu Rasul&quot;, membuatku merindu'/><author><name>Abdul Malik Mughni,</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/SPrhXOVajWI/AAAAAAAAAGk/7UnLtT5GA1g/S220/S6301545.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_adWHQ5D2ia8/R-6MUyqNjTI/AAAAAAAAABE/_w751J4FRCM/s72-c/10-5.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4618127211336296512.post-8526627027683260112</id><published>2008-03-29T11:27:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T11:32:30.499-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi islam'/><title type='text'>Ragam pola Islam Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span class="awal"&gt;I&lt;/span&gt;slam, bagi banyak orang Indonesia bukanlah hal yang asing di telinga. Meski lahir di tanah Arab (abad ke -6 sampai 7 lalu), Islam Indonesia memiliki identitas tersendiri. Bahkan, dalam berbagai catatan riset dan sejarah, islam yang baru dating di Nusantara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=4618127211336296512&amp;amp;postID=8526627027683260112#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; pad abad ke -14, populasi Ummat Islam Indonesia mencapai mayoritas tunggal. Lantas apakah identitas ‘khas’ Islam Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Dahlia Mogahed, periset dari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Gallup&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;, menilai Islam Indonesia adalah islam percontohan bagi kaum muslim di seluruh Dunia. Kemajemukan yang bertahan diwariskan berabad-abad di Nusantara, berhasil dipertahankan dan tidak punah, meski Islam menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;single majority&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; di Nusantara. Budaya toleransi terhadap kemajmeukan, demokrasi yang terbangun dengan baik (2007 lalu, Presiden SBY meraih penghargaan khusus dari PBB atas  keberhasilan demokratisasi di Indonesia), dan akulturasi budaya yang  terbangun di Nusantara, adalah bukti ramahnya Islam Indonesia. Inilah identitas yang membanggakan dari Islam Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Sayang, kebanggaan itu sempat tercoreng dengan kampanye terorisme yang didengungkan Amerika dan Negara-negara Eropa, berhasil menurunkan derajat Indonesia di mata Dunia. Tapi, benarkah krisis yang terjadi merupakan skenario global, apakah terorisme di Indonesia bagian dari agenda global untuk menghancurkan karakter Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Perlu pembahasan yang luas menjawab beragam pertanyaan tersebut. Dan akan muncul lebih banyak lagi pertanyaan ketika membahas Islam Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Baiknya, kita runut persoalan ini dari segi bahasa dan kontekstual.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Apakah  Islam itu? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Konon, Islam berasal dari kata &lt;i&gt;sallama&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;yusallimu tasliman&lt;/i&gt; yang bermakna perahu keselamatan, adapula yang berpendapat Islam berasal dari kata &lt;i&gt;aslama&lt;/i&gt; yang bermakna ketundukan, pakar lain berpendapat, Islam bermakna tangga, dan bergam pendapat lain tentang Islam dari segi bahasa, lantas pendapat mana yang benar?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Ya! Keragaman pendapat itu ternyata telah ada sejak munculnya kata Islam. Belum lagi, jika kita membahas elemen lain dalam Islam; Tauhid, Tafsir,  Fiqh; ubudiyyah, muammalah, jinayah, siyasah, dan lainya. Jika membahas lebih jauh, ternyata Al-Quran yang diagungkan pun penuh kontroversi didalamnya, realitas semacam ini kemudian memunculkan pertanyaan baru, apakah Islam merupakan kebenaran yang Mutlak? Saya pikir, tidak!    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Indonesia  dan percaturan politik global&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan, tidak pernah sepi dari perang kepentingan antar sesama yang ditu
